AL QUR’AN DAN PERUBAHAN SOSIAL

0
1222

 

AL QUR’AN DAN PERUBAHAN SOSIAL

 

 

Mencermati sebuah konstruksi berfikir tentang kebesaran Tuhan

Dalam bingkai magisianistik, religiusistik, dan saintifik

 

 

Pra Wacana

Dalam beberapa
kajian para pemikir tentang al qur’an banyak yang mengungkapkan bahwa al qur’an
dalam sejarahnya, turun dan disampaikan berdasarkan pergumulan peristiwa yang
melingkupi kehidupan manusia pada masanya.<![if !supportFootnotes]>[1]<![endif]>
Dalam proses penyampaiannya, al qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan
secara bertahap.<![if !supportFootnotes]>[2]<![endif]>
Al qur’an tidak juga ditulis berdasarkan metodologi-medologi konvensional
seperti dalam praktek penulisan buku ilmiah yang kita kenal. Namun demikian,
dengan kebertahapan dan ketidakberdasarkan pada metodologi konvensional yang
dilengkapi oleh kerangka-kerangka teoretik tersebut, justru al qur’an
menampakkan wajah otentisitasnya sebagai kitab yang sarat dengan esensi,
substansi, arti, dan hikmah-hikmah kehidupan.<![if !supportFootnotes]>[3]<![endif]>
Dan oleh karenanya, banyak para pemikir muslim maupun non muslim yang
terangsang untuk mengkaji secara mendalam tema-tema yang tersirat dan tersurat
dalam al qur’an.<![if !supportFootnotes]>[4]<![endif]>

Berbagai macam
kajian untuk mempelajari dan memahami al qur’an secara mendalam—tentunya dalam
kadar konsep pemikiran yang berbeda-beda—terus berlangsung dari masa ke masa.
Dari sekian macam kajian tersebut ada yang dibukukan, seperti tafsir-tafsir
yang sudah kita ketahui, maupun yang tidak dibukukan. Dan dalam proses pengkajian
tersebut terdapat satu hal yang menarik, yaitu al qur’an yang disampaikan tidak
berangkat dari metodologi dan kerangka teoretik dipelajari, difahami, dan
dianalisa melalui metodologi dan berbagai teori untuk memperjelas sebuah
persoalan yang termuat dalam al qur’an. Lalu, dalam proses pengkajian—yang
sebenarnya—terkesan prosedural, apakah tidak menutup kemungkinan akan terjadi
reduksi makna atau salah pemahaman terhadap pengkajian al qur’an tersebut.
Karena, disadari atau tidak, sebuah teori yang dijadikan pisau bedah maupun
metode yang dijadikan sarana untuk mencapai pemahaman yang matang tidak akan
terlepas dari tali-temali perspektif yang sarat dengan subyektifitas pemikiran.
Dan ini artinya, al qur’an—yang sejatinya untuk dibaca, dipelajari dan difahami
guna menyadarkan kita tentang arti sebuah kehidupan serta instrumen untuk
meyakini eksistensi kita sebagai manusia yang harus selalu bersyukur—menjadi
kajian tematik layaknya sebuah teori atau konsep pemikiran yang tidak pernah
habis digerogoti oleh counter attack berbagai teori lain untuk
meneguhkan teori yang dibuat oleh sang peneliti.<![if !supportFootnotes]>[5]<![endif]>

Dalam kaitan ini,
sebuah pengkajian terhadap al qur’an yang dilakukan oleh setiap orang
sebenarnya tidak sekedar untuk mengukuhkan teori barunya—sebagaimana yang
ditandaskan oleh Kuhn. Akan tetapi, lebih dari semua itu, upaya tersebut
menjadi simbol eksistensi manusia sebagai makhluk yang berakal. Maka,
konsekwensi logisnya adalah, manusia sampai kapan pun tidak akan pernah
berhenti mengkaji, mengkaji, dan mengkaji. Dan pengkajian merupakan
representasi dari berfikir yang dilahirkan untuk mengetahui segala sesuatu yang
ada di dalam hidupnya, termasuk untuk mengetahui al qur’an. Jadi, dalam hal
mengkaji yang berangkat dari landasan pemikiran merupakan kewajiban setiap
orang, lantaran Tuhan secara tegas menandaskan dalam ayat al qur’an “tidakkah
kalian mau berfikir…”
dan “tidakkah kamu mau mengetahui….”. Dan
berfikir merupakan tantangan tersendiri bagi setiap orang untuk membuktikan
bahwa dirinya ada dan berada,<![if !supportFootnotes]>[6]<![endif]>
sebagaimana Rene Descartes mengatakan “karena aku berfikir maka aku ada.

Maka, berangkat
dari kesadaran semacam itu lah, ada sebuah nalar pemikiran yang seringkali
dimunculkan oleh setiap orang bahwa al qur’an—selain sebagai kitab suci yang
dikuduskan dan diyakini sebagai penenang hati—ia pun dapat berwujud sebagai
tulisan (dokumentasi) sejarah yang diturunkan oleh Tuhan dari lauhil mahfudz<![if !supportFootnotes]>[7]<![endif]>
sebagai bukti bahwa Dia adalah Khaliq sang pencipta, sementara alam,
manusia, hewan, dan sebagainya adalah makhluq ciptaanNya. Lalu al qur’an
disampaikan oleh para nabi-nabi sebagai kabar berita bahwa segala sesuatu yang
ada di dunia ini telah dipenuhi dengan aneka ragam rupa dan bentuk yang patut
dinikmati. Dalam kurun waktu berikutnya al qur’an ditulis oleh para sahabat
(Utsman bin Affan)<![if !supportFootnotes]>[8]<![endif]>
supaya isi berita al qur’an yang pernah diturunkan oleh Tuhan dan disampaikan
oleh para Nabi tidak tercecer begitu saja tanpa bisa diketahui generasi
berikutnya.

Sebagai sebuah
tulisan sejarah, al qur’an berbeda dengan buku-buku sejarah yang ditulis
manusia. Ada kekuatan historis dan prediktif yang terkandung di dalam al
qur’an, yang dalam hal ini, tidak dapat dilakukan oleh manusia. Kalaupun
manusia mempunyai potensi prediktif, barangkali kekuatan nalar manusia tentang
masa depan sebatas membaca kemungkinan-kemungkinan yang sepenuhnya dipengaruhi
oleh ilusi, angan, dan hayalan-hayalan fana. Maka, menjadi layak dan patut
diakui bahwa al qur’an—sebagai sebuah tulisan sejarah—dinobatkan sebagai mukjizat
lantaran kekuatan nalarnya yang mampu menggambarkan pengalaman-pengalaman
kehidupan masa lalu dan merentangkan segala sesuatu yang akan terjadi bagi
kehidupan manusia.

