Dikotomi Pendidikan Islam dan Islamisasi Pengetahuan

0
1340

Dikotomi Pendidikan Islam dan Islamisasi Pengetahuan

(Studi Kritis Konsep Islamisasi Pengetahuan dalam Mengatasi Dikotomi Pendidikan Islam)

 

Oleh: M. Badrut Tamam

Disampaikan pada perkuliahan Filsafat Pendidikan Islam, Program Doktor (S3) UIN Raden Fatah Palembang

 

 

  1. Pendahuluan

Derasnya arus teknologi informasi tidak dapat kita pungkiri, telah menyebabkan terjadinya globalisasi ilmu dan budaya. Hal ini telah membawa perubahan yang amat dahsyat pada hampir semua sendi kehidupan ummat manusia, baik institusi-institusi sosial kemasyarakatan, kenegaraan maupun institusi-institusi lainnya, tak terkecuali instistusi pendidikan, tidak luput dari pengaruh arus globalisasi tersebut. Sebagai konsekuensinya, falsafah hidup, keprihatinan, pemikiran dan gagasan, pola tingkah laku dan mekanisme kerja semuanya ikut berubah. Dalam kondisi yang demikian, pendidikan Islam dituntut untuk mampu memainkan peranannya secara dinamis dan proaktif untuk menjawab tantangan arus modernisasi dan membendung degradasi moral umat Islam. Kehadirannya diharapkan mampu membawa perubahan dan kontribusi yang berarti.

Dalam perkembangannya, menurut Syafi’i Ma’arif, pendidikan Islam telah melahirkan dua pola pemikiran yang kontradiktif. Keduanya mengambil bentuk yang berbeda, baik pada aspek materi, sistem pendidikan, atau dalam bentuk kelembagaan sekalipun.[1] Dua model yang dimaksud adalah pendidikan Islam yang bercorak tradisionalis (ketimuran), yang dalam perkembangannya lebih menekankan aspek doktriner-normatif yang cenderung ekslusif-apologetis. Adapun model yang kedua adalah pendidikan Islam yang modernis (a la Barat) yang pada perkembagannya ditengarai mulai kehilangan ruh-ruh mendasarnya (transendental).

Munculnya dua model pendidikan tersebut, mengakibatkan terjadinya ambivalensi orientasi pendidikan Islam,[2] yang salah satu dampak negatifnya adalah adanya paradigma dualisme-dikotomis dalam sistem pendidikan[3] di Indonesia, terlebih lagi dalam sistem pendidikan Islam. Persoalan ini akan penulis paparkan dengan menguraikan paradigma dualisme-dikotomis dalam pendidikan serta upaya-upaya yang telah dilakukan dari problematika yang ditimbulkannya, dan terakhir persoalan ini akan coba di analisis dan diberikan tawaran solusi untuk keluar dari kemelut persoalan ini.

 

  1. Paradigma Dualisme-Dikotomis dalam Pendidikan Islam

Paradigma dualisme-dikotomis dalam sistem pendidikan Islam sebenarnya bukanlah merupakan persoalan baru di Indonesia. Persoalan ini sudah terlalu sering di bicarakan di berbagai forum diskusi, seminar, simposium dan lain sebagainya, baik dalam forum formal maupun non-formal, dalam skala kecil (forum terbatas) maupun dalam skala yang lebih luas (nasional). Bahkan permasalahan dikotomik ini bukan hanya melanda pendidikan Islam di Indonesia tapi sudah melanda seluruh negara muslim di seluruh dunia. Berbagai macam upaya sudah dilakukan para pakar pendidikan untuk mengatasi permasalahan ini, namun hingga sekarang, masih belum mendapatkan pangkal tolak pemecahannya.

Menurut Sanaky[4], akar sejarah munculnya pandangan dualisme pendidikan Islam, setidaknya bersumber dari: Pertama, pandangan formisme, artinya segala aspek kehidupan dipandang dengan sangat sederhana, yaitu segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan, dan kedua, berasal dari warisan penjajah kolonial Belanda.

Pandangan yang pertama melihat segala sesuatu dari sisi yang berlawanan seperti antara laki-laki-perempuan, kuat-lemah, tua-muda dan lain sebagainya. Pandangan ini kemudian dikembangkan dalam melihat dan memandang aspek kehidupan dunia dan akhirat serta kehidupan jasmani dan rohani. Dari sini, pandangan dikotomik ini juga mulai menyentuh ke bidang pendidikan sehingga akhirnya muncullah pandangan yang membedakan antara ilmu keakhiratan dan ilmu keduniaan dan kemudian yang pertama disebut ilmu pengetahuan agama dan kedua, ilmu pengetahuan umum, dimana kedua pandangan ini melembaga sebagai pendidikan Islam yang mengambil bentuk madrasah dan pondok pesantren dimana arah keilmuannya lebih ditekankan pada sisi religius dan orientasinya antara lain membentuk ahli agama (baca: ulama atau kyai) dan menjadikan ilmu-ilmu umum sebagai pelengkap. Sedangkan lainnya sebagai pendidikan umum yang mengambil bentuk sekolah umum (SD, SMP, SMA dsb.) yang lebih menitik beratkan pada ilmu duniawi (eksak dan sosial) dan menjadikan ilmu agama hanya sebagai pelengkap. Dengan adanya pemisahan bidang keilmuan tersebut akibatnya akan menimbulkan kepincangan dalam pelaksanaan pendidikan karena realitasnya kemudian ilmu-ilmu umum ini menjadi terabaikan dan bahkan tercampakkan dalam “Sekolah Agama” dan sebaliknya, ilmu agama pun akan terlupakan pada “Sekolah Umum”. Pendidikan Islam hanya “mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan mengajak manusia kembali kepada kehidupan mulia dengan menjunjung tinggi budi pekerti luhur.” Persoalan dunia dianggap kurang penting dan lebih menekankan sisi akhirat saja. Ilmu keagamaan dianggap jalan pintas untuk menuju kebahagiaan akhirat, sementara ilmu pengetahuan umum dianggap terpisah dari agama.[5] Dengan adanya pandangan yang demikian, akhirnya paham dualisme-dikotomis pun semakin mengakar dalam Pendidikan Islam.[6]

