ASPEK-ASPEK LEKSIKAL DALAM AL-QUR`AN

0
8655

 

Shîghah dalam al-Quran:

 

ASPEK-ASPEK LEKSIKAL DALAM AL-QUR`AN:

Shîghah, Binâ`, Wazn dan Isytiqâq

 

Mukaddimah

Kemampuan berbahasa yang baik ditandai,
pertama-tama, dengan penguasaan kaidah-kaidah gramatikal dan aplikasinya. Untuk
berbahasa Arab dengan baik, misalnya, seseorang harus selamanya mengikuti
aturan-aturan yang dirumuskan dalam ilmu nahw dan sharf. Tetapi
itu tidak cukup. Pada tahap yang lebih tinggi, seorang pengguna bahasa dituntut
untuk tidak saja benar secara gramatikal, tetapi juga cermat dalam memilih kata
dan ungkapan, mahir dalam mengolah frasa dan kalimat, serta sensitif dalam menggunakan
gaya bahasa
tertentu.

Dalam kajian bahasa Arab, dua tingkatan
kemampuan berbahasa itu dikenal dengan al-mustawâ al-namthî (level
tipikal) dan al-mustawâ al-fannî (level estetis).<![if !supportFootnotes]>[1]<![endif]> Yang
pertama menunjuk pada tingkat berbahasa yang ”sekedar” benar secara gramatikal.
Sementara yang kedua menunjuk pada tingkat berbahasa yang telah ”selesai”
dengan persoalan-persoalan gramatikal dan berorientasi pada sesuatu yang lebih
tinggi dari itu.

Al-Qur`an adalah puncak dari level
estetis dalam bahasa Arab. Salah satu keistimewaannya adalah bahwa ia tersusun
dengan tingkat sensitivitas dan kecermatan yang sangat tinggi secara leksikal.
Tidak ada satu kata pun dalam al-Qur`an yang dapat digantikan posisinya dalam
struktur yang sama oleh kata lain tanpa mengakibatkan pergeseran makna dan
tujuan.<![if !supportFootnotes]>[2]<![endif]>

Tulisan ini akan memfokuskan
perhatiannya pada aspek leksikal al-Qur`an tersebut. Basis kajiannya adalah
kata (leksikon) dan derivasinya (isytiqâq) ke dalam beragam shîghah,
binâ` dan binâ`. Alat analisisnya terutama adalah ilmu sharf.
Akan ditunjukkan bahwa penggunaan sebuah shîghah, binâ`, atau
wazn dalam al-Qur`an seringkali dimuati dengan beban makna tertentu yang
membuatnya tidak dapat diwakili oleh shîghah, binâ`, atau wazn
yang lain. Dalam kerangka metodologis, tulisan ini juga akan berusaha
membuktikan bahwa pemahaman yang tepat terhadap aspek leksikal al-Qur`an adalah
hal yang penting diketahui oleh setiap penafsir. Dengan asumsi bahwa tulisan
ini akan dibaca oleh orang-orang yang relatif telah familiar dengan
istilah-istilah teknis dasar dalam ilmu sharf, maka definisi
istilah-istilah tersebut tidak akan dipersoalkan.

Kerangka Teoretis: Ikhtiyâr, ’Udûl dan Tikrâr

Dengan contoh-contoh yang tersebar di sepanjang
ayat-ayatnya, sulit kiranya memulai pembahasan mengenai penggunaan shîghah,
binâ`
dan wazn dalam al-Qur`an tanpa terlebih dahulu melakukan
pemilahan dan kategorisasi. Tulisan ini akan menggunakan kategorisasi yang
dirumuskan oleh Dr. Abdul Hamid Ahmad Yusuf Handawi dalam bukunya, ”Al-I’jâz
al-Sharfî fî al-Qur`ân al-Karîm: Dirâsah Nazhariyyah Tathbîqiyyah li al-Tawzhîf
al-Balaghî li Shîghah al-Kalimah”
.