Lalu, apakah al
qur’an hanya berhenti sebagai sebuah dokumentasi sejarah yang tidak bisa
menjawab segala macam persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia di
masa-masa berikutnya? Atau al qur’an hanya terhenti di tengah lingkaran
penobatan mu’jizat atas anugerah otentisitasnya sebagai tulisan sejarah?
Pertanyaan ini dimunculkan, setidaknya untuk membaca berbagai kemungkinan
jawaban al qur’an terhadap perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan
manusia masa kini dan masa akan datang. Karena al qur’an yang diturunkan ke
dunia ini untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul di saat manusia
dipenuhi dengan persoalan pada masanya dan berada dalam tuntutan sang Nabi
sebagai penyampai pesan al qur’an. Sementara, kehidupan manusia saat ini
dipenuhi oleh persoalan yang sama atau mungkin lebih namun tidak disertai oleh
sang Nabi sebagai penuntun pesan. Hal inilah yang akan cermati dalam pembahasan
berikutnya.

 

Mencermati historisitas Al qur’an

Setidaknya, ada
tiga stadium mengapa Al qur’an diturunkan ke tengah-tengah kehidupan manusia.<![if !supportFootnotes]>[9]<![endif]>
pertama, al qur’an sebagai ceritera sejarah yang menguraikan tentang
peristiwa-peristiwa yang telah berlalu dari waktu dan ruang manusia. Sebagai
sebuah ceritera sejarah, al qur’an banyak melukiskan sebuah proses penciptaan
alam dan seisinya, proses kehidupan penghuninya, proses kejadian-kejadian yang
merentang dengan beragam bentuk dan warna, proses turunnya kenabiyan yang
dinobatkan sebagai penyampai pesan-pesan teologis kepada setiap ummatnya, dan
segala macam proses yang menghimpun segala macam aneka nuansa dunia yang pernah
dimiliki oleh manusia-manusia masa lalu. Kedua, al qur’an sebagai cermin
sejarah yang “mengharuskan” setiap ummat manusia untuk mampu mengambil
pelajaran penting dari berbagai pengalaman yang pernah dilakukan oleh
manusia-manusia sebelumnya, serta memetik hikmah dari proses terjadinya
berbagai macam aneka kejadian tentang alam dan isinya. Ketiga, sebagai
bekal sejarah bagi berlangsungnya tatanan kehidupan berikutnya, supaya sesuatu
yang tidak dapat dilakukan oleh manusia sebelumnya dan sesuatu yang lalai
dilakukan oleh manusia saat ini bisa ditata ulang agar konstruksi maknawi yang
tersirat dan tersurat dalam al qur’an bisa dimanifestasikan sepenuhnya dalam
praktek kesehariannya, serta terhindar dari belenggu penyesalan-penyesalan tentang
sebuah arti, mengapa al qur’an diturunkan dan bagaimana menyikapinya.

Sebagai sebuah
ceritera sejarah, al qur’an dengan gamblang mengisahkan perjalanan dan
pengalaman manusia masa lalu yang masih diwarnai oleh nuansa politeistik, di
mana kekuatan magis yang dijadikan bentuk harmonisasi<![if !supportFootnotes]>[10]<![endif]>
dalam hidupnya untuk mengukuhkan keberadaannya sebagai makhluk yang selalu
terlibat dalam tatanan sosial bermasyarakat di sekitarnya.

Munculnya sistem
kepercayaan terhadap benda-benda, alam, pepohonan, hewan, matahari, dan
semacamnya, yang dalam proses mempercayainya, mereka tidak mengakui sebuah
keagungan dan kekuatan Tuhan yang mampu merubah kehidupan mereka. Maka bentuk
spritualitas yang mereka lakukan melalui ritus-ritus benda-benda yang dianggap
sebagai sumber kekuatan yang sebenarnya—tidak mereka sadari—bahwa ia ada karena
proses kreasi yang dilakukan oleh Tuhan itu sendiri. Kondisi ritus yang
demikian adalah bagian dari kegiatan-kegiatan yang “menyimpang” dan telah
menafikan sang pencipta yang dinamakan sebagai syiriq.<![if !supportFootnotes]>[11]<![endif]>

Bentuk-bentuk syiriq
yang dilakukan oleh mereka tidak saja memperlakukan benda-benda alam—yang
dicipta langsung oleh Tuhan—tersebut
sebagai sumber kekuatan yang bisa merubah kondisi kehidupan mereka.
Lebih dari itu, mereka pun terlibat dalam sirkulasi penyembahan melalui
benda-benda yang diciptanya sendiri. Hasil kreasi berupa patung-patung, arca,
pekuburan, dan semacamnya menjadi ajang penafian keberadaan Tuhan sebagai titik
sentral pencipta yang telah menciptakan manusia. Dengan kata lain—meminjam
istilah Erich Fromm, mereka pun melakukan pemujaan pada karya tangan mereka
sendiri.<![if !supportFootnotes]>[12]<![endif]>

Sebagai sebuah
cermin sejarah, al qur’an dengan cukup gamblang pula merentangkan sebuah
i’tibar dan analogi-analogi bagi manusia masa kini tentang perjalanan manusia
masa lalu. Dengan harapan, segala sesuatu yang pernah terjadi di masa-masa
sebelumnya dapat dijadikan kaca perbandingan dan tolok ukur untuk membenahi dan
mereformulasi konsep-konsep keimanan kepada Tuhannya. Maka, melalui para
nabi-nabi dan generasi yang bersentuhan langsung dengan para nabi-nabi, al
qur’an menjadi bagian dari keniscayaan yang patut menjadi sandaran untuk
menciptakan tatanan sosial kehidupan yang baru.

Al qur’an yang
disampaikan oleh para nabi dan generasi sesudahnya meniscayakan sebuah agama
sebagai sandaran spritual manusia dan institusi penyembahan untuk lebih
mengetahui dan mengenal tentang proses-proses penciptaan dan kemahaluasan
ciptannNya. Maka, dalam kurun waktu berikutnya—setelah kekuatan magis yang
diyakini sebagai sumber perubah kondisi kehidupan pudar dan mulai
dilupakan—agama menjadi satu instrumen untuk memperkenalkan lebih lanjut
kandungan isi al qur’an kepada manusia.

Dalam kaitan ini,
agama merupakan medium transisi terbentuknya masyarakat baru, dari masyarakat
magis (politeistik) ke masyarakat religius (monoteistik), dengan serta-merta
menghimbau kepada manusia—melalui para nabi-nabi yang ditugaskan untuk memperkenalkan
pesan-pesan Ilahi—untuk mengenali dirinya yang telah diciptakan dengan
sempurna,<![if !supportFootnotes]>[13]<![endif]>
mengenali alam semesta yang disediakan sebagai tempat memijak dan pelindung,
mengenali Tuhan yang telah berupaya mewujudkan segala sesuatunya. Agama menjadi
sebuah rangkaian peradaban yang dapat mencerahkan manusia, lantaran manusia
menjadi semakin tahu akan fungsi dan kegunaan adanya dirinya dan alam seisinya.

