Eksistensi Perempuan dalam Islam

0
921

Eksistensi Perempuan dalam Islam

Analisa Kitab Uqud al-Lujain

 

Oleh: M. Badrut Tamam/NIM : 07510017

Disampaikan pada Mata Kuliah FIQH PPS IAIN Walisongo Semarang

 

 

  1. Pendahuluan

Islam dan perempuan selalu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan. Hal ini disebabkan banyak aspek yang menyangkut mitra lelaki ini yang perlu untuk didiskusikan. Posisi wanita dalam realitas sosial menjadi pangkal pembicaraan. Berbagai aksi timbul, bermula dari yang melecehkan dan meminggirkan mereka hingga yang memberikan peranan yang begitu besar bagaikan mereka tidak membutuhkan lelaki lagi.

Kitab Uqud al-Lujain adalah kitab kecil yang ditulis oleh Syekh Muhammad Nawawi ibnu Umar (1813-1897 M), seorang ulama dari Banten, dan banyak dibaca di pesantren-pesantren di Jawa. Kitab ini berisikan penjelasan tentang tatacara pergaulan suami isteri menyangkut hak dan kewajiban mereka, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, kisah atau hikayat dan beberapa komentar pribadi, yang disusun dalam empat bab dan penutup.

Banyak kalangan memberikan analisa terhadap kitab ini. Banyak juga yang kemudian berkesimpulan bahwa ulasan kitab ini mengenai perempuan demikian lemah. Perempuan, ketika dihadapkan pada laki-laki kemudian menjadi pihak yang demikian tidak terhargai. Ia sepenuhnya menjadi pihak yang dikuasai secara mutlak dengan sedikit sekali hak-hak yang melekat padanya.

Forum Kajian Kitab Kuning, dalam analisanya tentang perempuan dalam kitab ini memberikan kesimpulan,[1]

  1. Kewajiban isteri jauh lebih banyak (sekitar 80%) dari kewajiban suami (20%),
  2. Hak isteri jauh lebih kecil (sekitar 20%) dari hak suami (sekitar 80%).
  3. Sementara mengenai hadits-hadits yang dimuat dalam kitab tersebut statuus hukumnya dhaif (22) dan maudhu (35) dari total 95 hadits.
  4. Adanya ambivalensi serta pemikiran-pemikiran yang tidak konsisten dari Syekh Nawawi. Sebagian besar pemikiran dan hadits-hadits yang dicantumkan dalam kitab itu sangat isoginis, namun demikian ada sebagian kecil pemikiran dan hadits yang menghargai perempuan,walaupun hadits tersebut tidak dalamkerangka menegakkan keadilan gender.
  5. Kewenangan dan kesewenang-wenangan laki-laki digambarkan sedemikian dahsyat, sedangkan perempuan digambarkan sedemikian rendah, tidak berdaya dan tidak mempunyai kewenangan apa-apa, baik terhadap hartanya maupun dirinya, termasuk kesehatan dan kebebasannya.
  6. Laki-laki harus diperlakukan seperti dewa yang harus disanjung, dipuja dan dilayani dengan segenap jiwa dan raga. Semua tingkah laku dan perbuatannya tidak boleh dicela dan dicerca. Dan semua harta milik yang berada di lingkup rumah tangganya tidak boleh disentuh dan diganggu gugat.

Hal ini menimbulkan polemik. Terdapat nuansa bias gender yang demikian jelas dalam kitab tersebut. Untuk itulah, peluang untuk mendiskusikan isi kitab Uqud al-Lujjain dianggap masih tetap terbuka. Kajian ini penulis fokuskan pada upaya penelusuran kedudukan perempuan dalam Islam.

 

  1. Kedudukan Perempuan dalam Kitab Uqud al-Lujain

Beberapa fakta mengenai kesimpulan tersebut barangkali dapat dilihat dari beberapa pembahasan yang terdapat dalam kitab Uqud al-Lujjain mengenai posisi wanita. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa suami berhak untuk memukul isteri. Suami boleh memukul isteri di antaranya dalam kondisi di bawah ini:[2]

  1. Suami boleh memukul isteri karena suami menghendaki isteri berhias dan bersolek, sedangkan isteri tidak mengindahkan kehendak suami itu.
  2. Suami boleh memukul isteri karena keluar dari rumah tanpa izin, memukul anaknya menangis, menyobek pakaian suami atau memegang jenggot suami seraya berkata, “Hai keledai, hai goblok,” sekalipun suami memaki isteri terlebih dahulu.
  3. Suami boleh memukul isteri karena membuka mukanya dengan lelaki bukan muhrimnya, berbincang-bincang dengan laki-laki lain, bicara dengan suami agar orang lain mendengar suaranya, memberikan sesuatu dari rumah isteri yang tidk wajar diberikan, atau karena tidak mandi haid.

