Gua Jatijajar, Keindahan Objek Wisata di Perut Bumi

0
773

GUA JATIJAJAR,

Keindahan Objek Wisata di Perut Bumi

 

Oleh: M. Badrut Tamam

Tugas latihan penelitan pada matakuliah Metodologi Penelitian oleh Prof. Dr. Ahmad Gunaryo, M.Soc.Sc, PPS S2 IAIN Walisongo, 2008

 

gua jatijajar

  1. Pendahuluan

Bertambahnya tingkat kemakmuran seseorang, akan memberikan efek pada pemenuhan kebutuhan hidup yang bersifat sekunder. Kebutuhan itu di antaranya adalah berwisata. Secara psikologis, aktivitas wisata memberikan pengaruh yang sangat positif. Dengan wisata paling tidak, kita akan terlepas dari segala penat dalam menjalankan aktivitas rutin sehari-hari. Berwisata adalah upaya kita untuk menghibur diri. Biasanya wisata dilakukan bersama keluarga, kerabat, teman, pacar dan lainnya.

Bagi masyarakat Kebumen, atau pada umumnya masyarakat Jawa Tengah, objek wisata Gua Jatijajar, tampaknya tidak asing lagi. Objek wisata gua ini memang terletak di Kabupaten Kebumen, tepatnya di Desa Kalijajar, Kecamatan Ayah. Keindahan dan keunikan gua menjadi daya tarik yang luar biasa sehingga menarik minat para pengunjung dari berbagai penjuru. Ternyata, tidak hanya dari Kebumen atau Jawa Tengah saja. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan, terdapat para pengunjung dari propinsi lain di Jawa, bahkan penulis menemui beberapa pengunjung dari luar pulau Jawa.

Observasi terhadap objek wisata Gua Jatijajar ini penulis lakukan dengan secara langsung mendatangi lokasi pada tanggal 23 Maret 2008 dengan ditemani oleh seorang teman dari Banyumas. Penulis merasa tertarik untuk mengekplorasi keindahan alam gua jatijajar karena selain melakukan penelitian dalam bentuk observasi, penulis juga memperoleh manfaat dengan sekaligus melakukan wisata mengenal perbendaharaan kunjungan objek wisata. Paling tidak ini dilakukan selagi mendapat kesempatan tugas belajar di pulau Jawa.

Tulisan ini sendiri berusaha untuk mendeskripsikan keberadaan Gua Jatijajar sebagai objek wisata yang paling tidak meliputi keberadaan/kondisi geografis Gua Jatijajar, keindahan dan daya tariknya, sejarah yang melingkupinya, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan keberadaan Gua Jatijajar ini, termasuk penelusuran terhadap kondisi geologis gua dan sekitarnya. Sehubungan dengan hal itu, paling tidak terdapat beberapa rumusan masalah yang perlu dijawab dalam tulisan ini;

  1. Bagaimanakah sejarah dan gambaran umum Gua Jatijajar?
  2. Hal-hal apa saja yang menjadikan Gua Jatijajar menjadi objek wisata yang banyak diminati pengunjung. Fasilitas apa saja yang disediakan oleh pengelola, dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Kebumen, untuk melengkapi sarana dan memelihara objek wisata Gua Jatijajar?
  3. Bagaimanakah kondisi geologis gua menurut ilmu geologi?

Untuk menjawab permasalahan di atas, diperlukan upaya pengumpulan data. Pengumpulan data dalam tulisan ini paling tidak dilakukan dengan tiga teknik:

 

 

 

  1. Observasi

Peneliti melakukan observasi ke lokasi objek wisata Gua Jatijajar[1], Kabupaten Kebumen. Peneliti juga melakukan serangkaian pengamatan dan pencatatan dengan sistematik dari fenomena-fenomena yang diselidiki, baik langsung maupun tidak langsung terhadap keberadaan gua Jatijajar, dengan berusaha menelusuri pada tiap-tiap lorong gua dan keadaan sekitar gua.termasuk kemungkinan nilai-nilai sejarah yang terdapat di dalamnya.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk menggali informasi dari nara sumber. Nara sumber dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, yang terdiri dari petugas pengelola Gua Jatijajar dan pengunjung objek wisata.