Al qur’an yang
mulai menyinggahi setiap sanubari manusia membentuk ruang baru yang dipenuhi
oleh selaksa keberartian tentang hidup terbingkai di setiap ajaran-ajaran yang
disampaikan dalam agama. Dalam hal ini, agama menjadi instrumen pembebasan bagi
setiap manusia yang sebelumnya tidak mengetahui akan makna adanya dirinya dan
alam seisinya. Dan karena pembebasan itulah, manusia mulai menyikapi dirinya
sebagai kreator kedua yang mulai menata ulang sistem kehidupan yang magis dan
tidak menghargai akan kekuatan yang ada dalam dirinya. Pada titik demikian, al
qur’an sebagai sebuah cermin sejarah telah berhasil mengangkat ruang mereka
yang penuh dengan kegelapan ke alam yang dipenuhi oleh kebersahajaan alam
seisinya.<![if !supportFootnotes]>[14]<![endif]>

Dalam rentang
berikutnya, di mana agama (Islam) telah menjadi sendi-sendi kehidupan manusia,
al qur’an pun semakin menyejarah di setiap tatanan nilai dan perilaku manusia.
Sebagai sebuah bekal sejarah, al qur’an berfungsi memberi petunjuk ke jalan
yang sebaik-baiknya,<![if !supportFootnotes]>[15]<![endif]>
al qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, dan
akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai
persoalan-persoalan tersebut. Dan Muhammad yang dipercayai sebaga Nabi
ditugaskan untuk selalu menyampaikan pesan-pesan dan keterangan yang lengkap
yang dikandung dalam al qur’an agar lebih bisa difahami oleh manusia. Dalam
kaitan ini, akal yang menjadi landasan untuk memahami al qur’an berfungsi
sebagai pembuka cakrawala kehidupan, penyibak tabir kejumudan (kebodohan),
perentang wawasan dan pengetahuan yang sangat terkait dengan dirinya, alam, dan
Tuhan, serta untuk berfikir, berfikir, dan berfikir.<![if !supportFootnotes]>[16]<![endif]>

Dalam proses
berfikir, al qur’an memberikan catatan tersendiri tentang sistem penalaran yang
sepatutnya dilakukan oleh manusia. Karena sistem penalaran yang digunakan oleh
masing-masing individu akan menentukan pola berfikirnya dalam menyikapi
dirinya, alam, dan Tuhan. Setidaknya, ada tiga sistem penalaran yang selalu
digunakan oleh setiap individu, pertama, kecendrungan pragmatis. Pola
berfikir yang mengacu pada alam kebendaan (mater) atau berdasarkan pada
panca indera yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan primer. Kedua, kecendrungan
subjektif. Pola berfikir yang mengacu pada keberadaan personal secara
tekstual dan melupakan kontekstualisasi kedirian seseorang yang berlandaskan
pada tingkat kualifikasi pemikirannya. Ketiga, kecendrungan objektif.
Pola berfikir yang berdasarkan nilai-nilai yang terdapat pada unsur-unsur ide
itu sendiri tanpa dipengaruhi oleh faktor ekstern yang menguatkan atau
melemahkannya.<![if !supportFootnotes]>[17]<![endif]>

Dalam hal ini,
dari ketiga sistem penalaran atau kecendrungan berfikir yang lebih diinginkan
Tuhan melalui ayat-ayat qur’annya adalah sistem penalaran yang ketiga (kecendrugan
objektif).<![if !supportFootnotes]>[18]<![endif]>
Karena, dengan sistem penalaran yang objektif akan melahirkan daya cipta dan
rasa yang luhur dan jiwa keberanggapan yang cermat tentang dirinya, alam dan
Tuhan. Dan pada titik ini, keberimanan seseorang kepada Tuhannya akan mencapai
pada pengakuan yang pasrah dan syukur akan kebesaranNya.<![if !supportFootnotes]>[19]<![endif]>

Al qur’an yang
selalu menyejarah tersebut, fondasi pertama yang terbangun melalui ayat-ayat
yang dikandungnya adalah ayat yang memerintahkan “membaca”.<![if !supportFootnotes]>[20]<![endif]>
Dan ini berarti, salah satu kunci hidup yang harus dilakukan oleh manusia
adalah melestarikan pengetahuan yang luas tentang segala sesuatu baik yang
tersurat maupun yang tersirat. Tentunya, hal demikian tidak akan bisa digapai
hanya dengan mengandalkan pada tradisi ritus-ritus magisian maupun keagamaan
semata, tanpa mengakui keberadaan akalnya yang berfungsi sebagai alat untuk
berfikir, menela’ah, mendalami, meneliti, dan mengkaji. Dan ketika akal sudah
bisa difungsikan sebagai alat untuk berfikir, maka selayaknya ia tidak dihambat
oleh dokrtinasi-doktrinasi yang bisa menghambat jalan berfikirnya akal, oleh
pesan-pesan semu yang semata-mata lebih didasarkan pada penguatan tradisi
maupun budaya lokal, oleh mitologi dan wejangan yang dianggap sebagai bagian
dari ajaran Islam, maupun oleh hukum-hukum yang tidak beralasan, yang
sesungguhnya, hukum tersebut dibangun di atas sistem otoritarianisme lokal demi
kuatnya kharisma kelompok maupun individu. Karena pada dasarnya, al qur’an
telah menyelinapkan ruh kebebasan berfikir dalam akal kita. Oleh karena itu,
ketika akal mencoba memfungsikan ruh kebebasannya untuk membebaskan segala
macam bentuk yang tidak beralasan dan sesuatu yang terlalu mengandung
pesan-pesan teologis yang berlebihan—sehingga manusia merasa rikuh, cemas, dan
memberatkan untuk memanifestasikan ajaran-ajaran qur’an yang
sebenarnya—sesungguhnya akal yang demikian telah berfungsi sesuai dengan apa
yang diinginkan oleh Tuhan dan telah berjalan sesuai dengan esensi pesan al
qur’an.