Pandangan yang kedua lebih melihat ke aspek sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Pada zaman kolonial, pemerintah Belanda telah melakukan pemisahan antara pendidikan “umum” di satu pihak dan pendidikan “agama” di pihak lain dalam praktik pendidikannya. Pemisahan ini mengakibatkan kerancuan dan kesenjangan pendidikan di Indonesia dengan segala akibat yang ditimbulkannya. Salah satu akibat negatif dari sistem pendidikan yang dikotomis tersebut, arti agama dipersempit ke dalam lapangan teologis yang bersifat normatif, doktriner dan absolutis semata, sehingga peserta didik diarahkan untuk memiliki sikap commitment dan dedikasi yang tinggi terhadap agama yang dipelajari.[7] Sekolah-sekolah agama pun terkotak dalam kubu tersendiri dan menjadi ekslusif. Sementara kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, dan analitis-kritis pun ditinggalkan.

Menurut Azyumardi Azra, pemahaman yang demikian itu muncul dikalangan umat Islam disebabkan mereka telah mengalami masa penjajahan yang sangat panjang, di mana umat Islam mengalami keterbelakangan dan disintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan terjadi pembenturan umat Islam dengan pendidikan dan kemajuan Barat yang memunculkan kaum intelektual baru yang sering juga disebut “cendikiawan sekuler”.[8] Sebagian besar kaum intelektual tersebut adalah “hasil pendidikan Barat, karena dalam proses pendidikannya, otak mereka telah dicuci (brain washing) dari hal-hal yang berbau Islam, akibatnya mereka menjadi terasing dari ajaran-ajaran Islam dan masyarakat Muslim sendiri. Bahkan terjadi gap antara kaum intelektual baru (sekuler) dengan intelektual lama (ulama).[9] Yang akhirnya berimplikasi terhadap pendidikan Islam, dan itu terus berlangsung hingga saat sekarang ini.

Melihat kondisi yang demikian, maka, menurut Syafi’i Ma’arif, konsep dualisme-dikotomis tersebut harus ditumbangkan secara mendasar.[10] Sebab pengaruhnya tidak saja berakibat pada rapuhnya sistem pendidikan Islam an sich, tetapi juga menjadi masalah dakwah Islam dan pembangunan kehidupan umat yang Islami sebagai peradaban alternatif.

Jika demikian jauh dan membahayakannya pengaruh paradigma dikotomis dalam pendidikan Islam, maka sudah seharusnya kita memberikan perhatian yang lebih serius terhadap permasalahan ini.

 

  1. Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Berdasarkan uraian sebelumnya, terlihat jelas dan nyata dampak yang diakibatkan oleh persoalan dualisme-dikotomis dalam sistem pendidikan Islam. Berbagai cara dan upaya pun telah dilakukan oleh para ahli untuk mengatasi problematika tersebut. Persoalan ini telah menjadi persoalan global yang telah melanda seluruh sitem pendidikan Islam di dunia. Salah satu solusi yang ditawarkan dan sempat menjadi sangat popular serta masih menjadi pembicaraan hangat hingga saat ini adalah ide tentang “Islamisasi ilmu pengetahuan”[11] yang di usung oleh Ismail Razi al-Faruqi dkk.

Menurut AI-Faruqi dalam bukunya Budi Handrianto; menyebutkan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan (Islamization of knowladge) merupakan usaha untuk mengacukan kembali ilmu, yaitu untuk mendefenisikan kembali, menyusun ulang data, memikir kembali argument dan rasionalisasi, menilai kembali tujuan dan melakukannya secara yang membolehkan disiplin itu memperkaya visi dan perjuangan Islam. Islamisasi ilmu juga merupakan sebagai usaha yaitu memberikan defenisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita) Islam. [12]

Islamisasi pengetahuan kata al-Faruqi adalah solusi terhadap dualisme sistem pendidikan kaum Muslimin saat ini. Baginyan dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan paradigm Islam. Paradigma tersebut bukan imitasi dari Barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomis dan pragmatis pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau pencapaian materi. Namun, paradigma tersebut bukan diisi dengan sebuah misi, yang tidak lain adalah menanamkan, menancapkan serta merealisasikan visi Islam dalam ruang dan waktu.

Dapat disimpulkan bahwa mengIslamkan ilmu pengetahuan modren adalah dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, dalam strateginya, dalam apa yang dikatakan sebagai data-datanya, dan problem-problemnya.

Al-faruqi adalah orang yang pertama menggagas Islamisasi ilmu pengetahuan. Ketajaman intelektual dan semangat kritik ilmiyahnya, membawa ia sampai kepada kesimpulan bahwa ilmu-ilmu sosial model barat menunjukkan kelemahan metodologi yang cukup mendasar, terutama bila diterapkan untuk memahami kenyataan kehidupan sosial umat Islam yang memiliki pandangan hidup yang sangat berbeda dari masyarakat Barat. Untuk mencapai tujuan al-Faruqi mendirikan Himpunan Ilmu Sosial Muslim (The Asociation of Muslim Social Scientists-AMSS) pada tahun 1972 dan sekaligus menjadi presidennya yang pertama hingga 1918, melalui lembaga ini ia berharap bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan terwujud.[13]

Setelah menyampaikan ide Islamisasinya pada tahun 1981, al-Faruqi langsung mendirikan sebuah lembaga penelitian khusus untuk mengembangkan gagasan-gagasannya tentang proyek Islamisasi, yaitu International Institute of Islamic Though (IIIT), merupakan lembaga internasional untuk pemikiran Islam, yang penyelenggaranya adalah AMSS sendiri.