  1. Pustaka

Data yang diperlukan secara detil, termasuk data-data kesejarahan, data-data tentang kondisi geologis, tentu akan sangat lebih akurat bila didapatkan dari sumber-sumber kepustakaan. Untuk memperoleh data tertulis mengenai Gua Jatijajar ini, penulis memanfaatkan media informasi internet. Dalam hal ini adalah situs resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen.

 

 

guajatijajar1

  1. Lokasi Gua Jatijajar

Gua Jatijajar terletak di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Gua ini terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong.

Untuk menuju obyek wisata ini, pengunjung tidak perlu bingung. Sebab, lokasinya dapat dengan mudah dicapai. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika ingin menggunakan kendaraan umum, pengunjung perlu naik bis umum jurusan Gombong-Jatijajar di Terminal Gombong.

  1. Gambaran Umum Gua Jatijajar

Ketika kita memasuki lorong gua, akan kita dapati fenomena yang sungguh luar biasa. Kita memang harus mempersiapkan sedikit energi ketika memutuskan untuk menyusuri sepanjang lorong gua. Gua ini membentang sepanjang +/- 250 meter. Menurut pengamatan penulis, lebar gua rata-rata 25 meter dengan ketinggian 15 meter. Hal ini memudahkan bagi pengunjung untuk memasukinya. Di dalam gua ini masih terdapat sungai bawah tanah yang masih aktif dan juga terdapat emapt buah sendang yakni: kantil, mawar, jombor dan puser bumi. Sendang Kantil dan Mawar dipercayai dapat menjadikan awet muda bagi siapa saja yang mau membasuh mukanya dengan air yang ada pada kedua sendang tersebut.

Untuk menikmati isi dari Gua Jatijajar ini, tidaklah membutuhkan keahlian tinggi dan mesti dilengkapi dengan peralatan caving yang lengkap. Di dalam gua ini telah dipasang berbagai lampu warna-warni yang akan menambah kesan tersendiri saat menikmatinya. Tidak hanya instalasi penerangan, di dalam gua ini juga telah diisi dengan berbagai patung seukuran manusia yang menceritakan kisah Raden Kamandaka atau yang lebih dikenal dengan kisah Lutung Kasarung. Patung-patung ini berwarna putih bersih dan diletakkan berkelompok-kelompok pada berbagai sudut gua mewakili suatu fragmen cerita. Sayangnya tidak adanya brosur yang lengkap pada objek ini mengakibatkan pengunjung yang tidak mengetahui cerita Lutung Kasarung, kurang bisa menikmati atau mengerti tentang fragmen apa yang sedang diceritakan oleh patung-patung tersebut. Ada baiknya saat menikmati isi gua ini, pengunjung didampingi dengan pemandu wisata sehingga bisa tahu dan menikmati isi gua secara lebih lengkap.

Di dalam gua juga telah dibuatkan jalur jalan yang terbuat dari semen. Pada bagian jalan yang menurun maupun mendaki juga telah dibuatkan anak tangga lengkap dengan pegangannya yang terbuat dari besi. Di sisi kiri dan kanan jalan pada jarak tertentu juga telah dipasang lampu penenrangan, yang kesemuanya  ini tentunya akan semakin memudahkan pengunjung untuk menjelajah seluruh isi gua. Gua ini juga masih memiliki banyak lubang keluar pada bagian atasnya, sinar matahari yang menerobos masuk kedalam gua memberikan kesan indah tersendiri saat dinikmati.