Dan dalam posisi
demikian, betapa besar ruang akal menempati esensi pesan al qur’an bagi manusia
dalam menyikapi hidupnya. Bahkan, al qur’an sendiri menantang kepada manusia
untuk bisa menembus ruang-ruang bumi agar bisa mengetahui pergulatan hidup yang
terjadi di planet lainnya maupun di kedalaman laut yang penuh dengan aneka
macam ciptaanNya. Dan sebagai anjuran yang ditegaskan lebih lanjut oleh al
qur’an bahwa semua itu tentu bisa dilakukan hanya dengan satu kekuatan, yaitu
ilmu pengetahuan.<![if !supportFootnotes]>[21]<![endif]>
Apabila manusia sudah bisa membuktikan penjelajahan ke luar angkasa dan ke luar
bumi, tentu Allah akan mengangkat derajatnya di antara manusia-manusia lainnya.
Karena manusia yang sudah mampu melampaui kandungan pesan-pesan al qur’an
dengan sebuah aplikasi ilmu pengetahuan, Allah akan memberinya hidayah agar ia
lebih menyadari bahwa segala sesuatu yang terhampar di seluruh seantero bumi,
langit, lautan, dan semacamya hanya sebagian kecil dari kreasi-kreasi yang
diciptakanNya. Yang karenanya hamba yang demikian lah akan menuju pada titik
fitrah tertinggi yakni, menyadari sepenuhnya dengan kekuatan syukur sebagai
harmonisasi dari pengetahuan dan pencahariannya tentang kesejatian dirinya,
alam, dan Tuhan.<![if !supportFootnotes]>[22]<![endif]>

 

Membangun peradaban akal yang objektif: sebagai landasan
perubahan sosial

Apa yang saya
petakan tentang kesejarahan al qur’an di atas, dengan sebuah adagium masa lalu,
masa kini, dan masa akan datang tidak bermaksud mendekonstruksi berbagai kaedah
pemikiran para ulama dan para mufassir yang sangat matang dan cerdas menuliskan
proses-proses turunnya al qur’an ke tengah-tengah manusia. Akan tetapi, maksud
dari uraian tentang pemetaan kesejarahan al qur’an melalui pembagian masa
tersebut, sekedar ingin mempermudah kajian al qur’an dalam menteoretisasikan
sebuah femonena kehidupan masyarakat yang masih dipengaruhi oleh peradaban
magis dan terlalu meletakkan garis hidupnya pada aturan keagamaan yang kaku.
Dan apa yang ingin saya tulis berikutnya mencoba menela’ah perkembangan pola
berfikir masyarakat Islam—terutama di Indonesia—yang saat ini masih berkutat
dalam tradisi penguatan magistik dan aturan keagamaan yang kaku dan berlebihan.
Sehingga apa yang sebenarnya ingin harapkan oleh Tuhan melalui al qur’an—supaya
kita bisa menjadi hamba yang bersyukur atas landasan harmonisasi kepribadian
kita—menjadi hamba yang tunduk karena proses pencaharian kita, menjadi hamba
yang sholeh atas landasan pengakuan kebesaran dan keagunganNya seyang tulus.
Dan, al qur’an yang sudah kita baca selama bertahun-tahun tidak menginginkan
kita tumbuh sebagai hamba yang berkepibadian yang kerdil, berpengetahuan yang
mandul, berkepatuhan yang asal-asalan. Akan tetapi, setiap sesuatu yang kita
lakukan demi mengagungkan dan membesarkan asmaNya dilalui dengan proses-proses
pengkajian dan penela’ahan al qur’an yang kritis dan tajam, pembacaan terhadap
ayat-ayat kauniyah yang cermat, pengenalan anta masing-masing individu
dengan sikap dan perilaku yang terhormat dan tanpa dilandasi oleh sektarianisme
kelompok yang sempit. Dengan kesemua inilah, kerangka penghambaan kepada Allah
akan lebih berarti dan khusyu’. Hidup yang kita jalani semakin jelas
tujuannya, semakin nyata proses-prosesnya, dan kita akan senantiasa
mengembalikan segala sesuatu yang kita hadapi kepada Allah. Karena, satu
intrumen yang kita jadikan sebagai pengendali dalam menjalani hidup adalah
akal, yang tugasnya untuk berfikir, memikirkan, berfikir, memikirkan,
demikianlah seterusnya. Afala ta’qiluun.

Dalam kaitan
ini,  cukup menarik mencermati proses
teoretisasi perubahan sosial masyarakat tentang berkembangnya pola berfikir
suatu masyarakat dengan mengacu pada pemikirannya August Comte. Bagi Comte, ada
tiga hukum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang sangat terkait dengan
kecendrungan realitas sosial dan perubahan struktur sosialnya yaitu, pertama,
kecendrungan politeistik. Kedua, kecendrungan monoteistik. Ketiga,
kecendrungan positivistik.<![if !supportFootnotes]>[23]<![endif]>

Pada bagian
pertama, kecendrungan realitas sosial yang terjadi adalah bergelutnya
upaya-upaya pengagungan terhadap kekuatan alam yang dijadikan sandaran
keyakinan dan kesadarannya untuk melakukan perubahan nasib hidupnya. Segala
sesuatu yang mengandung unsur keunikan bagi dirinya, seperti Matahari yang
bersinar, pepohonan yang bergerak, bebatuan yang tua, dan semacamnya dinobatkan
sebagai sumber kekuatan dan disadari sebagai bagian dari jelmaan para dewa dan
leluhurnya yang harus disembah dan dirituskan dalam berbagai sesajian. Tuhan
bagi mereka adalah sebuah unsur eksistensialisme yang lahir dari percikan
benda-benda yang disembah, dan karenanya Tuhan tidak mendapat ruang proses
pernghambaan yang layak. Maka menjadi wajar, kalau tradisi penjimatan
atau pengukuhan benda-benda yang diyakini sebagai sumber kesaktian berkembang
pesat dalam hidupnya. Atas berkembangnya budaya semacam itu, al qur’an
mengistilahknannya sebagai bentuk kesyirikan karena mereka sudah menafikan
keberadaan Tuhan dan mengedepankan benda-benda alam sebagai mitologi kehidupan
mereka.

Pada bagian kedua,
kecendrungan realitas sosial yang terjadi adalah bergelutnya pengakuan diri
kepada kekuatan transendental yang bersumber dari kebesaran Tuhannya. Dalam hal
ini, agama menjadi medium proses pengakuan dan penyadaran teologis bahwa alam
dan isinya adalah hasil kreasiNya yang besar dan luas. Agama memberikan
konsep-konsep keimanan kepada manusia untuk diapresiasikan dalam hidupnya.
Agama memberikan ruang spritualitas kepada mereka untuk diaktualisasikan dalam
proses penghambaan (ubudiyah) sebagai rasa pengakuan dirinya bahwa Tuhan
ada sebagaimana ada dan ketiadaan mereka, dan Tuhan selalu memberikan segala
sesuatu yang dipinta melalui do’a-do’a yang dipanjatkan.

Dalam posisi
demikian, agama bergerak sebagai sandaran keyakinan yang terinstitusionalisasi
dalam ruang gerak manusia dan berupaya membebaskan mereka dari berbagai bentuk
penghambaan yang berada di luar ritus keilahian yang semestinya. Dan atas dasar
itulah, agama selalu memberikan harapan bagi manusia bahwa semakin mereka
mempercayai adanya Tuhan dan melakukan setiap perintah dan menjauhi
laranganNya, maka ia akan dikaruniai anugerah yang tiada tara. Dan puncaknya,
sorga adalah dermaga terakhir bagi seluruh manusia yang taat menjalani segala
sesuatu yang sudah ditegaskan oleh agama (Islam).

