HUKUM UPAH / HONOR DALAM MENGAJAR AGAMA

0
2713

HUKUM UPAH / HONOR DALAM MENGAJAR AGAMA

Tafsir Surat Al-Baqarah 159-160, dan 174

 

Oleh: M. Badrut Tamam

 dalam makuliah ilmu tafsir, PPS S2 IAIN Walisongo

 

  1. Pendahuluan

 

Dalam surat Al-Baqarah 159-160 terdapat indikasi perintah Allah untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang telah Dia diturunkan. Ayat tersebut melarang manusia untuk menyembunyikan ilmu-ilmu yang telah diturunkan-Nya dalam al-Kitab. Karena terdapat perintah larangan terhadap penyembunyian ilmu tersebut, maka implikasinya adalah perintah untuk menyebarkannya, atau dalam istilah sederhananya, mengajarkannya.

Ilmu pengetahuan akan bertahan dan berkembang di dunia ini jika ilmu tersebut diwariskan dan terdapat upaya untuk mengembangkannya. Ini hanya akan terjadi jika terdapat aktivitas belajar mengajar. Namun persoalan menjadi tidak sesederhana itu, karena dalam perkembangannya terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai boleh tidaknya mengambil upah dari aktivitas pengajaran ilmu-ilmu, khususnya dalam hal ini adalah ilmu agama.

Perbedaan tersebut timbul, disebabkan dalam ayat itu dijelaskan tentang larangan untuk menyembunyikannya. Larangan ini dipahami oleh para ulama sebagai kewajiban untuk mengajarkannya. Ketika suatu pekerjaan memang menjadi sebuah kewajiban, mungkinkah untuk mengambil upah dari pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya tersebut, sebagaimana orang mengerjakan shalat wajib, mungkinkah ia meminta upah dari ibadah shalat yang telah menjadi kewajibannya itu? Jika mengambil upah kemudian dilarang, bagaimana dengan hak para pengajar ilmu-ilmu agama?

 

  1. Pembahasan
  2. Al-Baqarah 159-160, dan 174

“Sesungguhnya orang-orang yang telah menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan (dilaknat) pula oleh semua mahluk yang bisa melaknat. Kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima tobatnya dan Aku lah yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Baqarah: 159-160).

 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS. Al-Baqarah: 174)

 

Asbabun Nuzul

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ihwal ahli kitab ketika mereka ditanya tentang apa yang ada dalam kitab mereka tentang kenabian Muhammad Saw., yang ternyata mereka menyembunyikannya dan tidak mau memberitahukannya karena rasa dengki dan marah. As-Suyuti meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, bahwa Muadz bin Jabal dan sebagian sahabat bertanya kepada segologan pendeta Yahudi tentang sebagian isi Taurat. Mereka kemudian menyembunyikannya dan menolak untuk memberitahukannya. Kemudian turunlah ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan tentang keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk.”[1]

Penyembunyian itu, menurut Ibnu Katsir, dimaksudkan agar kepemimpinan mereka tidak hilang dan hadiah-hadiah yang mereka terima dari bangsa Arab sebagai penghargaan atas nenek moyang mereka tetap mereka terima.[2] Mereka khawatir bila kebenaran itu mereka ungkapkan, maka manusia akan mengikuti Muhammad dan meninggalkan mereka.Karena itu, menurut Ibnu Katsir, mereka telah menyembunyikan kebenaran demi secuil harta. Maka merekapun rugi dunia akhirat.

Tafsir Surat Al-Baqarah: 159-160

Al-Kitman berarti menyembunyikan. Menurut Al-Maraghi, pengertiannya adalah menyebunyikan atau menutup-nutupi sesuatu. Terkadang mempunyai pengertian menghapus atau mengganti dengan yang lain.[3]

Firman Allah “fil-kitab” dalam ayat tersebut, menurut Al-Maraghi memiliki makna seluruh kitab Allah yang diturunkan dari langit.[4] As-Shabuni mengemukakan yang dimaksud yaitu kitab-kitab yang diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi manusia.[5] Berkaitan dengan firman di atas, pada umumnya para ulama sepakat bahwa yang dimaksud kitab itu adalah kitab Taurat sebagaimana asbabun nuzul di atas.