Dalam kitab Uqud al-Lujjain, perempuan digambarkan sebagai makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan. Kekurangan-kekurangan itu menjadikan wanita seolah pada posisi yang sangat tidak terhargai. Kelebihan perempuan atas laki-laki yang dimaksud selengkapnya adalah sebagai berikut:[3]

  1. Kecerdikan akal dan intelektual lelaki melebihi wanita
  2. Lelaki lebih tabah menghadapi problem yang berat.
  3. Kakuatan lelaki melebihi wanita
  4. Kapasitas tulisan ilmiah tulisan kaum lelaki
  5. Ketrampilan lelaki dalam mengendarai unta
  6. Kaum lelaki banyak yang menjadi ulama
  7. Para lelaki banyak menjadi ulama besar
  8. Kelebihan kaum lelaki dalamberperang
  9. Kelebihan kaum lelaki dalam azan, khutbah dan jumatan.
  10. Kelebihan kaum lelaki dalam i’tikaf
  11. Kelebihan kaum lelaki dalam hak waris
  12. Kelebihan kaum lelaki dalam kedudukan ashabah
  13. Kelebihan kaum lelaki menjadi wali nikah
  14. Kaumlelaki berhak menjatuhkan talak
  15. Kaum lelaki berhak rujuk
  16. Kaum lelaki punya hak berpoligami
  17. Anak dinashabkan dari kaum lelaki

Hadits-hadits yang ditampilkan Syekh Nawawi, khususnya yang berkaitan dengan posisi wanita, terlihat sangat memojokkan wanita. Misalnya berkaitan dengan hak-hak suami pada isteri, terdapat satu hadits yang dijadikan dasar: Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari hak-hak suami pada isteri adalah:

  1. Apabila suami membutuhkan diri isterinya, sekalipun isteri sedang berada di atas punggung unta, ia tidak boleh menolak.
  2. Isteri tidak boleh memberikan apa saja dari rumah suaminya jika tidak mendapat izin suaminya. Kalau isteri memberikan sesuatu tanpa izinnya, maka si isteri berdosa sedangkan suami mendapatkan pahala.
  3. Isteri tidak boleh berpuasa jika tidak mendapatkan izin dari suaminya, karena ia hanya akan merasakan letih dan dahaga, sedangkan puasanya tidak akan diterima Allah.
  4. Jika isteri keluar rumah tanpa izin suaminya, maka ia mendapat laknat para malaikat hingga kembali ke rumahnya dan bertobat.”[4]

Selanjutnya berkaitan dengan posisi wanita sebagai isteri, Syekh an-Nawawi mengatakan bahwa para wanita adalah budak bagi suaminya.

“Para wanita sebaiknya mengatahui bahwa dirinya seperti budak yang dinikahi tuannya dan tawanan yang lemah tak berdaya dalam kekuasaan seseorang. Maka wanita tidak boleh membelanjakan harta suami untuk apa saja kecuali dengan izinnya. Bahkan mayoritsa ulama mengatakan bahwa isteri itu tidak boleh membelanjakan hartanya sendiri kecuali dengan izin suaminya. Isteri dilarang membelanjakan hartanya karena dianggap seperti orang yang banyak hutang.

Isteri wajib merasa malu terhadap suami, tidak boleh menentang, harus menundukkan muka dan pandangannya di hadapan suami, taat kepada suami ketika diperintah apa saja selain maksiat, diam ketika suami berbicara, berdiri ketika suami dating dan pergi, menampakkan cintanya ketika suami mendekatinya, menyenangkan suami ketika akan tidur, mengenakan harum-haruman, membiasakan merawat mulut dari bau yang tidak menyenangkan dan misik dan harum-haruman, membersihkan pakaian, membiasakan berhias diri di hadapan sumi dan tidak boleh berhias bila ditinggal suami.”[5]

Dari beberapa ilustrasi tentang perempuan dalam perspektif kitab Uqud al-Lujain di atas, terdapat ketimpangan posisi perempuan ketika dihadapkan pada laki-laki. Permasalahan kedudukan perempuan ini terjadi pada setiap praktek relasi antara perempuan sebagai isteri dengan lelaki sebagai suami. Akhirnya yang tampak adalah perempuan sebagai “budak” laki-laki, yang harus selalu hormat dan patuh kepada suami semata.

Dalam perspektif semangat kesetaraan gender, hal ini akan menjadi permasalahan serius. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah benar Islam menempatkan wanita pada posisi seperti itu?

 

  • Eksistensi Perempuan dalam Islam

Salah satu tema utama sekaligus prinsip pokok dalam ajaran Islam adalah persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS 49: 13).

Kedudukan perempuan dalam pandangan ajaran Islam tidak sebagaimana diduga atau dipraktekkan sementara masyarakat. Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat kepada perempuan.