Abdul Hamid menyatakan bahwa pemilihan kata
secara estetis dalam al-Qur`an dilakukan berdasarkan tiga prinsip: ikhtiyâr,
’udûl dan tikrâr.<![if !supportFootnotes]>[3]<![endif]>
Uraian berikut ini akan menjelaskan ketiga prinsip tersebut satu persatu.

<![if !supportLists]>1.      <![endif]>Ikhtiyâr.
Prinsip ikhtiyâr dibangun di atas asumsi bahwa sebuah makna bisa
diungkapkan dengan beragam shîghah, binâ` dan wazn.<![if !supportFootnotes]>[4]<![endif]> Perbuatan
”makan”, misalnya, bisa diungkapkan dengan kata kerja أَكَلَ atau kata benda آكِل , tentu saja dengan titik tekan
yang berbeda meski menunjuk pada makna dasar yang sama. Pertanyaannya, mengapa
al-Qur`an memilih kata tertentu dan bukan kata yang lain?

Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ
(الملك: 19)

Mengapa al-Qur`an memilih kata يَقْبِضْنَ  bukan
قَابِضَات dalam ayat di
atas? Mengapa pula al-Qur`an menggunakan kata صَافات dan
bukan يَصففنَ ? Ikhtiyâr
adalah kategori di mana kita bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan semacam
itu.

<![if !supportLists]>2.
<![endif]>‘Udûl.
Berbeda dengan ikhtiyâr, prinsip ’udûl mengkaji penggunaan
shîghah, binâ` dan wazn dalam al-Qur`an yang ”menyimpang”
dari konteks dasarnya.<![if !supportFootnotes]>[5]<![endif]> Pertanyaannya,
mengapa al-Qur`an beralih ke kata tertentu ketika ia ”mestinya” menggunakan kata
yang lain? Apa tujuan di balik ”penyimpangan” itu?

Contohnya adalah ayat
berikut,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً
(المزمل: 8)

Mengapa al-Qur`an menggunakan kata تَبْتِيْلاً ketika konteks
pembicaraan menuntutnya untuk menggunakan kata
تَبَتّلاً ?

Dapat diamati
sepintas bahwa perumusan prinsip ’udûl ini terkesan agak rancu. Apa yang
dikemukakan dalam kategori ’udûl ini sebetulnya bisa dimasukkan ke dalam
kategori ikhtiyâr. Tetapi, pada dasarnya, dua kategori ini berangkat
dari titik tolak yang berbeda.

Kategori ikhtiyâr diberlakukan
ketika pilihan-pilihan yang ada sama-sama ”benar” menurut konteksnya. Dalam
contoh di atas, ayat 19 dari surat
al-Mulk itu bisa saja menggunakan kata-kata صَافاتٍ
وَقَابِضَاتٍ
 
atau
يَصففنَ
وَيَقْبضْنَ
 
atau
قَابضَاتٍ
وَيَصففنَ
 
atau
صَافاتٍ
وَيَقْبضْنَ
 
tanpa
menyalahi konteks pembicaraan. Dan al-Qur`an ternyata memilih yang terakhir.
Pilihan ini yang kemudian dipersoalkan dalam prinsip ikhtiyâr.

Sebaliknya, kategori ’udûl
diberlakukan ketika pilihan yang digunakan al-Qur`an terkesan menyimpang
dari konteksnya.<![if !supportFootnotes]>[6]<![endif]> Dalam
ayat 8 dari surat
al-Muzammil di atas, misalnya, penggunaan kata تَبْتِيْلاً adalah
”penyimpangan” dari konteks pembicaraan. Kata yang digunakan ”mestinya”
adalah  تَبتلاً  sesuai
dengan kata perintah yang mendahuluinya. Tujuan di balik
penyimpangan-penyimpangan semacam itulah yang dikaji di bawah prinsip ’udûl.