HAMKA mengemukakan bahwa pertanyaan tentang kenabian Muhammad itu disampaikan terutama kepada kaum Yahudi Madinah, ketika Rasulullah memulai dakwah. Pada dasarnya mereka mengetahui bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah Saw adalah benar. Di ayat 146 dijelaskan bahwa mereka telah mengenal siapa Rasulullah Saw, sebagaimana mereka mengenal anakkandung sendiri. Sifat-sifat Rasulullah Saw telah cukup jelas diterangkan dalam kitab Taurat.

Dalam tafsirnya, Al-Azhar, HAMKA mengutip keterangan tentang Rasulullah Saw dalam kitab Taurat tersebut. Keterangan tentang Rasulullah Saw misalnya tertuang dalam Kitab Ulangan pasal 18 ayat 15. Di situ termaktub perkataan Nabi Musa, “Bahwa seorang Nabi dari tengah-tengah kamu dari kalangan saudaramu, dan yang seperti aku ini, yaitu yang akan dijadikan Tuhan Allah bagimu, maka dia patut kamu dengar.”

Pada ayat 18 pasal 18 Kitab Ulangan tersebut, dijelaskan lebih detil sebagai sabda Tuhan Allah kepada Musa yang disuruh menyampaikan kepada Bani Israil: “Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka seorang Nabi dari antara segala saudaranya yang seperti engkau, dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan kepadanya segala yang Aku suruh akan dia.”

Pada ayat 19 dijelaskan lagi, “Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau mendengar akan segala firman-Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang lain.”[6]

Kitab Ulangan pasal 18 tersebut pada ayat selanjutnya, 20, 21, dan 22 masih membahas tentang sifat-sifat Nabi yang akan datang itu. Sampai sekarang, ayat-ayat tersebut masih dibaca oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Kitab Taurat oleh kaum Nasrani disebut denan Kitab Perjanjian Lama, yang juga dipakai oleh mereka hingga kini.

Yang menjadi permasalahan adalah siapakah Nabi yang dimaksud dalam kitab tersebut dalam pandangan kaum Yahudi dan Nasrani? Orang Yahudi, menurut HAMKA mengetahui dengan jelas bahwa itu adalah Muhammad, namun mereka menyembunyikannya. Pada zaman Nabi, mereka benar-benar menyembunyikan firman Tuhan tersebut. Sementara kaum Nasrani bersikukuh bahwa itu adalah Nabi Isa.

Kenyataan bahwa yang dimaksud dalam kitab Taurat tesebut adalah Nabi Muhammad, bukan Nabi Isa adalah bahwa yang akan diturunkan adalah Nabi yang serupa Nabi Musa. Keserupaan itu lebih dijumpai pada Nabi Muhammad daripada Nabi Isa, terutama Nabi Muhammad sama-sama sebagai manusia dari asal yang umum, beribu dan berbapak. Sementara Nabi Isa, ia tidak berbapak.

Selain itu, “dari antara segala saudara” sebagaimana dimaksud dalam kitab Taurat tersebut, adalah saudara yang satu keturunan, yaitu Bani Israil. Bani Israil adalah keturunan Nabi Ishaq dan orang Arab adalah keturunan Nabi Ismail. Keduanya adalah anak kandung Nabi Ibrahim, yang berarti Nabi Ismail adalah saudara Nabi Ismail. Dari sini akan diutus seorang Nabi yang seperti Nabi Musa juga.[7]

Al-Maraghi juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan istilah “anak saudara mereka” dalam kitab Ulangan tersebut adalah bangsa Arab anak cucu Ismail, saudara Ishaq yang keturunannya disebut kaumYahudi itu.[8]

Memperhatikan asbabun nuzul ayat di atas, diketahui bahwa ayat itu turun berkaitan dengan sikap golongan ahli kitab, para pendeta Yahudi dan Nasrani yang menyembunyikan sifat-sifat Nabi Saw. Namun demikian, pada umumnya, ulama tafsir menafsirkan bahwa ketentuan ayat di atas bukan hanya berlaku untuk golongan ahli kitab saja. As-Shabuni mengatakan bahwa ayat ini berlaku secara umum bagi orang-orang yang menyembunyikan ayat-ayat Allah, atau menyembunyikan hukum-hukum agama.[9] As-Shabuni mendasarkan pendapatnya pada kaidah ushul “al-ibratu bi umum al-lafdhi la bi khusussi al-sabab.” Ayat-ayat ini bersifat umum, menggunakan sighat isim maushul (al-ladzina yaktumuna). Oleh karena itu menurut as-Shabuni, menunjukkan arti umum.