Muhammad Al-Ghazali, salah seorang ulama besar Islam kontemporer berkebangsaan Mesir, menulis: “Kalau kita mengembalikan pandangan ke masa sebelum seribu tahun, maka kita akan menemukan perempuan menikmati keistimewaan dalam bidang materi dan sosial yang tidak dikenal oleh perempuan-perempuan di kelima benua. Keadaan mereka ketika itu lebih baik dibandingkan dengan keadaan perempuan-perempuan Barat dewasa ini, asal saja kebebasan dalam berpakaian serta pergaulan tidak dijadikan bahan perbandingan.”[6]

Yusuf Qardhawi sendiri menyatakan bahwa tidak ada satupun agama langit atau bumi yang memuliakan perempuan seperti Islam memuliakan, memberikan hak, menyayangi dan memeliharanya, baik sebagai anak perempuan, perempuan dewasa, ibu, dan anggota masyarakat. Islam memuliakan perempuan sebagai manusia yang diberi tugas dan tanggung jawab yang utuh seperti halnya laki-laki yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa sebagai balasannya.[7]

Mahmud Syaltut, mantan Syaikh (pemimpin tertinggi) lembaga-lembaga Al-Azhar di Mesir, menulis: “Tabiat kemanusiaan antara lelaki dan perempuan hampir dapat (dikatakan) sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada lelaki. Kepada mereka berdua dianugerahkan Tuhan potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu, hukum-hukum Syari’at pun meletakkan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (lelaki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian, dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum serta menuntut dan menyaksikan.”[8]

Tentang Asal Kejadian Wanita

Dalam al-Qur’an tidak dijumpai ayat-ayat secara rinci menceritakan asal-usul kejadian perempuan. Kata Hawa yang selama ini dipersepsikan sebagai perempuan yang menjadi isteri Adam sama sekali tidak pernah ditemukan dalam al-Qur’an, bahkan keberadaan Adam sebagai manusia pertama dan berjenis kelamin laki-laki masih dipermasalahkan.[9]

Menurut Nasaruddin Umar, Satu-satunya ayat yang mengisyaratkan asal usul kejadian perempuan yaitu QS. al-Nisa’:1 sebagai berikut:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari “diri” yang satu (a single self), dan dari padanya Allah menciptakan pasangan (pair)-nya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. al-Nisa: 1)

 

Akan tetapi menurut Nasaruddin,[10] maksud ayat ini masih terbuka peluang untuk didiskusikan, karena ayat tersebut menggunakan kata-kata bersayap. Para mufassir juga masih berbeda pendapat, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “diri yang satu” (nafs al-wahidah), siapa yang ditunjuk pada kata ganti (dhamir) “dari padanya” (minha), dan apa yang dimaksud “pasangan” (zawy) pada ayat tersebut?

Kitab-kitab tafsir mu’tabar dari kalangan jumhur seperti Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Mizan, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Bahr al-Muhith, Tafsir Ruh al-Bayan, Tafsir al-Kasysyaf, Tafsir al-Sa’ud, Tafsir Jami al-Bayan dan Tafsir al-Maraghi, semuanya menafsirkan kata nafs al-wahidah dengan Adam, dan dhamir minha ditafsirkan dengan “dari bagian tubuh Adam”, dan kata zawj ditafsirkan dengan Hawa, isteri Adam. Ulama lain seperti Abu Muslim al-Isfahani, sebagaimana dikutip al-Razi dalam tafsirnya (Tafsir al-Razi), mengatakan bahwa dlamir “ha” pada kata minha bukan dari bagian tubuh Adam tetapi “dari jins (gen), unsur pembentuk Adam”.[11] Pendapat lain dikemukakan oleh ulama Syi’ah yang mengartikan al-nafs al-wahidah dengan “roh” (soul).[12]

Quraish Sihab membenarkan ada hadis yang menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Bunyi hadits tersebut adalah:

“Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah).

Hadits ini, menurut Quraish Sihab, sering dipahami secara keliru bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam, yang kemudian mengesankan kerendahan derajat kemanusiaannya dibandingkan dengan lelaki. Namun, cukup banyak ulama yang telah menjelaskan makna sesungguhnya dari hadis tersebut.[13]

Muhammad Rasyid Ridha, dalam Tafsir Al-Manar, menulis: “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Kitab Perjanjian Lama (Kejadian II;21) dengan redaksi yang mengarah kepada pemahaman di atas, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim.”[14]

Tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan), dalam arti bahwa hadis tersebut memperingatkan para lelaki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Karena ada sifat, karakter, dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan lelaki, hal mana bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak wajar. Mereka tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan. Kalaupun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.

Memahami hadis di atas seperti yang telah dikemukakan di atas, justru mengakui kepribadian perempuan yang telah menjadi kodrat (bawaan)-nya sejak lahir.