<![if !supportLists]>3.      <![endif]>Tikrâr.
Prinsip ini mengkaji penggunaan sebuah shîghah, binâ` atau wazn
dalam al-Qur`an secara berulang-ulang. Contohnya adalah ayat berikut,

مَلْعُونِينَ أَيْنَمَا ثُقِفُوا أُخِذُوا وَقُتِّلُوا تَقْتِيلاً
(الأحزاب: 61)

Dalam ayat ini,
al-Qur`an mengulang-ulang shîghah kata kerja pasif (al-fi’l al-mabnî
li al-majhûl
) sebanyak tiga kali: ثُقِفُوا , أُخِذُوا dan قتِلوا .
Pertanyaannya, mengapa al-Qur`an menggunakan satu shîghah dan
mengulang-ulangnya? Apa efek dari perulangan ini?

Dua kategori pertama
akan menjadi kerangka tulisan ini. Kategori terakhir sengaja tidak akan
disinggung karena ia berhubungan terutama dengan aspek-aspek retoris (al-wujûh
al-balâghiyyah
), bukan dengan aspek-aspek morfologis dan derivatif (al-wujûh
al-sharfiyyah wa al-isytiqâqiyyah
).

Ikhtiyâr: Memahami Pilihan Shîghah, Binâ`,
dan Wazn dalam al-Qur`an

Kaidah 1: Perbedaan Fungsi Fi’l dan Ism

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ
(الملك: 19)

”Dan apakah
mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan
sayapnya di atas mereka?”

Telah kita kemukakan
di atas bahwa ada banyak pilihan shîghah yang bisa digunakan al-Qur`an
dalam ayat ini. Zamakhsyari menyatakan dalam tafsirnya,

”Pada dasarnya, gerak paling asasi dari seekor burung yang
terbang adalah mengembangkan sayapnya….Gerak mengatupkan sayap muncul hanya
sebagai selingan untuk menimbulkan aktivitas terbang yang sesungguhnya. Karena
itu, al-Qur`an menggunakan shîghah kata kerja untuk melukiskan gerakan
mengatupkan sayap ini. Artinya, burung-burung itu terbang dengan merentangkan
sayapnya. Di antara gerakan merentangkan sayap itu muncul sesekali gerakan
mengatupkan sayap…”<![if !supportFootnotes]>[7]<![endif]>

Seperti banyak ahli
bahasa Arab lainnya, Zamakhsyari membedakan fungsi kata kerja (fi’l) dan
kata benda (ism). Kata benda menunjukkan sebuah makna yang relatif lebih
permanen dan tidak terus-menerus diperbaharui. Sebaliknya, kata kerja menunjuk
pada sebuah makna yang terus-menerus diperbaharui dan, karenanya, bersifat
labil. Kemampuan menggunakan sebuah shîghah untuk menunjukkan makna yang
lebih mendalam ini tak pelak lagi merupakan tanda penggunaan bahasa pada level
estetis.

Penerapan kaidah itu bisa juga
diberlakukan untuk memahami ayat-ayat berikut.

وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ
(الكهف: 18)

”…sedang
anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua.”

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
(فاطر: 3)

”Hai manusia,
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat
memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?”

مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ
(يوسف: 73)

”…kami datang
bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para
pencuri….”

Kaidah 2: Perbedaan Fungsi  Fi’l Mâdhî dan Fi’l Mudhâri’

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
(البقرة: 87)

”Apakah setiap
datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan
keinginanmu lalu kamu bersikap angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka)
kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”

Sebagaimana terlihat
pada bagian yang digarisbawahi, ayat ini menggunakan dua shîghah yang
berbeda (fi’l mâdhî dan fi’l mudhâri’) dalam satu konteks
pembicaraan. Apa tujuan di balik itu?

Fi’l mâdhî digunakan untuk menunjukkan
sebuah aktivitas yang berlangsung di masa lampau. Sedangkan fi’l mudhâri’
biasanya digunakan untuk menunjukkan aktivitas yang berlangsung di masa kini
atau di masa mendatang.

Muhammad saw. adalah nabi terakhir.
Ketika ayat ini turun, kaum kafir Arab telah mendustakan beliau. Karena itu
al-Qur`an menggunakan fi’l mâdhî كذبتُم  untuk
menunjukkan bahwa tidak ada lagi rasul yang bisa mereka dustakan setelah
Rasulullah pun mereka dustakan.