Sementara pada
bagian ketiga, kecendrungan realitas sosial yang terjadi adalah bergelutnya
ilmu pengetahuan sebagai pertanda kemajuan masyarakat upaya menemukan struktur
sosial yang solid demi terjalinnya perubahan sosial yang lebih dinamis,
progresif, dan konstruktif. Pada titik ini, masyarakat selalu dipengaruhi oleh
berbagai pertanyaan tentang pesan-pesan al qur’an—yang tidak semata-mata
diwarnai oleh ritus mitologis dan doktrinasi keagamaan—yang selalu menganjurkan
mereka untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia yang bebas, dan manusia
yang bersyukur. Dan secara dialektis pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu
disertai dengan logika antrophomorpis untuk menguak makna terbentuknya bumi,
terhamparnya lautan, menjulangnya langit, dan segala macam rahasia yang
terdapat di alam semesta. Maka, konsekwensi logisnya adalah, menjadi wajar bila
pertanyaan yang cukup berpengaruh tersebut selalu disikapi serius demi
menemukan rahasia kehidupan yang ditebarkan Tuhan ke tengah-tengah manusia.

Manusia tidak lagi
dipengaruhi oleh indoktrinasi keagamaan maupun ritus mitologi dalam membentuk
dunianya, akan tetapi mereka justru menciptakan tantangan di tengah-tengah
ruang geraknya dan dirubah menjadi peluang demi menggapai harapan-harapan emas
seperti yang ditandaskan Tuhan melalui al qur’an. Dalam hal ini, ilmu
pengetahuan menjadi sebuah kekuatan bagi manusia dalam meyakini keesaan dan
kebesaran Tuhan serta memutuskan proses penghambaan kepada Tuhan lantaran
rahasia-rahasia itu semakin diketahui.<![if !supportFootnotes]>[24]<![endif]>

Seperti halnya
August Comte yang mencoba memetakan struktur masyarakat dari politestik ke
positivistik secara kronologis yang disertai pola berfikir yang mistis ke
positivistik,<![if !supportFootnotes]>[25]<![endif]>
Max Weber melakukan hal serupa dengan sebuah pemetaan struktur sosial
masyarakat yang diwarnai oleh dunia magis, religius, dan ilmu pengetahuan.<![if !supportFootnotes]>[26]<![endif]>
Dalam setiap sturuktur sosial yang dipengaruhi oleh masing-masing tradisi
(magis, agama, dan ilmu pengetahuan) tersebut, melahirkan dampak sosial
tertentu sebagai impikasi dari muculnya penguatan akar asketisitas baik secara
kolektif maupun personal yang dilakukan dalam berbagai cara dan gaya. Dalam
tradisi magis, cara untuk mencapai sesuatu lebih cendrung tidak
rasional—seperti sesaji, bakar kemenyan—yang bertujuan terwujudnya keselamatan
dan kesejahteraan di dunia. Dan implikasinya adalah demi lestarinya pengokohan
hubungan-hubungan sosial, struktur sosial, dan komunitas magis. Sebaliknya
dalam tradisi agama, cara yang dilakukan lebih cendrung rasional—seperti puasa,
zakat—yang bertujuan untuk masuk surga. Dan implikasinya adalah pengokohan
kekuasaan politis, struktur sosial keagamaan, dan perubahan budaya. Sementara
dalam tradisi ilmu pengetahuan, cara untuk mencapai sesuatu lebih cendrung
rasional—seperti metode ilmu—yang bertujuan untuk mengatasi dan memecahkan
problem-problem dunia. dan implikasinya adalah pengkohan hubungan politis,
struktur sosial, komunitas ilmuwan, perubahan budaya.<![if !supportFootnotes]>[27]<![endif]>

Dalam hal ini, apa
yang ingin dilakukan Weber tentang pergulatan tradisi ubudiyah dari
sebuah tradisi—baik yang bersumber dari akar magis, agama, maupun ilmu
pengetahuan—sekedar untuk menjelaskan fenomena masyarakat yang dari masa ke
masa telah melakukan upaya-upaya spritualitas melalui model dan aturan yang
berlaku waktu itu. Lalu, ketika sebuah waktu telah mendentangkan lonceng
kemajuan peradaban akal, akankah tradisi magis dan agama berlaku sebagai metode
ubudiyah kepada Tuhan. Dengan kata lain, masihkan tradisi magis dan
agama dijadikan sebagai landasan antrophomorfis dalam membangun perkenalan
secara objektif antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia
dengan Tuhan. Tidakkah perjalanan Nil Amstrong menjadi pelajaran penting untuk
merubah world view kita tentang cara pandang pengagungan dan pembesaran
kekuasaan Tuhan. Dan masihkah kekuatan magis dan agama menjadi akar pengetahuan
kita dalam menginterpretasikan setiap fenomena alam yang terdapat di balik
rahasia-rahasia firmanNya. Di sinilah pentingnya akal kita untuk senantiasa
berfikir dan memikirkan setiap sesuatu yang harus kita lakukan demi kita
sendiri, demi alam, dan demi Tuhan, sang Pencipta.<![if !supportFootnotes]>[28]<![endif]>

Penutup

Al qur’an yang
diturunkan ke bumi tidak dimaksudkan sebagai alat untuk mencapai ruang
kehidupan yang dipenuhi berbagai bentuk pesona kejunilan, keunikan personal
(kesaktian), maupun berbagai kekuatan yang bisa menakjubkan penglihatan
manusia. yang karenanya, tradisi mistis menjadi keniscayaan yang dijadikan
sebagai medium penyembahan. Al qur’an tidak juga diturunkan sebagai untuk
mengajarkan sebuah ketertundukan dan kepatuhan yang tidak beralasan, atau
membiarkan kebodohan kelompok menguat dalam tradisi kharismatisme yang
ditunggangi oleh elit-elit agama. Bahkan, al qur’an tidak meniscayakan dirinya
sebagai personifikasi keterwakilan untuk mengungkungi tingkat kebebasan manusia
dalam menciptakan pilihan-pilihan. Akan tetapi, al qur’an diturunkan ke bumi
untuk mengangkat mereka dari kebodohan, kejumudan, dan ketidaktahuan mereka
tentang dirinya, alam, dan Tuhan. Untuk itu, setiap manusia diberikan akal yang
harus digunakan untuk berfikir, difungsikan sebagai alat menemukan kebesaranNya
yang bertebar di seluruh alam semesta, dan difungsikan sebagai alat pencaharian
segala macam rahasia-rahasia yang sudah ditanam di balik kehidupan kita.