Sedangkan Syed M. Naquib al-Attas secara teoritis dan ideologis, mendefenisikan islamisasi ilmu pengetahuan sebagai: pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belengu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya.[14]

Menurut al-Attas ini, islamisasi ilmu pengetahuan terkait erat dengan pembebasan manusia dari tujuan-tujuan hidup yang bersifat dunyawi semata, dan mendorong manusia untuk melakukan semua aktivitas yang tidak terlepas dari tujuan ukhrawi. Bagi al-Attas, pemisahan dunia dan akhirat dalam semua aktivitas manusia tidak bisa diterima. Karena semua yang kita lakukan di dunia ini akan selalu terkait dengan kehidupan kita di akhirat.

 

Langkah-langkah Islamisasi

Pandangan al-Faruqi berkenaan dengan langkah-langkah dalam Islamisasi ilmu pengetahuan, dia mengemukakan ide Islamisasi ilmunya berlandaskan pada esensi tauhid yang memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan harus mempunyai kebenarannya. Al-Faruqi menggariskan beberapa prinsip dalam pandangan Islam sebagai kerangka pemikiran metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip-prinsip tersebut ialah:

  1. Keesaan Allah.
  2. Kesatuan alam semesta.
  3. Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan.

Menurut al-Faruqi, kebenaran wahyu dan kebenaran akal itu tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan keduanya saling melengkapi. Karena bagaimanapun, kepercayaan terhadap agama yang di topang oleh wahyu merupakan pemberian dari Allah dan akal juga merupakan pemberian dari Allah yang diciptakan untuk mencari kebenaran.[15]

Bagi al-Faruqi Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh para ilmuan muslim. Karena menurutnya apa yang telah berkembang di dunia Barat dan merasuki dunia Islam saat ini sangatlah tidak cocok untuk umat Islam. Ia melihat bahwa ilmu sosial Barat tidak sempurna dan karena itu tidak berguna sebagai model untuk pengkaji dari kalangan muslim, yang ketiga menunjukan ilmu sosial Barat melanggar salah satu syarat krusial dari metodologi Islam yaitu kesatuan kebenaran. Dan menurutnya ilmu sosial tidak boleh diintimidasi oleh ilmu-ilmu alam, tepatnya dalam skema yang utuh pengetahuan manusia adalah satu dan sama. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam bermakna menemukan dan memahami sunnatullah. Islamisasi ilmu-ilmu sosial harus berusaha keras menunjukkan hubungan realitas yang ditelaah dengan aspek atau bagian dari sunnatullah.[16]

Sedangkan menurut al-Attas Islamisasi ilmu pengetahuan saat ini melibatkan dua proses yang saling terkait:

  1. Mengisolir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat, dan setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun ilmu-ilmu alam, fisika dan aplikasi harus diIslamkan juga khususnya dalam penafsiran-penafsiran akan fakta-fakta dan formulasi teori-teori. Menurut al-Attas jika tidak sesuai dengan pandangan hidup Islam, maka fakta menjadi tidak benar. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, symbol dan ilmu modern beserta aspek-aspek empiris dan rasional dan yang berdampak kepada nilai dan etika.
  2. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dan ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Jika kedua proses tersebut selesai dilakukan, maka Islamisasi akan membebaskan manusia` dan magic, mitologi, animism, tradisi budaya nasional yang bertentangan dengan Islam. Islamisasi akan membebaskan manusia dan keraguan (syakk), dugaan (zann) dan argumentasi kosong (mira`) menuju keyakinan akan kebenaran mengenai realitas spiritual, intelligible dan materi. Islamisasi akan mengeluarkan penafsiran-penafsiran ilmu pengetahuan kontemporer dan ideologi, makna dan ungkapan sekuler. [17]

 

  1. Islamisasi Pengetahuan dalam Polemik

Diskursus seputar Islamisasi ilmu pengetahuan ini telah begitu lama menebarkan perdebatan penuh kontroversi di kalangan umat Islam. Semenjak dicanangkannya sekitar 30 tahun yang lalu, berbagai sikap baik yang pro maupun yang kontra terus bermunculan. Satu pihak dengan penuh antusias dan optimisme menyambut momentum ini sebagai awal revivalisme (kebangkitan) Islam. Namun di pihak lain menganggap bahwa gerakan “Islamisasi” hanya sebuah euphoria sesaat untuk mengobati “sakit hati” dan inferiority complex karena ketertinggalan mereka yang sangat jauh dari peradaban Barat, sehingga gerakan ini hanya membuang-buang waktu dan tenaga dan akan semakin melemah seiring perjalanan waktu dengan sendirinya.

Pemikiran al-Faruqi dan al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan menimbulkan pro dan kontra dikalangan ilmuan muslim. Meskipun demikian dalam hal ini mereka banyak memperoleh pengikut di berbagai Negara. Untuk mempublikasikan dan menyebarkan pemikirannya seperti al-Faruqi mendirikan the association of muslim social.[18] Sedangkan al-Attas dalam menggagas ide islmisasinya dia mendirikan sebuah institutsi pendidikan yang prestius yaitu International Instituse of Islamic Thogth and Civilization, yang dikenal dengan singkatan ISTAC.