Menurut Nasaruddin umar, konsep teologi yang menganggap Hawa/Eva berasal usul dari tulang rusuk Adam membawa implikasi psikologis, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Informasi dari sumber-sumber ajaran agama mengenai asal usul kejadian wanita belum bisa dijelaskan secara tuntas oleh ilmu pengetahuan. Kalangan feminis Yahudi dan Kristen cenderung mengartikan kisah-kisah itu sebagai simbolis yang perlu diberikan muatan makna lain. Sedangkan Feminis Muslimah seperti Mernissi cenderung melakukan kritik terhadap jalur riwayat (sanad), materi hadits (matan), asal-usul (sabab wurud) terhadap beberapa hadits yang memojokkan kaum perempuan, yang diistilahkannya dengan hadits-hadits misogyny, disamping melakukan kajian semantik dan sabab nuzul terhadap beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan perempuan.[15]

Pemahaman yang keliru mengenai asal-usul kejadian tersebut bisa melahirkan sikap ambivalensi di kalangan perempuan; di satu pihak ditantang untuk berprestasi dan mengembangkan karier agar tidak selalu menjadi beban laki-laki tetapi di lain pihak, ketika seorang perempuan mencapai karier puncak, keberadaannya sebagai perempuan shaleh dipertanyakan. Seolah-olah keberhasilan dan prestasi perempuan tidak cukup hanya diukur oleh suatu standar profesional tetapi juga seberapa jauh hal itu direlakan kaum laki-laki. Kondisi yang demikian ini tidak mendukung terwujudnya khalifat-un fi ‘l-ardl yang ideal, karena itu persoalan ini perlu diadakan klarifikasi.

Keyakinan bahwa perempuan sebagai sumber dari terusirnya manusia (laki-laki) dari surga, sehingga perempuan dipandang dengan rasa benci, curiga dan jijik, bahkan lebih jauh lagi perempuan dianggap sebagai sumber malapetaka
Bias gender yang mengakibatkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam terkait pula dengan hal-hal lain seperti: Pembakuan Tanda Huruf, Tanda Baca dan Qira’ah, Pengertian Kosa Kata (Mufradat), Penetapan Rujukan Kata Ganti (damir), Penetapan Arti Huruf ‘Atf, Bias Dalam Struktur Bahasa Arab, Bias Dalam Terjemahan Qur’an, Bias Dalam Metode Tafsir, Pengaruh Riwayat Isra’iliyyat, serta bias dalam Pembukuan maupun Pembakuan Kitab-kitab Fikih.[16]

Dalam Surah Al-Isra’ ayat 70 ditegaskan bahwa:

“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mencari kehidupan). Kami beri mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk-makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)

Tentu, kalimat anak-anak Adam mencakup lelaki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan-Nya itu, mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun lelaki. Pemahaman ini dipertegas oleh ayat 195 surah Ali Imran yang menyatakan: Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain, dalam arti bahwa “Sebagian kamu (hai umat manusia yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki dan sebagian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya.” Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia. Tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian dan kemanusiaannya.

Dengan konsideran ini, Tuhan mempertegas bahwa:

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan.” (QS 3:195).

 

Pandangan masyarakat yang mengantar kepada perbedaan antara lelaki dan perempuan dikikis oleh Al-Quran. Karena itu, dikecamnya mereka yang bergembira dengan kelahiran seorang anak lelaki tetapi bersedih bila memperoleh anak perempuan:

“Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitam-merah padamlah wajahnya dan dia sangat bersedih (marah). Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak disebabkan “buruk”-nya berita yang disampaikan kepadanya itu. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah! Alangkah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS 16:58-59).

 

Ayat ini dan semacamnya diturunkan dalam rangka usaha Al-Quran untuk mengikis habis segala macam pandangan yang membedakan lelaki dengan perempuan, khususnya dalam bidang kemanusiaan.

Demikian terlihat bahwa Al-Quran mendudukkan perempuan pada tempat yang sewajarnya serta meluruskan segala pandangan yang salah dan keliru yang berkaitan dengan kedudukan dan asal kejadiannya.

Hak-hak Perempuan

Berkaitan dengan hak-hak perempuan sebagaimana dikemukakan al-Nawawi dapat disimpulkan betapa wanita menjadi pihak yang demikian lemah di hadapan kaum lelaki. Sebagaimana disimpulkan oleh FK3 tentang kewajiban isteri dalam uqud al-Lujain adalah berkisar 80 % lebih besar dari kewajiban suami terhadapnya. Demikian juga, hak isteri hanya 20 %, sementara hak suami terhadap isteri mencapai 80% lebih besar.

Al-Quran berbicara tentang perempuan dalam berbagai ayatnya. Pembicaraan tersebut menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang menguraikan keistimewaan-keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah agama atau kemanusiaan.

Secara umum surah Al-Nisa’ ayat 32, menunjuk kepada hak-hak perempuan:

“Bagi lelaki hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya dan bagi perempuan hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya.” (QS. Al-Nisa: 32)

Berikut ini akan dikemukakan beberapa hak yang dimiliki oleh kaum perempuan menurut pandangan ajaran Islam.

Hak-hak Perempuan dalam Bidang Politik

Salah satu ayat yang seringkali dikemukakan oleh para pemikir Islam dalam kaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah yang tertera dalam surah Al-Tawbah ayat 71:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Taubah: 71)

 

Secara umum, ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antarlelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.