Dalam kaitan ini,
al qur’an—selain sebagai kitab suci yang diperuntukkan kepada Nabi
Muhammad—selalu menyejarah di setiap ruang dan waktu. Al qur’an tidak berhenti
sebagai wahyu yang turun pada masa lalu, di mana ruang gerak manusia terdahulu
disertai oleh bimbingan dan tuntunan para nabi. Sehingga persoalan-persoalan
yang muncul waktu itu dengan sangat mudah diatasi, lantaran Tuhan selalu
memonitoring setiap ajaran-ajaran yang disampaikan oleh mereka. Sebagai firman
Tuhan yang senantiasa menyejarah, al qur’an memberikan petunjuk kepada setiap
manusia untuk dapat melahirkan bentuk penyembahan (ubudiyah) baru
kepadaNya.<![if !supportFootnotes]>[29]<![endif]>
Dengan kata lain, model penyembahan tersebut berupa pengagungan kebesaranNya
melalui pengenalan terhadap alam seisinya. Untuk mengenali dan mengetahui
kebesaranNya tidak bisa dicapai hanya melalui meditasi—sebagai capaian spritualitas
dalam tradisi magician—atau wiridan-wiridan dan do’a-do’a—sebagai ritus
keagamaan yang biasa dilakukan sehari-hari. Tapi, kebesaranNya akan kita
kenalai dan kita ketahui melalui kekuatan kita sendiri, yaitu ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan
merupakan representasi keberadaan kita sebagai makhluk yang diciptakan
sempurna. Dan untuk menunjukkan keberbedaan kita dengan makhluk lainnya.
Karena, salah satu kelebihan yang kita miliki adalah menciptakan
pilihan-pilihan dan pertimbangan tentang cara menyembah Tuhan secara lebih khusyu’.<![if !supportFootnotes]>[30]<![endif]>
Dengan cara menyembah yang kita lakukan akan mempengaruhi pola berfikir kita
tentang hidup, tentang ciptaanNya, dan tentang kebesaranNya.

Sebuah pilihan
untuk menyembah Tuhan melalui ilmu pengetahuan (saintifik) sangat berbeda degan
cara menyembah melalui magisianistik. Bagi para magician mungkin akan
menganggap indahnya alam, luasnya lautan, dan terhamparnya planet-planet di
jagat raya sebagai bagian dari titisan dewa-dewa yang membinarkan pesonanya di
setiap penjuru alam dengan tidak akan mengakui bahwa, sebenarnya apa yang
terdapat di jagat raya sebagai bagian kecil dari ciptaanNya. Demikian pula bagi
para agamawan mungkin akan menganggap indahnya alam, luasnya lautan, dan
terhamparnya planet-planet di jagat raya sebagai kebesaran Tuhan semata, tanpa
ingin mengetahui lebih jauh tentang tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang menyimpan
banyak rahasia. Sehingga dengan sangat mudah mereka akan terpekur dalam
keheningan yang sunyi-senyap tanpa mereka rasakan mengapa Tuhan menghamparkan
kebesaranNya sebegitu rupa.

Sementara bagi
kalangan saintist akan menganggap indahnya alam, luasnya lautan, dan
terhamparnya planet-planet di jagat raya sebagai bagian rahasia Tuhan yang
harus ditelusuri, dikaji, dicermati secara mendalam untuk ditemukan rahasia
kebesaranNya di balik semua itu. Menjadi wajar bila tingkat keimanan mereka di
sisi Tuhan akan lebih mulya lantara proses penyembahan yang mereka lakukan
tidak semata-mata dilalui dengan ibadah mahdzah. Tapi lebih dari itu,
pembacaan mereka terhadap ayat-ayat kauniyah meresap ke jiwa mereka,
membingkai sebuah kepasrahan yang sempurna.

Selain dari itu,
pola berfikir yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan akan menentukan perilaku
sosial mereka dalam membentuk struktur dan dinamika sosial dalam hidupnya.
Salah satu indikasi yang bisa ditangkap adalah, mereka tidak akan mudah
terpengaruh oleh doktrin-doktrin baru yang dimunculkan oleh seseorang dalam
meyakini ajaran al qur’an, sebelum mengetahui secara jelas dampak dari doktrin
tersebut dalam membentuk kepribadian yang shaleh.<![if !supportFootnotes]>[31]<![endif]>

Di sinilah
kiranya, pembenahan pola berfikir kita yang harus dilakukan, supaya pesan-pesan
al qur’an yang menyejarah di setiap kurun waktu akan selalu meresap. Dan
sebagai agent of social change, al qur’an akan mampu menjawab berbagai
persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat, meski tanpa
kehadiran seorang nabi seperti dahulu kala. Wallahu a’lam

 

 

 

*Penulis adalah alumni TMI Al Amien 1995

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Dawam Raharjo, Ensiklopedi Al
Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci
(Jakarta: Paramadina,
1996)

 

Doyle Paul Johnson, Teori
Sosiologi: Klasik dan Modern
(Jakarta: Gramedia, 1994)

 

Erich Fromm, Konsep Manusia
Menurut Karl Marx
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)

 

George Ritzer, Classical
Sociological Theory
(United States of America: The McGraw-Hill Companies,
1992)

 

H.H. Gerth and C. Wright Mills, From
Max Weber: Essays in Sociology
(New York: Oxford University Press, 1949)

 

Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung:
Mizan, 1989)

 

Hasbi Ash Shiddiqy Sejarah dan
Pengantar Ilmu Al Qur’an
(Jakarta: Bulan Bintang, 1954)

 

Ibn Khaldun, Muqaddimah (jakarta:
Pustaka Firdaus, 2000)

 

K.J. Veeger Realitas Sosial:
Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu-Masyarakat dalam Cakrawala
Sejarah Sosiologi
(Jakarta: Gramedia, 1993)

 

L. Laeyendecker, Tata, Perubahan
dan Ketimpangan 
(Jakarta; Gramedia,
1991)

 

Lewis A. Coser, Master of
Sociological Thought
(New York: Harcourt Brace jovanovich, 1977)

 

Manna Khalil al Qattan, Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an
(Jakarta: Litera Antar Nusa, 1994)

 

Paul Davies, Tuhan, Doktrin dan
Rasionalitas dalam Debat Sains
Modern (Yogyakarta; Fajar pustaka
Baru, 2002)

 

Quraish Shihab, Wawasan Al
Qur’an: Tafsir Maudlu’i Atas Pelbagai Persoalan Ummat
(Bandung: Mizan,
1996)

 

Quraisy Shihab, Membumikan al
Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat
(Bandung: Mizan,
1997) hlm. 43

 

Ralph Schroeder, Max Weber:
Tentang Hegemoni Sistem Kepercayaan
(Yogyakarta: Kanisius, 2002)

 

Robert N. Bellah Beyond Belief:
Esei-esei tentang Agama di Dunia Modern
(Jakarta: Paramadina, 2000)

 

Thomas S Khun, The Structure of
Scientific Revolutions: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains
(Bandung: Rosda,
2002)

 

Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi
Sejarah Al qur’an
(Yogyakarta: FkBA, 2001)