Dalam berbagai pergolakan  keilmuan selalu ada penerimaan dan penolakan (pro-kontra) dan hal inilah yang terjadi dalam gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan, banyak alasan yang dipaparkan oleh mereka yang kontra, begitu juga bagi yang pro berbagai alasan di ketengahkannya untuk mendukung hal pembenaran atas konsep mereka. Adapun alasan dari masing-masing tersebut sebagai berikut :

Tokoh pemikir Islam yang menolak gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan salah satunya adalah Muhammad Arkoun, Guru besar Universitas Sorbonne Prancis, mengatakan bahwa keinginan dari para cendikiawan muslim untuk  melakukan Islamisasi ilmu dan teknologi merupakan kesalahan, sebab hal ini dapat menjebak kita pada pendekatan yang menggap bahwa Islam hanya semata-mata sebagai ideologi. Yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menciplak karya orang.

Sedangkan di Indonesia salah satu tokoh yang tidak sejalan dengan gagasan ini yaitu Usep Fathuddin, yang mengatakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan tidak perlu, karena dengan Islamisasi bukanlah kerja ilmiah dan kreatif, karena yang dibutuhkan sekarang adalah terlebih-lebih lagi bagai para cendikiawannya adalah menguasai dan mengembangkan ilmu. Islamisasi ilmu pengetahuan hanyalah kerja kreatif atas karya orang lain saja, sampai tingkat tertentu, dan hal itu tak ubahnya sebagai pekerja jalanan di pinggir jalan, manakalah orang ilmuan berhasil menciptakan atau mengembangkan ilmu, maka orang Islam (sebagian) akan mencoba menangkap dan berusaha mengIslamkannya.

Lebih lanjut Usep Fathuddin memberi komentar, bahwa seorang tukang yang sangat ahli, barangkali akan mampu mengubah sesuatu sehingga berbeda dengan watak aslinya, atau berbeda paradigmanya. Tapi kalau tukang yang kurang ahli, barangkali hanya cukup dengan mengalungkan label. Islamisasi ilmu pengetahuan tidak ubahnya seperti pembuat label, seperti  membuat kaligrafi pada suatu bangunan, supaya dikatakan bangunan Islami, lebih lanjut dijelaskan bahwa semangat Islamisasi ilmu pengetahuan itu didasari  satu anggapan tentang keilmuan dan Islam, klaim yang paling sering kita  dengar ialah adanya dua kebenaran di dunia ini, kebenaran ilmu dan kebenaran agama. Ilmu dikatakan sebagai relatif, spekulatif dan tak pasti, semantara agama dianggap absolute, transcendental dan pasti. Tapi kalau kita lihat sejarah, ternyata Islam tidak menganal permasalahan antara “keagamaan” dan “ilmu”. Bahkan sebaliknya, sering dianggap puncaknya sejarah dan perdaban Islam, justru terjadi ketika menyatukan keagamaan dan ilmu itu.[19]

Selanjutnya yang kontra terhadap ide Islamsasi ilmu pengetahuan ini adalah Fazlur Rahman, kritik Rahman diarahkan kepada beberapa konsep Islamisasi sains yang kurang memahami tradisi intelektual Islam masa lampau. Rahman juga mengkritik rencangan sistematis al-Faruqi mengenai langkah-langkah Islamisasi ilmu pengetahuan yang dianggapnya terlalu mekanistis. Dalam sejarah Islam sendiri, para ilmuan muslim banyak menyerap unsur-unsur baru dari peradaban non-Islam. Menurut Fazlur Rahman ilmu pengetahuan tidak perlu disilamkan, karena tidak ada yang salah di dalam ilmu pengetahuan. Masalahnya hanya dalam menyalahgunakan, ia menyatakan ilmu pengetahuan akan tergantung kepada cara menggunaannya.[20]

Kritikan berikutnya datang dari Pervez Hoodbhoy, kritiknya mirip dengan pandangan para instrumentalis bahwa tujuan agama adalah meningkatkan moralitas, dan bukan menyatakan fakta-fakta ilmiah secara spesifik. Ia juga mengatakan bahwa usaha Islamisasi sains itu tidak mungkin dan setiap upaya untuk membangunnya merupakan usaha mubazzir. Selanjutnya dia juga mengajukan data-data historis bahwa; ketika masalah keyakinan religius dibawa-bawa dalam praktek ilmu pengetahuan, maka yang kerap terjadi adalah eksekusi ilmuan oleh kaum agamawan ortodoks, yang dikhawatirkan justru menghambat perkembangan ilmu pengetahuan, sebagaimana telah terjadi dalam sejarah Kristen maupun dalam sejarah Islam yang lebih awal.[21]

Selanjutnya adalah Abdus Salam yang merupakan orang yang mengkritik Islamisasi sains, sebagaimana argumennya yang menyatakan bahwa; hanya ada satu sains universal, problem-problemnya dan bentuk-bentuknya adalah internasional dan tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen.[22]

Kritikan terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan juga diajukan oleh Abdul Karim Sorush. Ia menyimpulkan Islamisasi ilmu pengetahuan adalah tidak mungkin atau tidak logis, alasannya; realitas bukan Islami atau bukan pula tidak Islami. Para filosof terdahulu tidak pernah menggunakan istilah filsafat Islam. Mengelaborasi ringkas argumentasinya, Abdul Karim Sorush menyatakan bahwa; jawaban-jawaban yang benar tidak bisa diIslamkan, kebenaran adalah kebenaran, dan kebenaran tidak bisa diIslamkan, pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diajukan adalah mencari kebenaran sekalipun diajukan oleh non muslim.[23]

 

 

  1. Islamisasi Pengetahuan untuk Mengatasi Dikotomi Pendidikan Islam, Mungkinkah?

Terlepas dari pro-kontra di atas, gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan ini sudah berjalan lebih dari 30 tahun sejak dicanangkannya. Sudah cukup banyak hasil dalam bentuk tulisan yang dilahirkan. Tanpa bermaksud untuk mengatakannya Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai sebuah proses yang “gagal”. Namun hingga saat ini, hasil konkrit dari upaya ini belum dirasakan. Sedangkan dari penentang ide Islamisasi pun, hingga saat ini belum memberikan ide yang konkrit sebagai jalan keluar dari problematika dualisme-dikotomis ini.