Berkaitan dengan pemberlakuan ayat ini, Qurais Sihab juga mengemukakan, walaupun ayat ini turun dalam konteks kecaman terhadap orang-orang Yahudi, namun redaksinya yang bersifat umum menjadikannya sebagai kecaman terhadap setiap orang yang menyembunyikan apapun yang diperintahkan agama untuk disampaikan, baik ajaran agama maupun ilmu pengetahuan atau hak manusia.[10]

Berkaitan dengan hai ini, Raulullah Saw bersabda,

“Barangsiapa yang ditanyai tentang ilmu, lalu ia meyembunyikannya, maka di hari Kemudian, diletakkan di mulutnya kendali yang terbuat dari api neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada juga ucapannya yang sesuai. Masih menurut Qurais Sihab, memang tidak semua apa yang diketahui boleh disebarluaskan, walaupun itu bagian dari ilmu syariat dan bagian informasi tentang pengetahuan hukum. Informasi terbagi menjadi dua; ada yang dituntut untuk disebarluaskan –kebanyakan dari ilmu syariat demikian- dan ada pula yang yang tidak diharapkan sama sekali untuk disebarluaskan atau baru diharapkan untuk disebarluaskan setelah mempertimbangkan keadaan waktu atau sasaran. Tidak semua informasi disampaikan sama kepada yang pandai dan bodoh, atau anak kecil dan dewasa. Tidak juga semua pertanyaan perlu dijawab.[11]

Al-Maraghi berusaha menghubungkan ayat ini dengan psinsip amar ma’ruf nahi munkar.[12] Ketika seorang muslim melihat pelanggaran terhadap larangan Allah, agama dikesampingkan secara terang-terangan, bid’ah meggantikan kedudukan sunnah dan kesesatan telah mengalahkan petunjuk, tetapi orang itu diam bertopang dagu dan tidak berusaha mencaah, baiklisan dan perbuatan, maka ia termasuk orang yang berhak mendapat siksa dari Allah Swt sebagaimana tersebut di dalam ayat ini.

Allah telah melaknat Bani Israil yang ingkar, seperti firman Allah,

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

 

Firman Allah, ulaika ya al-anuhum Allah (mereka itu dilaknati oleh Allah), dengan isyarat jauh, adalah untuk menunjukkan buruknya amal perbuatan mereka dan ukuran jauhnya kedurhakaan dan pengrusakan yang mereka lakukan.

Kata al-Lainun dalam ayat tersebut memiliki makna orang yang melaknat.[13] Orang yang melaknat ini, menurut Al-Maraghi adalah para malaikat dan manusia, dan yang dimaksud dengan laknat mereka adalah doa mereka agar seseorang dijauhi dari rahmat Allah. Masih menurut Al-Maraghi, seluruh umat manusia yang terkena laknat Allah adalah akibat tidak adanya upaya amar makruf nahi munkar. Karena itu, menurutnya, dalam suatu umat sudah seharusnya terdapat orang yang secara khusus membidangi masalah tersebut di dalam rangka memenuhi tugas amar ma’ruf nahi munkar, sebagaimana yang diindikasikan dalam surat Ali Imran: 104.[14]

Pada ayat berikutnya (60), Allah Swt berfirman, “Kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima tobatnya dan Aku lah yang Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Ayat Ancaman Allah kepada orang yang menyembunyikan kebenaran tersebut akan mendapat ampunan Allah jika ia bertaubat untuk tidak menyembunyikan kebenaran dan mempercayai wahyu Allah kepada Muhammad.[15] Mengadakan perbaikan dalam ayat tersebut, menurut Quraish Shihab, paling tidak setimpal dengan kerusakan yang diakibatkannya. Serta menerangkan kebenaran, paling tidak juga sesuai dengan kadar yang ia sembunyikan.[16]

Tafsir Surat Al-Baqarah 174

Dalam Surat Al-Baqarah 174 Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah). mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”

Menurut HAMKA, menjual dengan harga yang murah adalah praktek memutarbalikkan hukum-hukum agama demi kepentingan pribadi atau golongan.[17] Ia mencontohkan, sebagaimana banyak disebut Imam Ghazali, tentang para ulama yang datang mengambil muka kepada orang-orang yang berkuasa. Mereka kemudian memberikan fatwa yang menguntungkan kepentingan penguasa tersebut. Karena hal ini para ulama tersebut mendapat hadiah dan gelar-gelar yang indah.