Berbeda halnya dengan membunuh. Kaum
kafir Arab saat itu sedang mencoba segala kemungkinan untuk membunuh Rasulullah.
Karena itu al-Qur`an menggunakan fi’l mudhâri’ تقتلون  untuk menunjukkan
bahwa upaya mereka membunuh Rasulullah belum berhasil dan mereka akan terus
berusaha mewujudkannya.<![if !supportFootnotes]>[8]<![endif]>

Di dalam al-Qur`an, terdapat sebuah ayat
lain yang menggunakan redaksi serupa dengan ayat di atas. Ayat ini tentu saja
bisa dipahami dengan cara yang sama seperti kita memahami ayat tadi.

لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلاً كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أَنْفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ
(المائدة: 70)

”Sesungguhnya
Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada
mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan
membawa apa yang tidak mereka ingini, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu
mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.”

Kaidah 3: Ziyâdah al-Binâ` Tadullu
’alâ Ziyâdah al-Ma’nâ

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ (العنكبوت:
64)

”Dan tiadalah
kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya
akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan….”

Dalam ayat ini,
al-Qur`an menggunakan kata الحَيَوَان bukan الحَيَاة . Apa alasan
di balik pilihan kata itu?

Zamakhsyari mengatakan,

”Kata hayawân mengandung jumlah huruf yang
lebih banyak dibanding kata hayâh. Waznfa’alân
biasanya menunjuk makna ‘gerak’ dan ‘gejolak’, seperti kata-kata nazawân ‘loncatan
yang kuat’, naghashân ‘halangan yang berat’, dan lahabân ‘nyala
api yang bergolak’. Kehidupan itu sendiri adalah gerak; dan kematian adalah
diam. Dengan binâ` yang juga menunjukkan gerak, kata hayawân dalam
ayat tadi mengalami penekanan makna, seakan-akan hendak dikatakan bahwa akhirat
adalah kehidupan yang sebenar-benarnya.”<![if !supportFootnotes]>[9]<![endif]>

Apa yang diungkapkan
Zamkhsyari itu sebetulnya mengisyaratkan sebuah prinsip penting dalam bahasa
Arab: bahwa penambahan binâ` menunjukkan penambahan makna (ziyâdah
al-binâ` tadullu ’alâ ziyâdah al-ma’nâ
). Tentu saja ada beberapa
pengecualian dan syarat bagi prinsip ini sebagaimana akan kita tunjukkan nanti.
Tetapi ia bisa diberlakukan dalam beberapa ayat lain, seperti,

بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ

”Dengan
nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
(البقرة: 222)

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat
dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
(نوح: 10)

”Maka kukatakan kepada mereka, ’Mohonlah ampun kepada
Tuhanmu. Sungguh, Dia adalah Maha Pengampun’”

Kaidah 4: al-Fi’l al-Mabnî li al-Majhûl

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ (آل
عمران: 185)

”…Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan
ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung….”

Dalam ayat ini, al-Qur`an menggunakan bentuk kata
kerja pasif (al-fi’l al-mabnî li al-majhûl):
زُحْزِحَ  dan أدْخِلَ
. Padahal dalam konteks
yang sama, al-Qur`an bisa saja menggunakan bentuk kata kerja aktif:
زَحْزَحَهُ
اللهُ
atau أَدْخَلَهُ
اللهُ
.

Bentuk kata kerja pasif biasanya digunakan untuk menyamarkan pelaku
tindakan atau untuk menunjukkan bahwa pelakunya justru telah diketahui bersama.
Dalam ayat di atas, al-Qur`an ingin menekankan bahwa yang paling penting untuk
diperhatikan adalah terhindarnya seseorang dari api neraka, bukan siapa yang menghindarkannya.<![if !supportFootnotes]>[10]<![endif]>

Prinsip pemaknaan yang sama dapat diberlakukan ke dalam ayat-ayat yang
menggunakan redaksi serupa, seperti,

أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
(الغاشية: 17-20)

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana
dia diciptakan, Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung
bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
(البقرة: 212)

”Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan
orang-orang kafir”

Kaidah 5: Fungsi Wazn

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ
(يوسف: 23)

”Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda
Yusuf untuk menundukkan diri (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya
berkata, ’Marilah kesini’….”