Saat ini, menurut Rosnani Hamim, stamina bagi Islamisasi ilmu pengetahuan telah berada pada tingkat yang sangat rendah. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, ketiadaan pemimpin yang mempunyai visi pengislaman ilmu pengetahuan. Kedua, peristiwa 11 September telah memberikan dampak terhadap institusi pendidikan Islam yang kini dipantau oleh Amerika Serikat sebagai upaya memberantas “terorisme”. Ketiga, tidak terdapatnya strategi jangka panjang dan jangka pendek yang dirancang institusi berkenaan untuk memahamkan warganya dari segi falsafah Islamisasi ilmu dan juga penggarapan penggarapan falsafah ilmu warisan Islam dan Barat. Keempat, lemahnya intelektual muslim dari segi falsafah-metafisik, epistemologi, nilai, maupun dari segi tasawwur. Kelima, kesibukan intelektual muda membuat penyelidikan empirikal demi kemajuan proyek ini, sehingga waktu mereka sepenuhnya diberikan kepada usaha riset tanpa meninggalkan ruang untuk pemikiran tinggi. Terakhir, kurangnya keyakinan dari sejumlah besar warga akademik terhadap misi ini.[24]

 

Kebingungan Lembaga Pendidikan Islam dalam Kemelut Dikotomi Pendidikan

Selain gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan di atas, di Indonesia sendiri telah ada beberapa usaha yang dilakukan sebagai upaya untuk keluar dari dualisme sistem pendidikan yang di format dalam bentuk kelembagaan. Madrasah, adalah salah satunya.

Madrasah sebagai salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam yang memiliki sejarah cukup panjang.[25] Pada mulanya ilmu-ilmu yang diajarkan hanya berkisar sekitar ilmu-ilmu agama (al-ulum al-diniyyah), dengan penekanan pada ilmu fiqh, tafsir dan hadits. Sedangkan ilmu-ilmu “ke-duniaan” (al-ulum al-dunyawiyyah), seperti ilmu alam dan eksakta sebagai pengembangan sains dan teknologi tidak mendapat tempat.[26]

Karena posisi madrasah yang menaruh jarak dengan sains modern dan membatasi diri pada ilmu-ilmu agama agaknya mengancam eksistensinya. Meskipun demikian, jika dilakukan penyesuaian dengan kecenderungan pendidikan modern, madrasah masih tetap dituntut untuk menampilkan cirinya sendiri yang memperhatikan ilmu agama secara lebih professional. Akhirnya, madrasahpun berada dalam posisi tarik menarik antara keharusan mengajarkan ilmu-ilmu agama secara moderen di satu pihak dan mengembangkan pengajaran ilmu-ilmu non-keagamaan di pihak lainnya. Jika madrasah terlalu konservatif akan mendorong lembaga itu terasing dan bahkan lenyap dari perkembangan modern. Sebaliknya, jika bersikap terlalu akomodatif terhadap kecenderungan pendidikan modern (sekuler), akan menjerumuskan madrasah ke dalam sistem pendidikan yang lepas dari nilai-nilai keislaman.[27]

Melalui SKB 3 Menteri, banyak mata pelajaran umu diberikan di madrasah, setingkat dengan apa yang diberikan di sekolah umum. Oleh karena itu, diharapkan dualisme pendidikan dan dikotomi pengetahuan (ilmu agama dan non agama) secara bertahap dapat terkikis dan pelaksanaannya dapat merubah pandangan banyak kalangan yang keliru. Lembaga pendidikan Islam tidak hanya memberikan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan akhirat, tetapi juga ilmu-ilmu untuk mengapai kesejahteraan hidup di dunia ini.[28]

Namun dalam perkembangannya, perjalanan madrasah tidak berjalan mulus seperti yang diinginkan. Karena ternyata, out put yang dihasilkan oleh madrasah tidak mempunyai kejelasan di segala sisi, baik kualitas, medan kiprah maupun arah dan tujuan jangka panjang dalam globalisasi di segala bidang.[29] Madrasah hanya menghasilkan lulusan yang serba tanggung di segala bidang, baik dalam bidang umum maupun agama, sehingga kalah bersaing dengan lulusan dari lembaga pendidikan lainnya.

Selain madrasah, pada level yang lebih tinggi saat ini juga digagas usaha untuk mengatasi problematika dualisme-dikotomis dalam sistem pendidikan. Gagasan awal yang muncul pada dekade 1990-an yaitu pemikiran untuk menjadikan IAIN sebagai pusat keunggulan studi keislaman yang direspon dengan pendirian pusat-pusat studi unggulan di IAIN. Kemudian muncul lagi gagasan dalam skala yang lebih besar yaitu mengembangkan IAIN menjadi Universitas Islam Negri (UIN). Ini berkaitan dengan isu perlunya Islamisasi ilmu pengetahuan dalam rangka menutupi kehampaan mental dan spiritual dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan menjadi universitas, kemungkinan pengembangan disiplin-disiplin umum dapat dilakukan dan dipadukan dengan tradisi kajian Islam yang sudah berkembang. Gagasan ini juga menolong IAIN dari keterasingan yang lebih jauh dalam tata pergaulan perguruan tinggi. Dengan hanya membatas pada kajian-kajian keislaman, sementara tidak mampu mengemasnya dalam pendekatan holistik, IAIN akan nampak menjadi perguruan tinggi yang ekslusif.[30]