Kata awliya’, dalam pengertiannya, mencakup kerja sama, bantuan dan penguasaan, sedang pengertian yang dikandung oleh “menyuruh mengerjakan yang ma’ruf” mencakup segala segi kebaikan atau perbaikan kehidupan, termasuk memberi nasihat (kritik) kepada penguasa. Dengan demikian, setiap lelaki dan perempuan Muslimah hendaknya mampu mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mereka mampu melihat dan memberi saran (nasihat) dalam berbagai bidang kehidupan. [17]

Keikutsertaan perempuan bersama dengan lelaki dalam kandungan ayat di atas tidak dapat disangkal, sebagaimana tidak pula dapat dipisahkan kepentingan perempuan.

Kepentingan (urusan) kaum Muslim mencakup banyak sisi yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang pendidikan seseorang, tingkat pendidikannya. Dengan demikian, kalimat ini mencakup segala bidang kehidupan termasuk bidang kehidupan politik.

Di sisi lain, Al-Quran juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) untuk bermusyawarah, melalui pujian Tuhan kepada mereka yang selalu melakukannya.

“Urusan mereka (selalu) diputuskan dengan musyawarah.” (QS 42:38).

Ayat ini dijadikan pula dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan.

Syura (musyawarah) telah merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang-bidang kehidupan bersama menurut Al-Quran, termasuk kehidupan politik, dalam arti setiap warga masyarakat dalam kehidupan bersamanya dituntut untuk senantiasa mengadakan musyawarah.

Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa setiap lelaki maupun perempuan memiliki hak tersebut, karena tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai melarang keterlibatan perempuan dalam bidang kehidupan bermasyarakat –termasuk dalam bidang politik. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali.

Al-Quran juga menguraikan permintaan para perempuan pada zaman Nabi untuk melakukan bay’at (janji setia kepada Nabi dan ajarannya), sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Mumtahanah ayat 12.

Sementara, pakar agama Islam menjadikan bay’at para perempuan itu sebagai bukti kebebasan perempuan untuk menentukan pilihan atau pandangannya yang berkaitan dengan kehidupan serta hak mereka. Dengan begitu, mereka dibebaskan untuk mempunyai pilihan yang berbeda dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan suami dan ayah mereka sendiri.[18]

Harus diakui bahwa ada sementara ulama yang menjadikan firman Allah dalam surah Al-Nisa’ ayat 34, Lelaki-lelaki adalah pemimpin perempuan-perempuan… sebagai bukti tidak bolehnya perempuan terlibat dalam persoalan politik. Karena –kata mereka– kepemimpinan berada di tangan lelaki, sehingga hak-hak berpolitik perempuan pun telah berada di tangan mereka. Pandangan ini bukan saja tidak sejalan dengan ayat-ayat yang dikutip di atas, tetapi juga tidak sejalan dengan makna sebenarnya yang diamanatkan oleh ayat yang disebutkan itu.

Ayat Al-Nisa’ 34 itu berbicara tentang kepemimpinan lelaki (dalam hal ini suami) terhadap seluruh keluarganya dalam bidang kehidupan rumah tangga. Kepemimpinan ini pun tidak mencabut hak-hak istri dalam berbagai segi, termasuk dalam hak pemilikan harta pribadi dan hak pengelolaannya walaupun tanpa persetujuan suami.[19]

Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat dalam soal-soal politik praktis. Ummu Hani misalnya, dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad saw. ketika memberi jaminan keamanan kepada sementara orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan istri Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Aisyah r.a., memimpin langsung peperangan melawan Ali ibn Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan Kepala Negara. Isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah soal suksesi setelah terbunuhnya Khalifah Ketiga, Utsman r.a.[20]

Peperangan itu dikenal dalam sejarah Islam dengan nama Perang Unta (656 M). Keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukkan bahwa beliau bersama para pengikutnya itu menganut paham kebolehan keterlibatan perempuan dalam politik praktis sekalipun.

Hak dan Kewajiban Belajar

Terlalu banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi saw. yang berbicara tentang kewajiban belajar, baik kewajiban tersebut ditujukan kepada lelaki maupun perempuan. Wahyu pertama dari Al-Quran adalah perintah membaca atau belajar,

Bacalah demi Tuhanmu yang telah menciptakan..(QS. Al-Alaq: 2). Keistimewaan manusia yang menjadikan para malaikat diperintahkan sujud kepadanya adalah karena makhluk ini memiliki pengetahuan (QS 2:31-34).

Baik lelaki maupun perempuan diperintahkan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, mereka semua dituntut untuk belajar:

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim (dan Muslimah).

Para perempuan di zaman Nabi saw. menyadari benar kewajiban ini, sehingga mereka memohon kepada Nabi agar beliau bersedia menyisihkan waktu tertentu dan khusus untuk mereka dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan. Permohonan ini tentu saja dikabulkan oleh Nabi saw.