Bebatuan stalagtit dan stalagmit yang ada pada gua ini cukup menarik, di antaranya bahkan masih aktif untuk terus tumbuh. Hal ini ditandai dengan masih adanya air yang mengalir dan menetes pada ujung-ujungnya. Namun secara pribadi saya merasa keberadaan patung-patung yang ada pada gua ini, sedikit tidaknya memalingkan pengunjung untuk menikmati corak atau ornamen dari bebatuan yang ada. Permainan cahaya dari penerangan yang ada semestinya diatur sedemikian rupa sehingga bisa menambah kesan indah akan ornamen batu yang ada.

Pada sisi lain di bagian luar dari Gua Jatijajar, pengunjung akan menjumpai sebuah patung dinosaurus berwarna hijau berukuran besar dengan mulutnya yang menganga lebar. Dari dalam mulut tersebut mengalir air dengan derasnya, di mana air tersebut berasal dari sungai bawah tanah yang ada didalam/bawah gua jatijajar. Air tersebut mengalir keluar dari mulut patung dinosaurus menuju aliran sungai besar di mana pengunjung terutama anak kecil banyak memanfaatkannya sebagai sarana permainan air. Dimusim penghujan, air sungai tersebut mengalir sangat deras sekali bahkan bisa meluap dan menggenangi dasar Gua Jatijajar. Air ini diyakini tidak akan habis, meski dalam kondisi cuaca kemarau sekalipun. Air ini digunakan oleh penduduk sekitar Gua Jatijajar sebagai pengairan sawah-sawah mereka.

Menurut salah seorang petugas, Sugiyono, sebenarnya di kawasan objek wisata ini juga terdapat gua lain yakni Gua Dempok, Titikan dan Intan. Sayangnya fasilitas yang ada di dalam gua tidaklah selengkap seperti apa yang ada di Gua Jatijajar, sehingga sedikit sekali orang yang berminat untuk menelusurinya. Prasarana dan sarana yang ada di sekitar objek wisata juga telah cukup banyak, termasuk di antaranya sarana angkutan umum berupa bis berukuran sedang yang siap mengantar penumpang semenjak dari tepi jalan utama pantai selatan (pansel) Kebumen – Yogyakarta, hingga menuju lokasi objek wisata gua alam, Jatijajar.

Ketika menyusuri ruang gua lebih ke dalam lagi, pengunjung akan melihat ada banyak pemandangan yang begitu indah. Ruangan di dalam gua ini diterangi dengan banyak lampu, mulai dari arah masuk hingga ke luar, sehingga pengunjung tidak perlu risau dengan kondisi penerangan di sana. Di bagian langit-langit gua terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi gua. Di tengah-tengah ruangan terdapat kursi melingkar yang dapat digunakan sebagai tempat duduk pengunjung yang ingin istirahat, sambil melihat-lihat sekeliling ruangan dalam gua.

Pengunjung bisa melihat banyak ornamen stalagtit, stalagmit, dan tiang kapur (sebagai pertemuan antara stalagtit dan stalagmit). Di sana pengunjung juga dapat melihat delapan buah deodrama yang dipasang, ditambah adanya patung-patung yang berjumlah 32 buah. Patung-patung tersebut menceritakan kisah tentang Raden Kamandaka, yang kemudian dikenal dengan Legenda Lutung Kasarung. Konon, gua ini pernah menjadi tempat pertapaan Raden Kamandaka, putera mahkota Raja Pajajaran, untuk mendapat wangsit. Kenapa Raden Kamandaka sampai bertapa di daerah ini? Sebab ketika itu, Kebumen masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Padjajaran dengan pusat ibu kotanya Bogor (Batutulis), sekarang masuk wilayah Jawa Barat. Visualisasi dari legenda tersebut bisa dilihat dalam diodrama yang ada di dalam gua.