<![if !supportFootnotes]>


<![endif]>

<![if !supportFootnotes]>[1]<![endif]> Masa atau waktu yang terkait
dengan pergumulan peristiwa di mana al qur’an menjadi kunci jawaban dari sekian
ketakterhinggaan pikiran manusia untuk mengatasi persoalan-persoalan yang
muncul terjadi di saat-saat babak baru tentang proses kehidupan ini dimulai.
Atau, di saat-saat proses kehidupan berlangsung yang disertai oleh lahirnya
para nabi-nabi atau dalam istilah lain risalah kenabian. Baca Dawam
Raharjo, ensiklopedi Al Qur’an : Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep
Kunci
(Jakarta: Paramadina, 1996) hlm. 297-323

<![if !supportFootnotes]>[2]<![endif]>Manna Khalil al Qattan, Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an
(Jakarta: Litera Antar Nusa, 1994) hlm. 144-156

<![if !supportFootnotes]>[4]<![endif]> Dawam Raharjo, Ensiklopedi
Al qur’an
, hlm. 645-651

<![if !supportFootnotes]>[5]<![endif]> Pergulatan antar teori yang
dicetuskan oleh kalangan ilmuwan digambarkan sebagai revolusi paradigmatik. Di
mana para ilmuwan tersebut mencetuskan teori-teori barunya untuk mengukuhkan
status keilmuanannya. Baca, Thoms S Khun, The Structure of Scientific Revolutions:
Peran Paradigma dalam revolusi sains
(Bandung: Rosda,2002) hlm. 66

<![if !supportFootnotes]>[6]<![endif]> Baca Ibn Khaldun, Muqaddimah
(jakarta: Pustaka Firdaus, 2000) hlm. 523-525

<![if !supportFootnotes]>[7]<![endif]> Hasbi Ash Shiddiqy sejarah
dan Pengantar Ilmu Al Qur’an
(Jakarta: Bulan Bintang, 1954) hlm. 42

<![if !supportFootnotes]>[9]<![endif]> Apa yang lakukan dengan
mencermati proses turunnya al qur’an dalam tiga stadium tersebut, sekedar untuk
menegaskan peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di masa-masa
turunnya al qur’an secara kategoris. Dalam hal ini, al qur’an yang diturunkan
sebagai petunjuk bagi ummat manusia (masa lalu) dikemas melalui doktrin
keagamaan yang disampaikan oleh para nabi bagi manusia (masa kini) merupakan
perjalanan sejarah manusia yang berkembang secara simbiosis mutualis. Dengan
harapan, rentang perjalanan al qur’an dapat diterima oleh manusia (masa akan
datang) sebagai petunjuk yang senantiasa menampakkan otentisitasnya—yang memuat
pesan-pesan ilahiyah—dan sebagai pijakan alternatif (baca: ilmu pengetahuan)
dalam menjawab berbagai persoalan yang muncul dari pergulatan hidupnya.
terutama yang terkait dengan proses pengenalan dan pengetahuan akan
kebesaranNya. Untuk lebih memahami secara mendalam kategoritisasi turunnya al
qur’an yang diungkap secara deskriptik-analitik, baca Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi
Sejarah Al qur’an
(Yogyakarta: FkBA, 2001) hlm. 20-30

<![if !supportFootnotes]>[10]<![endif]> harmonisasi merupakan elemen
dasar dari proses terbentuknya manusia sebelum Tuhan memberikan akal, nafsu,
dan hati ke dalam anatomi dirinya. Harmonisasi tersebut merupakan tata kosmos
keseimbangan yang menggerakkan nalar manusia untuk meyakini sesuatu sebagai
kekuatan ubudiyah. Kondisi demikian menggambarkan sebuah kondisi magis
di mana keterlibatan manusia dengan kehidupan tanpa dilalui dengan kekuatan
alam maupun kekuatan Tuhan, melainkan unsur magis itu sendiri yang menjadi
kekuatannya. Sebagaimana diungkapkan Erich Fromm dalam Dawam Raharjo, Ensiklopedi
Al Qur’an,
hlm. 50

<![if !supportFootnotes]>[11]<![endif]> Sebagian besar yang
disinggung dalam al q ur’an—terutama di masa-masa awal turunnya al
qur’an—memuat aspek nilai-nilai ketuhanan yang sudah diingkari oleh manusia.
Dan karenanya, al qur’an diturunkan lalu disampaikan untuk menggugah kesadaran
keimanan mereka dengan tidak menjadikan benda-benda—di luar kekuatan
tuhan—sebagai sumber kekuatan yang bisa memberikan anugerah kehidupan. Baca,
Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1989) hlm. 26.

<![if !supportFootnotes]>[12]<![endif]> Erich Fromm, Konsep
Manusia Menurut Karl Marx
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) hlm. 59

<![if !supportFootnotes]>[17]<![endif]> Quraisy Shihab, membumikan
al qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat
(Bandung:
Mizan, 1997) hlm. 43

<![if !supportFootnotes]>[19]<![endif]> Syukur merupakan terminal
dalam kehidupan manusia, di mana ia merenungkan dan menyadari kondisi dirinya
secara cermat dan mendalam. Dan syukur merupakan tindakan untuk mencapai harmoni,
yang mana harmoni tersebut merupakan medium menuju ketenangan dan kebahagian.
Dan pada titik demikian, manusia akan berada pada fithrah yang sesungguhnya.
Baca Dawam Raharjo, Ensiklopedi Al Qur’an hlm. 52

<![if !supportFootnotes]>[20]<![endif]> QS. Al ‘alaq: 1-5. Untuk
mempertegas signifikansi ayat tersebut baca, Quraish Shihab, Wawasan Al
Qur’an: Tafsir Maudlu’i Atas Pelbagai Persoalan Ummat
(Bandung: Mizan,
1996) hlm. 433-436

<![if !supportFootnotes]>[22]<![endif]> Peristiwa Nel Amstrong
merupakan pelajaran penting bagi kita untuk menjadikannya sebagai bekal sejarah
yang telah mampu mempelajari, menela’ah dan mengkaji kandungan ayat-ayat al
qur’an—meski tidak dialami dengan membacanya—lalu memanifestasikannya dalam
bentuk penguatan energitas akal sebagai upaya penemuan akan kebesaran-kebesaran
Tuhan yang tersirat di balik kehidupan manusia di bumi. Nel Amstrong, sang
astronot, yang menginjakkan kakinya di bulan serta-merta mendengar adzan.
Sungguh, sebuah perjalanan spritual yang unik dan tidak banyak dialami oleh
setiap manusia, dan membawanya kepada ruang ketertudukan ilahiyah dan ruang
pengakuan yang luhur atas kebesaranNya. Baca Dawam Raharjo, Ensiklopedi Al
Qur’an…
hlm. 49-53

<![if !supportFootnotes]>[23]<![endif]> Doyle Paul Johnson, Teori
Sosiologi: Klasik dan Modern
(Jakarta: Gramedia, 1994) hlm. 85. Bandingkan
dengan L. Laeyendecker, Tata, Perubahan, dan Ketimpangan  (Jakarta; Gramedia, 1991) hlm. 144-151.
Baca juga K.J. Veeger realitas Sosial: Refleksi Filsafat Sosial atas
Hubungan Individu-masyarakat dalam carkrawala Sejarah Sosiologi
(Jakarta:
Gramedia, 1993) hlm. 17-23. Untuk semakin memperjelas tentang pemikiran Comte
baca pula, George Ritzer, Classical Sociological Theory (United States
of America: The McGraw-Hill Companies, 1992) hlm.88-93. Dan Lewis A. Coser, Master
of Sociological Thought
(New York: Harcourt Brace jovanovich, 1977) hlm.
19-40