Ditandatanganinya MoU antara Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama menandai babak baru dalam pendidikan Islam. Beberapa perguruan tinggi Islam pun akhirnya berubah status menjadi universitas, jurusan-jurusan baru dalam bidang pengetahuan umum dibuka. Hal ini menandai berakhirnya era dualisme-dikotomis dalam pendidikan Islam pada satu sisi. Akan tetapi di sisi lainnya malah semakin mengokohkan problematika dualisme dikotomis itu sendiri. Jurusan baru dalam bidang-bidang non-agama tidak lebih hanya merupakan penambahan silabus “pendidikan umum” dan pelajaran umum dalam lembaga pendidikan agama, karena masing-masing mata pelajaran sesuai dengan kategori keilmuan, berakar pada lingkungan budaya, ideologis, nilai, keyakinan dan epistemologis yang sama sekali berbeda secara diametris dan sangat sulit untuk bersatu atau dipertemukan. Bukan hanya itu, dari segi kelembagaan sendiri sudah terlihat dikotomi yang nyata, di mana jurusan-jurusan agama berlindung di bawah Departemen Agama sedangkan jurusan-jurusan umum berlindung di bawah payung Departemen Pendidikan Nasional.

Upaya integrasi kedua sistem ilmu (ilmu agama dan ilmu umum) bisa jadi malah menambah persoalan lembaga pendidikan Islam semakin ruwet. Karena, hingga saat ini, menurut Mulkhan[31], belum tersusun sebuah konsep ilmu integral ilmiah yang mampu mengatasi dikotomi ilmu umum dan ilmu agama itu sendiri. Dan jika tetap dipaksakan, bisa saja mengakibatkan ambivalensi pada peserta didik yang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwanya. Selain integrasi tersebut semakin menambah berat beban peserta didik, akibat lebih lanjut adalah pengembangan kemampuan peserta didik dalam menguasai ilmu akan terkesan lebih lambat dan hasil belajar pun cenderung rendah. Akhirnya, out-put yang dihasilkan lembaga pendidikan Islam akan dipandang “rendah” dan kualitasnya dianggap di bawah lembaga-lembaga pendidikan non keislaman.

 

 

  1. Kesimpulan

“Kegagalan” Islamisasi Ilmu Pengetahuan dalam Mengatasi Dikotomi Pendidikan

Mencermati pemikir-pemikir muslim yang menolak gagasan Islamisasi pengetahuan, tampaknya benar bahwa ilmu pengetahuan bersifat universal dan tidak perlu diislamisasi. Usaha-usaha islamisasi ilmu pengetahuan seperti hanya membuang-buang energy yang luarbiasa besar dan akan semakin menegaskan bahwa Islam tidak mengenal ilmu pengetahuan modern, sehingga perlu untuk diislamisasi.

Dari apa yang penulis kutip di atas, usaha-usaha islamisasi pengetahuan dalam mengatasi dikotomi pendidikan di Indonesia saja terbentur dengan berbagai hal prinsip yang benar-benar rumit dan nyaris mustahil untuk diatasi. Hal ini bisa dilihat dari upaya Madrasah “mengislamisasi” ilmu pengetahuan “umum.” Yang terjadi hanyalah memasukkan pelajaran-pelajaran umum ke dalam kurikulum pendidikan. Pengetahuan umum ini tetap saja membentuk jarak yang sangat lebar dengan pelajaran-pelajaran agama yang telah mapan sebelumnya di kurikulum Madrasah.

Demikian juga di IAIN yang kemudian bertransformasi menjadi UIN. Jurusan baru dalam bidang-bidang non-agama tidak lebih hanya merupakan penambahan silabus “pendidikan umum” dan pelajaran umum dalam lembaga pendidikan agama, karena masing-masing mata pelajaran sesuai dengan kategori keilmuan, berakar pada lingkungan budaya, ideologis, nilai, keyakinan dan epistemologis yang sama sekali berbeda secara diametris dan sangat sulit untuk bersatu atau dipertemukan. Era dualisme-dikotomis dalam pendidikan Islam diharapkan berakhir, akan tetapi yang terjadi malah semakin mengokohkan problematika dualisme dikotomis itu sendiri.

Menyelesaikan persoalan dikotomi pendidikan Islam dan pengetahuan ini adalah dengan menghilangkan anggapan bahwa Islam mengenal ilmu agama dan ilmu umum juga menghilangkan anggapan bahwa ilmu umum dikembangkan Barat yang “haram” untuk diadopsi sehingga perlu diislamisasi. Terjadilah semacam “kepanikan spiritual” dalam menghadapi perkembangan sains Barat.

Dalam kondisi kepanikan spiritual itu,strategi pendidikan Islam yang dikembangkan diseluruh dunia Islam secara universal bersifat mekanis. Akibatnya munculah golongan yang menolak segala apa yang berbau Barat, bahkan adapula yang mengharamkan pengambil alihan ilmu dan teknologinya. Sehingga apabila kondisi ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kemunduran umat Islam.

Menurut Rahman, ada beberapa hal yang haruh dilakukan:

Pertama, tujuan pendidikanIslam yang bersifat desentif dan cenderung berorientasi hanya kepada kehidupan akhirat tersebut harus segera diubah. Tujuan pendidikan islam harus berorientasi kepada klehidupan dunia dan akhirat sekaligus serta bersumber pada AL-Qur’an. Menurutnya bahwa :

Tujuan pendidikan dalam pandangan AL-Qur’an adalah untuk mengembangkan kemampuan inti manusia dengan cara yang sedemikian rupa sehingga ilmu pengetahuan yang diperolehnya akan menyatu dengan kepribadian kreatifnya.