Pengunjung kemudian dapat melanjutkan perjalanan dengan cara menuruni tangga yang merupakan bagian dari ekor patung dinosaurus. Di ruang bawah terdapat beberapa sungai bawah tanah (sendang) yang masih aktif. Sungai-sungai itu merupakan salah satu keistimewaan Gua Jatijajar. Tercatat ada empat sendang (menurut sumber lain ada tujuh sendang, tapi data yang bisa diperoleh hanya ada empat saja), yaitu Sendang Mawar, Sendang Kantil, Sendang Jombor, dan Sendang Puser Bumi. Aliran air di Sendang Mawar melewati lubang sempit yang menembus hingga ke luar gua. Demikian halnya dengan aliran air Sendang Kantil.

Menurut teman penulis, yang menemani perjalanan penulis, konon katanya, jika pengunjung bisa mendekati dan membasuh muka dengan air di Sendang Mawar, maka ia akan awet muda. Masih menurutnya, ada pula kepercayaan bahwa jika seseorang membasuh muka atau mandi dengan air Sedang Kantil, maka niat atau cita-citanya akan cepat terkabul. Sementara itu, oleh pihak pengelola obyek wisata Gua Jatijajar, Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi sengaja dikeramatkan. Jika ingin menelusuri lorong gua melalui dua sendang tersebut, pengunjung harus mendapat ijin yang sangat ketat dari pihak pengelola.

  1. Sejarah dan Legenda Gua Jatijajar

Sejarah atau suatu tempat wisata pada umumnya akan diwarnai dengan legenda-legenda yang menyertai keberadaan objek wisata tersebut. Legenda-legenda seperti ini, menurut pengamatan penulis, ternyata tidak dapat diabaikan begitu saja. Hal ini disebabkan legenda seperti ini, pada kenyataannya merupakan salah satu daya tarik yang cukup signifikan bagi kebanyakan masyarakat untuk mendatangi objek wisata tersebut. Demikian juga yang tampaknya terjadi di objek wisata Gua Jatijajar.

Menurut data sejarah Gua Jatijajar sebagaimana dipublikasikan dalam situs resmi Kabupaten Kebumen,[2] Gua Jatijajar merupakan gua alam yang awalnya terbentuk dari batu kapur. Gua ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani yang bernama Jayamenawi pada tahun 1802. Ceritanya, ketika sedang mengambil rumput di ladang, ia terperosok ke dalam sebuah lubang. Sejumlah warga berusaha membantu Jayamenawi dengan cara membersihkan tanah penutup lubang. Mereka ternyata mendapati bahwa lubang tersebut mengarah ke dalam gua. Diperkirakan lubang tersebut merupakan lubang ventilasi gua.

Penyelidikan dilanjutkan, ternyata di dalam keadaan gua ditemukan 4 sendang (sungai) yang mempunyai khasiat berbeda. Misalnya, sendang Puser Bumi dan sendang Jombor, menurut ceritera rakyat (legenda/mitos) di sekitarnya mempunyai khasiat orang kaya, mendapat jodoh dan sebagainya. Di dalam Gua Jatijajar terdapat stalagtit dan stalagmit, serta tiang pilar kapur yang merupakan pertemuannya sebagai akibat terbentuknya endapat tetesan air hujan, secara kimiawi terjadi reaksi/senyawa dengan batuan yang ditembusnya.

Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan sebagai obyek wisata pada tahun 1975. Penggagasnya adalah Suparjo Rustam, ketika ia masih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Yang bertindak sebagai pelaksana proyek pembangunan Gua Jatijajar adalah CV. AIS dari Yogyakarta yang dipimpin oleh Bapak Saptoto, seorang seniman deodrama yang cukup terkenal di tanah air. Setelah Gua Jatijajar terbangun, pengelolaan obyek wisata ini dilakukan oleh pihak Pemerintah Daerah Dati II Kebumen. Fasilitas yang dibangun adalah pemasangan lampu listrik sebagai alat penerangand alam gua membantu wisatawan dalam kunjungannya, tiap-tiap beton atau tangga beton, serta diaroma yang menceritakan kisah Raden Kamandaka-Lutung Kasarung. Pada waktu lalu, wilayah Kabupaten Kebumen, termasuk Wilayah Kadipaten Pasir Luhur termasuk wilayah/Kerajaan Pajajaran, pusat pemerintahnya terletak di Bogor Jawa Barat. Adapun sebagai batasnya adalah Kali Lukula masuk Kerajaan Majapahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukula masih kerajaan Pajajaran. Ceritera ini berawal dari Kadipaten Pasir Luhur, yaitu Batu Raden atau Purwokerto pada abad ke 14.