Ayat ini menggunakan kata غَلَّقَ
dan bukan أَغْلَقَ
. Ini tentu berhubungan
dengan fungsi serta makna wazn
فَعَّلَ
. Salah satu fungsi wazn
ini adalah menunjukkan jumlah yang banyak. Dengan demikian, al-Qur`an hendak
menyatakan bahwa ada banyak pintu yang ditutup oleh wanita tersebut dalam
usahanya merayu Yusuf.<![if !supportFootnotes]>[11]<![endif]>

Hal yang sama dapat kita lihat dalam ayat,

وَفَجَّرْنَا الأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
(القمر: 12)

”Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air
maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”

Penggunaan kata فَجَّرْنَا
dalam ayat di atas
menunjukkan banyaknya jumlah mata air yang dipancarkan Allah di bumi saat itu.
Seluruh bagian bumi, bahkan bagian yang paling kering darinya, ikut memancarkan
air.<![if !supportFootnotes]>[12]<![endif]>

 

’Udûl: “Penyimpangan” yang Terencana dalam
al-Qur`an

Penyimpangan Wazn

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلاً
(المزمل: 8)

”Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya
dengan penuh ketekunan.

Mengapa al-Qur`an menggunakan kata تَبْتِيْلاً
dan bukan تَبَتلاً
? Salah satu alasannya
dapat dirujuk pada perbedaan fungsi antara dua wazn yang berbeda. Wazn
tafa’-’ala
biasanya merupakan muthâwa’ah dari wazn fa’-’ala,
sama seperti ucapan
كَسَّرْتُ
الزّجَاجَ
فَتَكَسَّرَ
  yang berarti, ”kupecah-pecahkan kaca itu hingga ia pecah berkeping-keping”.

Dengan demikian, تَبَتُّل  bisa dipahami sebagai muthâwa’ah dari تَبْتِيْل
. Kalimat بَتَّلْتُهُ
فَتَبَتَّلَ
  berarti ”aku melepaskannya hingga dia terlepas”. Dari perspektif ini, ayat
tadi sebetulnya mengisyaratkan bahwa untuk bisa lepas dari segala hal selain
Allah, manusia dituntut untuk terlebih dahulu berusaha melepaskan dirinya dari
hal-hal tersebut. Dengan kata lain, manusia dituntut untuk terlebih dahulu melakukan
تَبْتِيْل
sebelum akhirnya bisa sampai
pada
تَبَتُّل
.<![if !supportFootnotes]>[13]<![endif]>

Pemaknaan yang serupa dapat dilakukan terhadap ayat,

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأَرْضِ نَبَاتًا
(نوح: 17)

”Dan Allah menumbuhkanmu dari tanah dengan
sebaik-baiknya.”

Mengapa al-Qur`an menggunakan kata نَبَاتًا
dan bukan إِنْبَاتًا?
Ada perbedaan di antara dua kata tersebut. Kata yang pertama adalah mashdar
dari
نَبَتَ
yang berarti ”tumbuh”,
sedangkan kata kedua adalah mashdar dari
أَنْبَتَ
yang berarti
”menumbuhkan”. Dengan menggunakan kata
نَبَاتًا
, al-Qur`an menunjukkan
bahwa jika Allah hendak ”menumbuhkan” sesuatu, maka ia pasti ”tumbuh”.<![if !supportFootnotes]>[14]<![endif]>
Dengan kata lain,
إِنْبَات
yang dilakukan Allah pasti akan menghasilkan
نَبَات
.