Al-Quran memberikan pujian kepada ulu al-albab, yang berzikir dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan pemikiran menyangkut hal tersebut akan mengantar manusia untuk mengetahui rahasia-rahasia alam raya ini, dan hal tersebut tidak lain dari pengetahuan. Mereka yang dinamai ulu al-albab tidak terbatas pada kaum lelaki saja, tetapi juga kaum perempuan.[21] Hal ini terbukti dari ayat yang berbicara tentang ulu al-albab yang dikemukakan di atas. Setelah Al-Quran menguraikan tentang sifat-sifat mereka, ditegaskannya bahwa:

“Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lelaki maupun perempuan…” (QS 3:195).

 

Ini berarti bahwa kaum perempuan dapat berpikir, mempelajari dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati dari zikir kepada Allah serta apa yang mereka ketahui dari alam raya ini. Pengetahuan menyangkut alam raya tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, sehingga dari ayat ini dapat dipahami bahwa perempuan bebas untuk mempelajari apa saja, sesuai dengan keinginan dan kecenderungan mereka masing-masing.

Banyak wanita yang sangat menonjol pengetahuannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan yang menjadi rujukan sekian banyak tokoh lelaki. Istri Nabi, Aisyah r.a., adalah seorang yang sangat dalam pengetahuannya serta dikenal pula sebagai kritikus. Sampai-sampai dikenal secara sangat luas ungkapan yang dinisbahkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw.

 

Hak-hak Perempuan dalam Memilih Pekerjaan

Kalau kita kembali menelaah keterlibatan perempuan dalam pekerjaan pada masa awal Islam, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan mereka aktif dalam berbagai aktivitas. Para wanita boleh bekerja dalam berbagai bidang, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga pemerintah maupun swasta, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.[22]

Secara singkat, dapat dikemukakan rumusan menyangkut pekerjaan perempuan yaitu bahwa “perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut”.

Pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan oleh perempuan pada masa Nabi cukup beraneka ragam, sampai-sampai mereka terlibat secara langsung dalam peperangan-peperangan, bahu-membahu dengan kaum lelaki. Nama-nama seperti Ummu Salamah (istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah, dan lain-lain, tercatat sebagai tokoh-tokoh yang terlibat dalam peperangan. Ahli Hadits, Imam Bukhari, membukukan bab-bab dalam kitab Shahih-nya, yang menginformasikan kegiatan-kegiatan kaum wanita, seperti Bab Keterlibatan Perempuan dalam Jihad, Bab Peperangan Perempuan di Lautan, Bab Keterlibatan Perempuan Merawat Korban, dan lain-lain.[23]

Di samping itu, para perempuan pada masa Nabi saw. aktif pula dalam berbagai bidang pekerjaan. Ada yang bekerja sebagai perias pengantin, seperti Ummu Salim binti Malhan yang merias, antara lain, Shafiyah bin Huyay -istri Nabi Muhammad saw. Ada juga yang menjadi perawat atau bidan, dan sebagainya.

Dalam bidang perdagangan, nama istri Nabi yang pertama, Khadijah binti Khuwailid, tercatat sebagai seorang yang sangat sukses. Demikian juga Qilat Ummi Bani Anmar yang tercatat sebagai seorang perempuan yang pernah datang kepada Nabi untuk meminta petunjuk-petunjuk dalam bidang jual-beli. Dalam kitab Thabaqat Ibnu Sa’ad, kisah perempuan tersebut diuraikan, di mana ditemukan antara lain pesan Nabi kepadanya menyangkut penetapan harga jual-beli. Nabi memberi petunjuk kepada perempuan ini dengan sabdanya: “Apabila Anda akan membeli atau menjual sesuatu, maka tetapkanlah harga yang Anda inginkan untuk membeli atau menjualnya, baik kemudian Anda diberi atau tidak. (Maksud beliau jangan bertele-tele dalam menawar atau menawarkan sesuatu).”

Istri Nabi saw., Zainab binti Jahsy, juga aktif bekerja sampai pada menyamak kulit binatang, dan hasil usahanya itu beliau sedekahkan. Raithah, istri sahabat Nabi Abdullah ibn Mas’ud, sangat aktif bekerja, karena suami dan anaknya ketika itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga ini. Al-Syifa’, seorang perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh Khalifah Umar r.a. sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah.[24]

Demikian sedikit dari banyak contoh yang terjadi pada masa Rasul saw. dan sahabat beliau menyangkut keikutsertaan perempuan dalam berbagai bidang usaha dan pekerjaan. Di samping yang disebutkan di atas, perlu juga digarisbawahi bahwa Rasul saw. banyak memberi perhatian serta pengarahan kepada perempuan agar menggunakan waktu sebaik-baiknya dan mengisinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat. Dalam hal ini, antara lain, beliau bersabda:

“Sebaik-baik “permainan” seorang perempuan Muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/menenun.” (Hadis diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Abdullah bin Rabi’ Al-Anshari).

Aisyah r.a. diriwayatkan pernah berkata: “Alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada tombak di tangan lelaki.”

Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun, sebagaimana telah diuraikan di atas, ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membu-tuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.

Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan jabatan tertinggi. Hanya ada jabatan yang oleh sementara ulama dianggap tidak dapat diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan Kepala Negara (Al-Imamah Al-‘Uzhma) dan Hakim. Namun, perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukung larangan tersebut, khususnya menyangkut persoalan kedudukan perempuan sebagai hakim.

Dalam beberapa kitab hukum Islam, seperti Al-Mughni, ditegaskan bahwa “setiap orang yang memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka sesuatu itu dapat diwakilkannya kepada orang lain, atau menerima perwakilan dari orang lain”. Atas dasar kaidah itu, Dr. Jamaluddin Muhammad Mahmud berpendapat bahwa berdasarkan kitab fiqih, bukan sekadar pertimbangan perkembangan masyarakat kita jika kita menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela dan penuntut dalam berbagai bidang.[25]

 

Hak Perempuan Sebagai Isteri

Penjelasan di atas cukup memberikan kekuatan kepada perempuan sebagai mahluk yang memiliki kebebasan mutlak terhadap dirinya sendiri. Wanita dalam banyak hal memiliki persamaan hak dengan laki-laki. Asal-usul kejadian perempuan yang sering dikatakan dari tulang rusuk laki-laki yang kemudian dihubungan dengan ketergantungan perempuan terhadap laki-laki, ternyata tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Demikian juga ternyata perempuan memiliki hak yang nyaris sama dengan laki-laki.

Dari prinsip-prinsip di atas, seharusnya perempuan memperoleh hak yang proporsional dalam posisinya sebagai isteri. Dalam relasi dengan suami perempuan seharusnya tidak sebagai pihak yang semata-mata dalam kekuasaan sepenuhnya di tangan suami. Hak-hak yang melekat padanya harus tetap ada. Hak-hak ini misalnya hak untuk keluar rumah.

Terdapat prinsip-prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender ini kemudian menimbulkan implikasi terhadap kuatnya posisi wanita dalam Islam. Menurut Nasaruddin Umar dalam “Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan” [26] ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Qur’an, yakni:

  1. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Sebagai Hamba. Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56), dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Qur’an biasa diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat (49:13)
  2. Perempuan dan Laki-laki sebagai Khalifah di Bumi. Kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al’ard) ditegaskan dalam Q.S. al-An’am(6:165), dan dalam Q.S. al-Baqarah (2:30) Dalam kedua ayat tersebut, kata ‘khalifah” tidak menunjuk pada salah satu jenis kelamin tertentu, artinya, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.
  3. Perempuan dan Laki-laki Menerima Perjanjian Awal dengan Tuhan. Perem-puan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam Q.S. al A’raf (7:172) yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang disaksikan oleh para malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin. (Q.S. al-Isra’/17:70)
  4. Adam dan Hawa Terlibat secara Aktif Dalam Drama Kosmis. Semua ayat yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang keadaan Adam dan Hawa di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan keterlibatan keduanya secara aktif, dengan penggunaan kata ganti untuk dua orang (huma), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa, yang terlihat dalam beberapa kasus berikut:

“Keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga.” (Q.S.al-Baqarah/2:35)
“Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan.” (Q.S.al-A’raf/7:20)
Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan.” (Q.S.al A’raf/7:23)
“Setelah di bumi keduanya mengembangkanketurunan dan saling melengkapi dan saling membutuhkan.” (Q.S.al Baqarah/2:187)

  1. Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih prestasi Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.

 

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Uqud al-Lujjain, perempuan seolah tidak memiliki hak untuk keluar rumah. Dalam kasus tertentu, akibat keluar rumah ini, seorang isteri dapat dikenakan sangsi berupa pukulan dari suami. Sementara untuk menjalankan aktivitas publik, seorang wanita memang dituntut untuk keluar rumah sebagaimana laki-laki.

Dalam hubungannnya dengan prinsip-psinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, ternyata seorang suami dituntut harus “mengurangi” hak-haknya atas isteri. Praktek terhadap aplikasi hak-hak suami tidak dapat dijalankan secara ekstrim sebagaimana terdapat dalam kitab uqud al-Lujjain.

 

  1. Kesimpulan

Wanita sebagaimana dalam kitab Uqud al-Lujjain menempati posisi yang demikian marginal sebagai bentuk pemahaman teks-teks keagamaan yang tentunya dipengaruhi oleh berbagai situasi yang melingkupinya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikemukakan bahwa pada dasarnya wanita memiliki kesamaan dengan laki-laki, terutama pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan. Dalam relasinya dengan kaum laki-laki, wanita tidak dapat dipandang sebagai pihak yang berada pada posisi dinomorduakan. Mereka memiliki hak-hak yang demikian luas, sebagaimana laki-laki.