Legenda Sekitar Gua Jatijajar

32 buah patung di sepanjang lorong gua, sebagaimana telah disebutkan, dibangun mulai tahun 1975. Ketika melihat patung-patung tersebut, penulis merasa terbawa dalam suatu peristiwa yang tentu melatarbelakangi dibuatnya patung-patung tersebut. Menurut Sugiyono, patung-patung tersebut menceritakan Legenda Raden Kamandaka.

Legenda ini berawal dari Karajaan Pajajaran. Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14 kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet. Prabu Siliwangi, raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak Ngampar.

Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja, menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas. Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya, Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi Kamandaka.

Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso. Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri. Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.

Masih menurut Sugiyono, Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu, yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur. Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Kamandaka.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba muncul Silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka. Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.

Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung, Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas. Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras). Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing.

Legenda sebagaimana diceritakan oleh Sugiyono juga penulis temukan pada website Kebumen di atas. Dalam situs itu disebutkan Kamandaka terus lari ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu dinamakan Desa Buntu). Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro. Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya = (sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar kalau mereka adalah bersaudara.

Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung (kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur. Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama Lutung Kasarung.

Dalam situs itu disebutkan, pada malam hari kera tersebut berubah wujud aslinya, yaitu Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. Hal itu hanya diketahui oleh Dewi Ciptoroso. Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi. Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung menyetujui. Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan keduanya berkelahi.

Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung. Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka. Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.

 

  1. Keadaan Geologis

Sebagaimana diinformasikan dalam situs www.kebumen.net, kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan. Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady, L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai kedalaman maksimum 60 m. Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10 juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat sekarang.

Dalam situs ini juga dijelaskan bahwa gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal tahun 1805.

Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.

Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata. Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua di balik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat berziarah.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan dan informasi sebagaimana di atas, dapat disimpulkan; pertama, Gua Jatijajar memiliki kelebihan berupa keunikan pada aspek kondisi gua yang memang sangat menarik sebagai objek wisata. Keindahan gua juga merupakan factor pendukung yang menarik dari gua ini. Kedua, dari pengamatan penulis menunjukkan bahwa fasilitas yang ada di objek wisata Gua Jatijajar pada dasarnya sudah cukup memadai, paling tidak bila dibandingkan dengan objek wisata sejenis di kabupaten lain, namun terkesan pemeliharaan kebersihan terhadap lingkungan tampak kurang diperhatikan. Ketiga, nilai-nilai ‘irrasional’ yang ada dalam gua, seperti keberadaan sendang-sendang dan mitos yang melekat padanya justru merupakan hasanah tersendiri yang menjadi salah satu daya pikat gua ini. Selain itu, legenda yang mewarnai keberadaan gua ini, terutama legenda tentang Kamandaka, seorang putra Raja Kerajaan Pajajaran, juga menjadi warna dan daya pikat bagi gua ini bagi masyarakat pada umumnya. Keempat, dari data geologis, dapat disimpulkan bahwa proses alam telah membentuk gua ini sepanjang jutaan tahun hingga kemudian menjadi seperti sekarang. Beberapa batu stalagmite dan stalagtit justru masih aktif dan berproses hingga sekarang. Proses alami ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Gua Jatijajar.

[1] Kegiatan observasi ini penulis lakukan pada tanggal 23 Maret 2008 langsung di objek wisata Gua Jatijajar di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

[2] http://www.kebumen.net

LEAVE A REPLY