 

Kedua, beban psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat harus segera dihilangkan. Untuk menghilangkan beban psikologis umat Islam tersebut, Rahman menganjurkan supaya dilakukan kajian Islam yang menyeluruh secara historis dan sistimatis mengenai perkembangan disiplin-disiplin ilmu Islam seperti teologi, hukum, etika, hadis ilmu-ilmu sosial, dan filsafat, dengan berpegang kepada AL-Qur’an sebagai penilai. Sebab disiplin ilmu-ilmu Islam yang telah berkembang dalam sejarah itulah yang memberikan kontiunitas kepada wujud intelektual dan spiritual masyarakat Muslim. Sehingga melalui upaya ini diharapkan dapat menghilangkan beban psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat.

Ketiga, sikap negatif umat Islam terhadap ilmu pengetahuan juga harus dirubah. Sebab menurut Rahmah, ilmu pengetahuan tidak ada yang salah, yang salah adalah penggunanya. Ilmu tentang atom misalnya, telah ditemukan saintis Barat, namun sebelum mereka memanfaatkan tenaga listrik dari penemuan itu (yang dimaksud memanfaatkan energi hasil reaksi inti yang dapat ditransformasikan menjadi energi listrik) atau menggunakannya buat hal-hal yang berbguna, mereka menciptakan bom atom. Kini pembuatan bom atom masih terus dilakukan bahkan dijadikan sebagai ajang perlombaan. Para saintis kemudian dengan cemas mencari jalan untuk menghentikan pembuatan senjata dahsyat itu.

Rahman juga menyatakan bahwa di dalam Al-Qur’an kata al-ilm (ilmu pengetahuan) digunakan untuk semua jenis ilmu pengetahuan. Contohnya, ketika Allah mengajarkan bagaimana Daud membuat baju perang, itu juga al-’ilm. Bahkan sihir (sihr), sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Harut dan Marut kepada manusia, itu juga merupakan salah satu jenis al-’ilm meskipun jelek dalam arti praktek dan pemakaiannya. Sebab banyak yang menyalahgunakan sihir itu untuk memisahkan suami dari istrinya. Begitu pula hal-hal yang memberi wawasan baru pada akal termasul al-’ilm.[32]

Disiplin ilmu yang telah mapan dan memang benar-benar terkorelasi erat dengan sumber hukum Islam (Al-Qur’an dan sunnah) terutama tentang keyakinan, ibadah dan sosial, memang seharusnya dikembangkan hanya berdasarkan wahyu dan sunnah.

Ilmu-ilmu sosialpun masih diperdebatkan apakah perlu diislamisasi, apalagi dalam ilmu-ilmu eksakta, kebanyakan para ilmuan islam kalau tidak salah malah seluruhnya tentu menolaknya, karena ilmu-ilmu eksakta bebas nilai dan baku. Paling hanya penggunaannya yang dikaitkan dengan Islam dan ini sangat memungkinkan, karena dalam tahap rekayasa.

Dalam tahapan rekayasa ini memang ada peluang untuk memasukkan nilai-nilai islam, seperti ketika seorang dikter muslim akan menyuntik pasien; dia terlebih dahulu membaca bismillah, atau sebuah team dokter muslim yang akan melakukan operasi lalu diawali dengan do’a bersama.

Dengan begitu nilai-nilai agama lain juga dapat dimasukkan dengan cara yang relatif sama. Tetapi tentang jenis obat apa yang harus dipakai untuk mengobati penyakit tertentu, tentu tidak ada ruang bagi islamisasi pengetahuan. Dalam hal ini kaidah-kaidah ilmu murni yang dipakai pertimbangan dalam memutuskan.

Sekedar untuk diketahui, pada saat mengomentari upaya islamisasi pengetahuan tersebut Mohammed Arkoun mengatakan, bahwa usaha yang bertujuan menjadikan agama suatu ilmu malah mengubah ilmu menjadi agama. Kekhawatiran ini bisa menjadi kenyataan dikalangan umat islam. Pada tahap awal, seorang berusaha merumuskan teori-teori pengetahuan berdasarkan wahyu yang bersifat normatif. Namun, teori tersebut dianggap saklar, suci, benar mutlak dan sejenisnya. Padahal sebagai teori pengetahuan tidak lepas dari kontribusi para ilmuan yang bisa benar atau sebaliknya salah. Implikasinya bisa semakin fatal ketika teori tersebut diangap saklar, padahal ternyata harus menyerah dihadapan teori lain dari pemikiran manusia yang lebih valid kebenarannya. Apakah tidak malah akan menjeebak umat islam dalam keraguan terhadap ”kebenaran agamanya”, jika terjadi kasus tersebut. Inilah sesungguhnya bahaya islamisasi pengetahuan yang dirasakan para penenntangnya terutama Arkoun.

Lantaran kekhawatiran inilah, Arkoun lebih tertarik pada strategi mengubah cara berfikir yang efektif. Dia menegaskan, bahwa kita harus berfikir secara baru, dengan bahan-bahan yang baru pula. Sedangkan Fazlur Rahman menyarankan agar kita tidak usah terpikat untuk membuat peta-peta dan bagan-bagan mengenai cara menciphtakan ilmu islami. Marilah kita investasikan waktu, energi dan uang untuk menciptakan, bukan proposisi-proposisi, melainkan pikiran-pikiran.

Sifat universal sains menegaskan tentang kemustahilan melakukan islamisasi ilmu, sebagimana yang dikemukakan Abdus Salam. Hanya ada satu sains internasional, problem-problemnya dan bentuk-bentuknya adalah internasional dan tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen.