Pemahaman bahwa wanita, yang dalam kitab Uqud al-Lujjain digambarkan tidak dapat memasuki ruang publik sama sekali, sudah seharusnya direkonstruksi justru demi dan atas nama agama. Mereka memiliki hak untuk berkiprah dalam lingkup sosial yang lebih luas, bukan hanya di dalam ruang sempit urusan rumah tangga semata. Mereka memiliki hak untuk bekerja di luar rumah, bahkan mereka memiliki hak untuk berkiprah dalam dunia politik sekalipun. Aisyah, isteri Rasulullah Saw, pernah mempraktekkan hal itu, mengapa generasi setelahnya justru dikungkung dalam jeruji rumah-rumah mereka?

Berhadapan dengan suami, ternyata wanita juga memiliki ‘kebebasan’ yang harus mereka dapatkan. Ia bukan hanya sebagai mahluk yang untuk selamanya ‘diatur’ dan dikuasai sepenuhnya oleh suami. Dalam berbagai hal ia memiliki hak untuk mengatur dirinya sendiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Forum Kajian Kitab Kuning, Kembang Setaman Perkawinan, Analisis Kritis Kitab Uqud Al-Lujjain, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2005

Mahmud Syaltut, Prof. Dr., Min Taujihat Al-Islam, Kairo, Al-Idarat Al-‘Amat lil Azhar, 1959.

Muhammad Al-Ghazali, Al-Islam wa Al-Thaqat Al-Mu’attalat, Kairo, Dar Al-Kutub Al-Haditsah, 1964.

Muhammad al-Ghazali, Fiqhussirah, terj. PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1996

Muhammad al-Razi Fakhr-u ‘l-Din al-‘Allamah Shaba’-u ‘l-Din ‘Umar, Tafsir al-Razi, Juz 9, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Kairo, Dar Al-Manar, 1367 H jilid IV.

Mursyidah Thahir (ed), “Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan”, PP Muslimat NU kerjasama dengan Logos Wacana Ilmu, 2000.

Nasaruddin Umar, “Qur’an untuk Perempuan”, Jaringan Islam Liberal (JIL) &Teater Utan Kayu, 2002.

Nasaruddin Umar, Perspektif Jender dalam Islam, dalam Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Penerbit Yayasan Paramadina, Jakarta, 2006.

Qardhawi, Yusuf. Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Quraish Sihab, Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1992.

Riffat Hasan, “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam,” dalam Ulumul Qur’an, Vol.1, 1990.

Syeikh Muhammad bin Umar an-Nawawi, Uqud al-Lujjain, terj. Afif Busthomi, Pustaka Amani, Jakarta, 2000.

[1] Forum Kajian Kitab Kuning, Kembang Setaman Perkawinan, Analisis Kritis Kitab Uqud Al-Lujjain, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2005, hlm. 330-331

[2] Syeikh Muhammad bin Umar an-Nawawi, Uqud al-Lujjain terj. Afif Busthomi, Pustaka Amani, Jakarta, 2000, h. 24

[3] Ibid., h. 34

[4] Ibid., h. 61

[5] Ibid., h. 41

[6] Muhammad Al-Ghazali, Al-Islam wa Al-Thaqat Al-Mu’attalat, Kairo, Dar Al-Kutub Al-Haditsah, 1964, h. 138.

[7] Qardhawi, Yusuf. Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press, 1995, h. 120

[8] Mahmud Syaltut, Prof. Dr., Min Taujihat Al-Islam, Kairo, Al-Idarat Al-‘Amat lil Azhar, 1959, h. 193

[9] Riffat Hasan, “Teologi Perempuan dalam Tradisi Islam,” dalam Ulumul Qur’an, Vol.1, 1990/1410 H., h. 51.

[10] Nasaruddin Umar, Perspektif Jender dalam Islam, dalam Jurnal Pemikiran Islam PARAMADINA, Penerbit Yayasan Paramadina, Jakarta, 2006, h. 90

[11] Muhammad al-Razi Fakhr-u ‘l-Din al-‘Allamah Shaba’-u ‘l-Din ‘Umar, Tafsir al-Razi, Juz 9, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., h.179.

[12] Nasaruddin Umar, Op. Cit.

[13] Quraish Sihab, Membumikan Al-Qur’an, Penerbit Mizan, Jakarta, 1992,h.

[14] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Manar, Kairo, Dar Al-Manar, 1367 H jilid IV, h. 330.

 

[15] Nasaruddin Umar, Op. Cit.

[16] Nasaruddin Umar, Qur’an untuk Perempuan, Jaringan Islam Liberal (JIL) &Teater Utan Kayu, 2002. H. 133
[17] Quraish Sihab, Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1992, h. 271.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] Ibid

[21] Ibid.

[22] Ibid.

[23] Muhammad al-Ghazali, Fiqhussirah, terj. PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1996, h. 69

 

[24] Ibid.

[25] Quraish Sihab, Op. Cit.

[26] Hj. Mursyidah Thahir (ed), “Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan”, PP Muslimat NU kerjasama dengan Logos Wacana Ilmu, 2000

 

LEAVE A REPLY