Penyimpangan Shîghah

قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ
أَبْصَارُهَا
خَاشِعَةٌ
يَقُولُونَ
أَئِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ
أَئِذَا
كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً
(النازعات: 8-11)

”Hati manusia pada waktu itu sangat takut,
pandangannya tunduk. Mereka berkata, ’Apakah sesungguhnya kami benar-benar
dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga)
apabila kami telah menjadi tulang-belulang yang hancur lumat?’”

Dalam ayat di atas, setelah menyebutkan sejumlah ism
al-fâ’il
(
وَاجِفَة
, خَاشِعَة
dan حَافِرَة
), al-Qur`an kemudian
beralih kepada ism musyabbahah bi ism al-fâ’il (
نَخِرَة).
Mengapa al-Qur`an melakukan ”penyimpangan” tersebut?

Kata نَخِرَة
dalam ayat tersebut
sebetulnya bisa diganti dengan kata
نَاخِرَة
.<![if !supportFootnotes]>[15]<![endif]>
Al-Qur`an menggunakan kata
نَخِرَة karena kata tersebut menunjukkan makna
”sesuatu yang hancur lumat tanpa sisa”. Sedangkan kata
نَاخِرَة  bisa berarti ”sesuatu yang mulai hancur”<![if !supportFootnotes]>[16]<![endif]>
atau “tulang yang bagian tengahnya berlubang sehingga bila udara melewatinya,
ia akan berbunyi”<![if !supportFootnotes]>[17]<![endif]>.
Penggunaan kata yang pertama tentu saja lebih tepat untuk menggambarkan kekuasaan
Allah yang mampu membangkitkan manusia dari tulang belulang yang telah hancur
lumat dan tidak bersisa.

Dari sudut pandang yang sedikit berbeda, itu juga membuktikan bahwa prinsip
”ziyâdah al-binâ` tadullu ’alâ ziyâdah al-ma’nâ” tidak berlaku umum. Kata
نَخِرَة
yang jumlah hurufnya
lebih sedikit ternyata menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dibandingkan
dengan kata
نَاخِرَة  yang jumlah hurufnya lebih banyak.

 

 

Penutup:
Kesimpulan dan Generalisasi

Pada paragraf-paragraf sebelumnya, telah diuraikan beberapa kaidah penting
tentang aspek-aspek leksikal dalam al-Qur`an. Dua hal perlu diperhatikan dalam
hal ini. Pertama, apa yang diuraikan itu hanya sebagian kecil dari
serangkaian kaidah yang telah dirumuskan oleh para penafsir al-Qur`an dan ahli
bahasa Arab. Kemungkinan untuk melakukan elaborasi yang lebih luas dan mendalam
tentu saja masih terbuka lebar. Kedua, kaidah-kaidah itu barangkali
tidak mesti dianggap berlaku untuk semua kasus yang sama. Setiap kaidah boleh
jadi memiliki batasan-batasannya sendiri. Tetapi, bahwa ia bisa menjadi pintu
masuk yang sangat penting kepada kajian-kajian tafsir adalah sesuatu yang coba
diafirmasikan oleh tulisan ini.

Perbedaan antara level tipikal dan level estetis dalam berbahasa telah
disinggung di awal tulisan. Perbedaan itu sendiri menyangkut beragam aspek.
Tetapi, bila hendak dirumuskan secara agak simplifistik, perbedaan itu
barangkali bisa dilacak pada upaya pencarian nilai ”keindahan” dalam berbahasa.
Apa yang dilakukan oleh tulisan ini adalah mencoba mencari keindahan bahasa
al-Qur`an dalam aspek-aspek yang bersifat leksikal. Atas dasar niat itulah
tulisan ini seharusnya dinilai dan dipertimbangkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

’Abdurrahman, ‘Aisyah. 1987. Al-I’jâz al-Bayânî li al-Qur`ân wa Masâil
ibn al-Azraq: Dirâsah Qur`âniyyah Lughawiyyah wa Bayâniyyah
. Kairo:
Dâr al-Ma’ârif.