<![if !supportFootnotes]>[24]<![endif]> Dalam proses pencaharian
tersebut terkadang manusia dihadapkan pada dua persoalan, antara semakin
mengakui akan kebesaran Tuhan atau justru melekatkan dirinya sama dengan Tuhan
yang akibatnya adalah, tidak ada pengakuan kepada Tuhan selain kepada dirinya.
Kondisi demikian, merupakan akibat dari terlalu kuatnya pengendalian akal dalam
membentuk ilmu pengetahuan sebagai mobilisator pencaharian dan penemuan terhadap
rahasia-rahasia Tuhan. Pada titik seperti ini, ilmu akan lebih mempengaruhi
jiwa seseorang untuk semakin meyakini bahwa ilmu adalah medium pasca
agama—untuk meniadakan bahwa agama sudah tidak menjadi institusi absolut yang
bisa memberikan kepuasan bathiniyah kepada manusia—untuk mengakui keberadaan
tuhan yang esa. Baca, Paul Davies, Tuhan, Doktrin, dan rasionalitas dalam
debat sains modern
(Yogyakarta; Fajar pustaka Baru, 2002) hlm. 1-3

<![if !supportFootnotes]>[25]<![endif]> Namun demikian, ketiganya
bukan merupakan tahap-tahap perkembangan linier, tetapi bisa juga mengalami
tumpang-tindih dalam suatu masa tertentu. Harus diakui bahwa tahap awal
rasionalitas manusia diawali dan didominasi oleh magis yang meliputi
simbol-simbol, cara-cara pemujaan, dan pemberkatan kekuatan secara mitis, lalu
dibebaskan melalui tradisi keagamaan melalui pesan-pesan yang disampaikan al qur’an
yang ditransformasikan oleh para waratsatul anbiya’. Dan pada kurun
waktu berikutnya, ilmu pengetahuan semakin menampakkan wujudnya sebagai medium
baru untuk mencapai pada sublimasi kedirian sebagai model penghambaan kepada
tuhan  yang menawarkan teknik rasional,
seperti kalkulasi sarana tujuan (means-ends calculation). Dengan kata
lain, dalam mengaplikasikan setiap perintahnya berdasarkan pada waktu
pelaksanaan yang disepakati, atau mengikuti koridor laranganNya sesuai dengan
kondisi yang sangat terkait dengan setiap sikap dan perbuatan.

<![if !supportFootnotes]>[26]<![endif]> Ralph Schroeder, Max
Weber: tentang hegemoni sistem kepercayaan
(Yogyakarta: Kanisius, 2002)
hlm. 43-54. Untuk mengetahui lebih detail konsepsi pemikiran Weber tentang
pergulatan dunia magis baca H.H. Gerth and C. Wright Mills, From Max Weber:
Essays in Sociology
(New York: Oxford University Press, 1949) hlm. 324-330.
Dalam tulisan tersebut weber memetakan beberapa sikap asketis dalam dunia
mistis (magis).

<![if !supportFootnotes]>[27]<![endif]> Heru Nugroho, “Rasionalisasi
dan Pemudaran Pesona Dunia” (sebuah Pengantar) dalam buku Ralph Schroeder, Max
Weber:
hlm. ix

<![if !supportFootnotes]>[28]<![endif]> Apa yang saya katakan bahwa
ilmu pengetahuan menjadi model baru untuk menyembah Tuhan, tidak bermaksud
menafikan keberadaan agama secara mutlak. Akan tetapi, sebagai manusia yang
hidup di tengah-tengah berlangsungnya peradaban akal yang pesat, selayaknya
model penyembahan (ubudityah) kepada Tuhan tidak lagi berkutat pada
dimensi ritus magisianistik—yang mengandalkan kekuatan alam sebagai sumber
mitologi dan kepercayaan mistis—maupun aturan keagamaan—yang dipengaruhi oleh
kekuatan indoktrinasi personal berupa aturan lokal untuk mengukuhkan
keberadaannya sebagai individu yang paling “sholeh” dan “alim”. Akan tetapi,
upaya untuk menyembah Tuhan sudah selayaknya melalui keberadaan akal kita
sendiri dengan disertai pesan-pesan al qur’an yang kita ketahui. Dengan
demikian, rasa ubudiyah kita akan membentuk lingkaran asketisitas dan
spritualitas yang luhur kepada Tuhan. Dan pada titik demikian, kita tidak akan
melibas keberadaan agama—salah satu medium pengenalan Tuhan—sebagai wilayah
yang mengungkung kebebasan memilih dan menentukan, seperti yang dilakukan oleh
orang-orang yang terlibat dalam mainstream post-religius sebagai ruang
pencaharin Tuhan. Akan tetapi, agama dan ilmu pengetahuan akan menjadi ruang sustainability
yang saling melengkapi dan menjadi medium yang komplementer dalam mengukuhkan
jiwa yang muthmainnah di sisi Tuhan. Untuk mengetahui secara gambalang
mengenai keberlindanan antara agam dan ilmu pengetahuan baca Robert N. Bellah Beyond
Belief: Esei-esei tentang agama di dunia modern
(Jakarta: Paramadina, 2000)
hlm.339-354

<![if !supportFootnotes]>[29]<![endif]> Model penyembahan baru yang
saya maksud bukan menafikan ibadah mahdzah (sholat, puasa, dll) seperti
yang sudah ditandaskan secara tegas dalam al qur’an. Tapi, model penyembahan
tersebut merupakan refleksi dari tafakkur kepada Tuhan yang telah
memberikan kekuatan kepada manusia. dan kekuatan tersebut harus difungsikan
sebagai mestinya. Dalam hal ini, Tuhan memberikan akal untuk memanfaatkan
kekuatan tersebut. 

<![if !supportFootnotes]>[30]<![endif]> Hal ini berbeda dengan
malaikat yang diciptakan hanya untuk berdzikir—sebagai medium pendekatan
dirinya kepada Tuhan.

<![if !supportFootnotes]>[31]<![endif]> Dalam hal ini, kecendrungan
pola berfikir yang demikian tergolong sebagai bentik berfikir secara
eksperimentatif (al ‘aql at tajribi) dalam memahami setiap pesan dan
ajaran yang dimunculkan oleh seseorang. Lebih jelasnya baca Ibn Khladun, Muqoddimah.
hlm. 522-523. Bandingkan pula dengan sistem penalaran menurut al qur’an
dalam Quraish Shihab, Membumi Al Qur’an halm. 42-45

 

 

LEAVE A REPLY