 

 

 

 

 

 

 

 

Fazlur Rahman, 1982, Islam and Modernity ; Transformation An Intellectual Tradition, Chicago : University of Chicago Press

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Munir Mulkan, Nalar Spiritualis Pendidikan Islam: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002)

 

A.M. Saifuddin, Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1998)

 

A.Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan,1994)

 

Gema, Tabloid Dwibulanan Universitas Islam Negeri Malang, Edisi 16 Nopember-Desember 2004

 

Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2003)

 

Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan di Perguruan Tinggi: Konsep Pendidikan Tinggi yang Dikembangkan Universitas Islam Negeri (UIN) Malang (Malang: UIN-Malang Press, 2005)

 

Islamia, Thn II No.6/Juli-September 2005

 

Isma’il Razi al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Pustaka, 1984)

 

Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)

 

Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Jogjakarta: IRCiSoD, 2004)

 

Logos, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.4, No.1 Januari 2005

 

Muslih Usa (ed.), Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Ilmu, 1991)

 

M.Zainuddin, Filsafat Ilmu: Persfektif Pemikiran Islam (Malang: Bayu Media, 2003)

 

  1. Zainuddin dan M.In’am Esha (ed.), Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global (Malang: UIN Press, 2004)

 

Tarbiyah, No.41,Tahun XIII, Januari-Maret 1996

 

 

 

 

[1]A. Syafi’I Ma’arif dalam Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Jogjakarta: IRCiSoD, 2004), 6.

[1]A.M. Saifuddin, Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1998), 103.

[1]Moh. Shofan, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dalam Logos, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.4, No.1 Januari 2005.

[1]Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2003), 97-98.

[1]Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 39.

[1]A.Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan,1994), 151.

[1] Isma’il Raji al-Faruqi. Islamisasi Pengetahuan, Cet ke-3, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003), hlm. 38-39.

[1] Harun Nasution. Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Dzambatan, 1992)

[1] Budi Handrianto. Islamisasi Sains Sebuah Upaya MengIslamkan Sains Barat Modren, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010)

[1] Abu Bakar A. Bagader, Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial, (Yogyakarta: CV.Bayu Grafika Offset, 1989)

[1] Muhaimin & Abdul Mujib. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993)

[1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 406-408.

Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)

[1]Muslih Usa (ed.), Pengantar, dalam Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Ilmu, 1991)

[1]Husni Rahim, UIN dan Tantangan Meretas Dikhotomi Keilmuan, dalam M. Zainuddin dan M.In’am Esha (ed.), Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global (Malang: UIN Press, 2004)

[1]Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritualis Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002)

[1] Fazlur Rahman, 1982, Islam and Modernity ; Transformation An Intellectual Tradition, Chicago : University of Chicago Press

[1]A. Syafi’I Ma’arif dalam Moh. Shofan, Pendidikan Berparadigma Profetik (Jogjakarta: IRCiSoD, 2004), 6.

[2]A.M. Saifuddin, Desekularisasi Pemikiran (Bandung: Mizan, 1998), 103.

[3]Moh. Shofan, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, dalam Logos, Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.4, No.1 Januari 2005.

[4]Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2003), 97-98.

[5]Hal ini dapat dilihat, misalnya, term “ulama” hingga saat ini masih di maknai sebagai orang yang ahli dalam bidang agama saja, baik itu dalam bidang fiqih, tauhid atau tasawuf. Sedangkan orang bergerak dalam bidang pengetahuan umum tidak termasuk dalam yang demikian. Padahal al-Qur’an sendiri mengartikan “ulama” sebagai cendikiawan di banyak bidang, baik itu meteorologi, antropologi, humaniora, sosiologi, biologi dan lain sebagainya. Jadi menurut al-Quran yang berhak menyandang predikat ulama bukan hanya orang yang ahli dalam bidang agama saja (Lihat QS. Asy-Syu’ara/26: 127 dan QS. Fathir/35: 27-28)

[6]Sanaky, Op.Cit., 98.

[7]Muhaimin, et.al, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 39.

[8]Azyumardi Azra dalam Sanaky, Ibid. 99

[9]Ibid., 100.

[10]A.Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan,1994), 151.

[11]Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan ini muncul pada saat persidangan Sedunia Pertama mengenai Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977.

[12] Isma’il Raji al-Faruqi. Islamisasi Pengetahuan, Cet ke-3, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003), hlm. 38-39.

[13] Harun Nasution. Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Dzambatan, 1992) , hlm. 243.

[14] Budi Handrianto. Islamisasi Sains Sebuah Upaya MengIslamkan Sains Barat Modren, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 133.

[15] Zainal Habib. Op.Cit., hlm. 53.

[16] Abu Bakar A. Bagader, Islamisasi Ilmu-ilmu Sosial, (Yogyakarta: CV.Bayu Grafika Offset, 1989), hlm. 16-17.

[17] Muhaimin & Abdul Mujib. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 99.

[18] Nina M. Armando. Loc.Cit.

[19] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hlm. 406-408.

[20] Budi Handrianto. Op.cit., hlm.197-201.

[21] Ibid., hlm. 202-203.

[22] Ibid., hlm. 204.

[23] Ibid., hlm. 205.

[24]Rosnani Hamim, Op.Cit., 44-45.

[25]Selengkapnya tentang madrasah, baca Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)

[26]Zakiah Daradjat, Pengantar, dalam Maksum, Ibid., vii.

[27]Ibid., viii.

[28]Ibid., x-xi

[29]Muslih Usa (ed.), Pengantar, dalam Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Ilmu, 1991), 7.

[30]Husni Rahim, UIN dan Tantangan Meretas Dikhotomi Keilmuan, dalam M. Zainuddin dan M.In’am Esha (ed.), Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global (Malang: UIN Press, 2004), 50.

[31]Abdul Munir Mulkhan, Nalar Spiritualis Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002), 188.

[32] Fazlur Rahman, 1982, Islam and Modernity ; Transformation An Intellectual Tradition, Chicago : University of Chicago Press

 

SHARE
Next articleSEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI

LEAVE A REPLY