 

Al-Alusi. 2001. h al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm wa
al-Sab’ al-Matsânî
. Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah

 

Handawi, Abdul Hamid Ahmad Yusuf. 2001. Al-I’jâz al-Sharfî fî al-Qur`ân
al-Karîm: Dirâsah Nazhariyyah Tathbîqiyyah li al-Tawzhîf al-Balaghî li Shîghah
al-Kalimah
. Beirut: al-Maktabah al-’Ashriyyah

 

Al-Razi, Al-Fakhr. 2002. Mafâtîh al-Ghayb. Beirut: Dâr
al-Fikr

 

Al-Shabuni, Muhammad Ali. 2000. Mukhtashar Tafsîr Ibn Katsîr. Beirut:
Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah

 

Al-Zamakhsyari. 2000. Al-Kasysyâf ‘an Haqâiq al-Tanzîl wa ‘Uyûn
al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta`wîl
. Kairo: Maktabah Mishr

 

 

 

<![if !supportFootnotes]>


<![endif]>

<![if !supportFootnotes]>[1]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî fî al-Qur`ân al-Karîm: Dirâsah
Nazhariyyah Tathbîqiyyah li al-Tawzhîf al-Balaghî li Shîghah al-Kalimah
(Beirut: al-Maktabah
al-’Ashriyyah, 2001), hlm. 62.

<![if !supportFootnotes]>[2]<![endif]> ‘Aisyah
’Abdurrahman, Al-I’jâz al-Bayânî li al-Qur`ân wa Masâil ibn al-Azraq:
Dirâsah Qur`âniyyah Lughawiyyah wa Bayâniyyah
(Kairo: Dâr al-Ma’ârif, 1987),
hlm. 210.

<![if !supportFootnotes]>[3]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 65.

<![if !supportFootnotes]>[4]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 70.

<![if !supportFootnotes]>[5]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 141-142.

<![if !supportFootnotes]>[6]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 156-157.

<![if !supportFootnotes]>[7]<![endif]>
Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf ‘an Haqâiq al-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl
fî Wujûh al-Ta`wîl
, Jilid 4, (Kairo: Maktabah Mishr, 2000), hlm. 437.

<![if !supportFootnotes]>[8]<![endif]>
Al-Alusi, h al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm wa al-Sab’
al-Matsânî
, Jilid 1,  (Beirut: Dâr al-Kutub
al-’Ilmiyyah, 2001), hlm. 318.

<![if !supportFootnotes]>[9]<![endif]>
Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf…., Jilid 3, hlm. 495.

<![if !supportFootnotes]>[10]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 120.

<![if !supportFootnotes]>[11]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 127.

<![if !supportFootnotes]>[12]<![endif]> Muhammad Ali al-Shabuni, Mukhtashar
Tafsîr Ibn Katsîr
, Jilid 3 (Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, 2000), hlm.
331.

<![if !supportFootnotes]>[13]<![endif]> Abdul
Hamid Ahmad Yusuf Handawi, Al-I’jâz al-Sharfî…., hlm. 167. Bandingkan dengan Al-Fakhr al-Razi, Mafâtîh
al-Ghayb
, Juz 30 (Beirut: Dâr al-Fikr, 2002), hlm. 179.

<![if !supportFootnotes]>[14]<![endif]>
Al-Alusi, h al-Ma’ânî.…, Jilid 10, hlm. 84.

<![if !supportFootnotes]>[15]<![endif]> Dalam qirâah Umar, Ubay ibn
Ka’b, Ibn Mas’ud, Masruq dan Mujahid, kata yang terakhir inilah yang digunakan.
Al-Alusi, h al-Ma’ânî…., Jilid 10, hlm. 228-229.

<![if !supportFootnotes]>[16]<![endif]> Ini pendapat ’Amr ibn al-’Ala`. Lihat Al-Alusi,
h al-Ma’ânî…., Jilid 10, hlm. 229.

<![if !supportFootnotes]>[17]<![endif]> Al-Fakhr al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb….,
Juz  31, hlm. 36.

 

 

LEAVE A REPLY