Al-Maraghi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan menjual dengan harga yang murah adalah ketidakbolehan mengadakan takwil, merubah hukum dengan pendapatnya sendiri dengan tujuan memperoleh imbalan duniawi. Termasuk dalam kategori ini adalah uang suap, upah atas fatwa yang mereka keluarkan secara bathil.[18] Ini adalah praktek menyembunyikan isi Kitab Allah yang sebenarnya, dan dengan kepentingan tertentu kemudian menjualya, maka upah yang diterima itu akan menjerumuskan ke dalam api neraka. Dikatakan bahwa imbalan itu sedikit karena dilakukan dengan menukarkan kebenaran dengan kebatilan, sekalipun imbalan itu bernilai banyak, tetapi tetap saja tidak bernilai sama sekali.

Mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Qurais Shihab mengemukakan, di sini Allah menyamakan orang yang makan makanan haram dengan makan api, yakni akan mengalami kepedihan dalam perut mereka. Ketika di dunia perutnya akan terasa panas sesaat setelah kenyang, dan di akhirat ia akan merasa perih yang luar biasa.

Itu merupakan siksaan dalam bentuk jasmani. Siksaan dalam bentuk ruhaninya adalah pada lanjutan ayat, Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat. Qurais Sihab mengemukakan, berbicara kepada seseorang merupakan suatu bentuk keharmonisan hubungan, tidak mengajak bicara, bisa jadi karena yang bersangkutan dianggap remeh karena perbuatannya. Wajar saja ia diabaikan. Qurais Sihab juga mengemukakan, bisa juga hal itu disebabkan karena perbuatannya yang telah melampaui batas.[19]

Allah tidak akan menyucikan mereka. Menurut al-Maraghi maksudnya adalah, Allah tidak akan membersihkan kotoran dan dosa-dosa mereka dengan cara memberikan ampunan atau member maaf perbuatan mereka, selama kematian mereka masih dalam keadaan kafir.[20]

Awal ayat ini adalah berkaitan dengan praktek menyembunyikan kebenaran yang telah jelas diturunkan atau diajarkan Allah. Terlebih jika keberan itu kemudian dijual dengan harga yang murah. Seberapapun mahalnya, tetap saja dikatakan murah. Ini menunjukkan bahwa kebenaran sangat jauh lebih berharga dari apapun dan tidak dapat ditukar dengan harta apapun. Mereka yang menyembunyikan kebenaran, terlebih jika menjualnya dengan imbalan harta, maka mereka diancam Allah dengan ancaman siksa yang pedih.

 

  • Hukum Mengambil Upah dari Mengajarkan Agama

Dalam pembahasan ini, kita akan kembali mengulas Surat Al-Baqarah 159-160, sebagaimana dalam pembahasan pertama. “Sesungguhnya orang-orang yang telah menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan (dilaknat) pula oleh semua mahluk yang bisa melaknat..”

Jika diperhatikan, pada Al-Baqarah ayat 174, juga memiliki redaksi kalimat yang sama, yakni berkaitan dengan praktek menyembunyikan kebenaran yang telah diturunkan Allah. Dari ayat ini, tampak jelas bahwa Allah memerintahkan untuk tidak menyembunyikan kebenaran (hukum-hukum Allah), yang telah diturunkan dalam al-Kitab. Makna selanjutnya adalah ayat ini memerintahkan kita untuk menyampaikan, megajarkan kebenaran tersebut. Sebagaimana disebutkan, berdasarkan ayat tersebut, para ulama berkesimpulan bahwa mengajarkan agama adalah kewajiban, karena merupakan perintah Allah.

Berawal dari hukum wajibnya mengajarkan agama ini, kemudian timbul persoalan, bolehkah mengambil upah dari mengajarkan agama tersebut, berhubung itu adalah kewajiban?

