HADIAH UNTUK SANG MUSUH

0
356

 

 

HADIAH UNTUK SANG MUSUH

 

 

            Az-Zarqa Binti Ady Al-Khufiyyah, dia termasuk wanita
yang fasih dan jelas bicaranya, mempunyai pemikiran dan pendapat yang cemerlang. Dalam peperangan antara Ali bin Abi Thalib dan
Muawiyah bin Abi Sufyan yang terkenal dengan Perang Shiffin,
Az-Zarqa bergabung dengan pasukan Ali bin Abi Thalib. Dalam peperangan
antar pemimpin Islam sendiri itu, Muawiyah
menjadi pemenangnya.

            Setelah peperangan usai, Muawiyah mengundang Az-Zarqa untuk datang menghadapnya. Az-Zarqa sama
sekali tidak merasa takut dan
khawatir. Dengan tenang iapun memenuhi panggilan dari khalifah ini.

            Muawiyah bertanya, “Tahukah engkau, mengapa aku mengundangmu?”

            Az-Zarqa menjawab, “Maha suci Allah, bagaimana mungkin aku bisa
mengetahui sesuatu yang aku tidak mempunyai
pengetahuan tentang sesuatu itu?
Adakah seseorang yang bisa mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati selain
Allah?”

            Muawiyah bertanya, “Bukanlah engkau menunggang unta merah pada
waktu perang Shiffin, dan engkau
berada di antara dua barisan,
membangkitkan semangat pasukan untk berperang?”

            Dengan tenang, Az-Zarqa menjawab, “Ya, begitulah.”

            Muawiyah bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu?”

            Az-Zarqa menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, pemimpin telah meninggal, dosa telah rerpotong, apa yang sudah pergi tak akan
kembali dan waktu terus bergulir.

Barangsiapa yang berpikir tentu akan
mengetahui, dan suatu urusan akan
disusul dengan urusan lain berikutnya.”

            Engkau benar.
Apakah engkau masih hapal
apa yang pernah engkau katakan?”

            Az-Zarqa menjawab, “Demi Allah, aku tidak hapal.”

            Muawiyah kemudian berkata, “Aku mendengarmu pernah berkata seperti begini, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah terseret ke dalamn
cobaan dan tabir-tabir kegelapan menutupi pandangan kalian, sehingga kalian mengikuti jalan yang dicari-cari.
Sungguh ini merupakan cobaan
yang buta, bisu dan tuli.
Kepahitan tidak bisa kita
dengar, apalagi sampai kepada pemimpinnya.

Tak ada gunanya lampu
dinyalakan di bawah terik matahari
dan tiada artinya cahaya bintang di bawah
sinar bulan.
Besi tidak bisa dipotong
kecuali dengan menggunakan besi.
Ketahuilah, siapa yang meminta petunjuk kepada kami, niscaya
kami akan
memberinya petunjuk, dan barangsiapa yang bertanya, niscaya kami akan menjawabnya.

            Wahai semua manusia,
sesungguhnya kebenaran akan dicari
orang yang kehilangan kebenaran itu hingga
mendapatkannya kembali. Bersabarlah wahai kaum Muhajirin
dan Anshar dalam menghadapi kesedihan ini.
Seakan-akan berbagai golongan yang terpecah belah telah berdamai, keadilan berjalan mulus dan kebenaran
menyingkirkan kebatilan.

Janganlah ada yang bersikap bodoh, lalu berkata,’Mana
mungkin tidak adil?’
Biarlah Allah menetapkan urusan
yang pasti berlaku.”

            Muawiyah kemudian berkata, “Demi Allah Wahai Zarqa, engkau telah
bersekutu dengan Ali dalam setiap darah
yang dia tumpahkan.”

            Namun dengan tenang Zarqa
menjawab, “Semoga Allah menyelamatkanmu.
Orang seperti
engkau seharusnya menggambarkan yang baik-baik dan orang yang mendengarnyapun akan senang.”

            Muawiyah bertanya, “Apakah engkau senang dengan
apa yang aku katakana tadi?”

            Az-Zarqa menjawab, “Begitulah. Demi Allah, aku senang mendengar apa yang engkau
ucapkan. Tetapi bagaimana aku harus membenarkan perbuatanmu?’

            Muawiyah menjawab, “Demi Allah, kesetiaanmu kepada Ali sesudah dia meninggal
dunia sangat membuatku kagum dari kecintaanmu kepadanya semasa hidupnya.
Sekarang apa yang engkau
perlukan?”

            Zarqa menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku sudah berjanji
kepada diriku sendiri, bahwa aku sama sekali
tidak akan meminta kepada pemimpin yang akan kutolong.
Tetapi orang semacam engkau, tentu akan
memberi, bukan karena masalah tertentu dan bermurah
hati meski tanpa diminta.”

            Muawiyah kemudian berkata, “Engkau benar.”

            Lalu Muawiyah memerintahkan agar memberikan hadiah berupa pakaian, uang dan lainnya
kepada Zarqa dan orang-orang yang bersamanya.

 

 

LEAVE A REPLY