Pada umumnya, para ulama terdahulu berpendapat bahwa mengambil upah dari mengajarkan al-Qur’an tidak diperbolehkan. Sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Al-Mubarak, dari Abdur Rahman bin Zaid bin Jabir, dari Harun bin Yazid, bahwa Hasan al-Bashri pernah ditanya mengenai firman Allah Azza Wa Jalla, “Tsamanan qaliilaa” (harga yang murah) dalam ayat di atas, maka ia pun menjawab, “Harga yang murah adalah dunia dan segala isinya.” Abu Ja’far meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, mengatakan bahwa ayat tersebut artinya, “Janganlah kalian mengambil upah dari sebab mengajarkannya.”[21]

Para ulama yang tidak memperbolehkan mengambil upah dari pengajaran agama pada umumnya berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan perintah untuk tidak menyembunyikan. Ini berarti menjadi suatu kewajiban bagi orang Islam untuk mengajarkannya. Seseorang tidak berhak menerima upah dari sesuatu yang memang menjadi kewajibannya untuk dikerjakan, sebagaimana seseorang tidak berhak mendapat upah karena mengerjakan shalat yang menjadi kewajibannya.[22]

Abu Bakar al-Jasash, sebagaimana diungkapkan As-Shabuni, juga mengatakan, bahwa ayat tersebut menunjukkan kewajiban menyampaikan ilmu dan larangan menyembunyikannya. Karena itu ia berkesimpulan, dilarang mengambil upah bagi pengajarnya, karena tidak ada hak memperoleh upah bagi orang yang menunaikan kewajibannya.[23] Al-Jashash juga mengatakan bahwa dzahir ayat tersebut menunjukkan larangan mengambil upah secara keseluruhan karena firman Allah, “dan menjualnya dengan harga murah” itu melarang pengambilan ganti rugi dari berbagai seginya, karena harga itu menurut bahasa artinya “ganti.”

Sementara Fakhrur Razi berpendapat bahwa ayat tersebut telah menjelaskan ketidakbolehan mengambil upah mengajar, karena ayat ini menunjukkan wajibnya mengajar. Mengambil upah berarti mengambil upah atas penunaian kewajiban, sedang yng demikian itu tidak boleh. Ayat tersebut, menurut Fakhrur Razi, sebagaimana pendapat al-Jasash, melarang mengambil ganti atas pengajaran dalam segala seginya.[24]

Menyikapi pendapat para ulama mutaqaddimin yang tidak memperbolehkan mengambil upah mengajarkan agama, Wahbah Zuhaily menyimpulkan bahwa hukum bisa dirubah ketika hukum tersebut berdasarkan pada sebuah kaidah, analogi terhadap hukum lain, atau menjaga kemaslahatan. Hukum yang bersandar pada argumen di atas kemungkinan besar bisa dirubah sesuai dengan zamannya.

Pemahaman tersebut berdasaran atas kaidah fiqh yang berbunyi la yumkaru taghayyuru al-ahkam bi taghayyuril azman. Ibnu Abidin mengatakan, sebagaiana diungkapkan Az-Zuhaili, ia memandang disebabkan perubahan tradisi yang dipengaruhi oleh perubahan zaman, hukum-hukum yang diproduksi oleh pengaruh tradisi secara otomatis berubah juga.

Dalam penerapan konsepnya itu, Wahbah Zuhaily kebetulan mengambil contoh tentang kasus pengambilan upah dari pengajaran agama. Wahbah Zuhaily mengemukakan, disebabkan oleh perubahan zaman, maka hukum mengambil upah dari mengajarkan agama bisa menjadi mubah bagi orang yang mengajarkan al-Qur’an, menjadi imam masjid, khatib, muadzin, dan segala amal yang berbasis ibadah. Hukum kemubahan contoh di atas bertentangan dengan keputusan yang diambil ulama klasik yang jelas-jelas mengharamkan komersialisasi jasa yang berbasis ibadah.[25]

Selanjutnya Wahbah Zuhaily menjelaskan, bahwa fatwa ulama kontemporer menyimpulkan tentang kemubahan untuk mengambil honor mengajar al-Qur’an. Hal ini terjadi karena terdapat indikasi untuk melalaikan urusan-urusan yang berkaitan dengan agama, terputusnya sumber honor para pengajar dari baitul mal, hilangnya sifat mulia (muru’ah) di kalangan orang kaya. Keadaan tersebut sangat berbeda dengan masa-masa dahulu yang selalu mengutamakan ibadah, mengalirnya sumber honor dari baitul mal dan kemuliaan yang melekat di kalangan padagang dan orang kaya, sehingga ulama Hanafiyah memberikan sebuah kesimpulan pada masa dahulu setiap orang tidak membutuhkan honor sebagai ganti dari jasa ibadah.[26]

As-Shabuni juga berpendapat demikian. Menurutnya, para ulama mutaakhirin melihat adanya pergeseran semangat dan perhatian manusia terhadap pendidikan agama. pada saat ini, kebanyakan manusia lebih cenderung terhadap masalah-masalah keduniawian. Akibatnya adalah kurangnya perhatian untuk mempelajari al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama secara umum.[27] Disebabkan faktor-faktor inilah, maka para ulama mutaakhirin memperbolehkan mengambil upah atas pengajaran ilmu-ilmu agama. Bahkan sebagian mereka berpendapat, bahwa upah itu wajib diberikan kepada para pemelihara-pemelihara ilmu-ilmu agama.

Ulama Hanafiyah juga berpandangan demikian. Mereka memperbolehkan mengambil upah honor mengajarkan agama/al-Qur’an dengan beralasan bahwa dengan melihat perkembangan zaman dan terputusnya honor pengajar dan orang-orang yang menekuni syiar-syiar agama dari Baitul Mal, dan seandainya mereka menyibukkan diri untuk berprofesi sebagai petani, pedagang, maupun profesi lainnya, otomatis akan melalaikan al-Qur’an dan syiar-syiar agama.

Dari penjelasan di atas tampak bahwa para ulama mutaqaddimin tidak memperbolehkan pengambilan upah dari pengajaran agama karena para pengajar agama pada waktu itu telah ditanggung dari Baitul Mal. Persoalan menjadi lain, ketika para para pengajar itu tidak lagi memperoleh upah dari Baitul Mal. Ibnu Katsir berpendapat pengajaran ilmu agama dengan pemberian upah, jika hal itu merupakan suatu fardu ain terhadap dirinya, maka tidak dibolehkan baginya mengambil upah darinya, tetapi dibolehkan baginya menerima dari Baitul Mal guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Tetapi, jika ia tidak memperoleh suatu apa pun dari pengajarannya dan hal itu menghalanginya dari mencari penghasilan, maka berarti pengajaran tersebut tidak menjadi fardu ain, dan dengan demikian dibolehkan baginya mengambil upah mengajar. Imam Malik, Syafii, Ahmad, dan mayoritas ulama juga berpendapat demikian.[28]

Adanya fardhu ain dan bukan fardhu ain dalam keterangan Ibnu Katsir tersebut tampaknya akan berimplikasi pada profesi seseorang. Seseorang yang telah ditunjuk untuk mengajar dan karena itu ia dibayar dari Baitul Mal, maka ia tidak diperbolehkan mengambil upah dari pengajarannya. Jika seseorang tidak dibayar dalam aktivitasnya untuk mengajar itu, maka ia berhak untuk mengambil upah. Terlebih jika memang dia tidak memiliki pekerjaan. Dalam hal ini, mengajar bukan menjadi fardhu ain bagi dirinya, karena ia tidak ditunjuk dan dibayar untuk itu. Dan karena itu pula ia boleh mengambil upahnya.

Sehubungan dengan pendapat para ulama mutaqaddimin yang tidak memperbolehkan mengambil upah mengajar agama, as-Shabuni mengemukakan ada upaya untuk mengangkat aktivitas pengajaran dari derajat ilmu ke derajat ibadah. Itulah yang dilakukan oleh para ulama mutaqaddimin tersebut. Namun ia menambahkan, ketika fatwa tentang diperbolehkannya mengambil upah telah dikeluarkan, masih saja ilmu-ilmu syariat tidak begitu mendapat perhatian, apalagi jika mengajarkan ilmu agama tidak diperbolehkan mengambil upah? Maka tentu tidak akan ada lagi yang akan mengajarkan ilmu agama dan juga yang belajar.

Yusuf al-Qardhawi mengemukakan bahwa mengajar (al-Qur’an/agama) dilakukan dengan tiga bentuk: pertama dengan tujuan untuk beribadah saja, dan tidak mengambil upah. Kedua: mengajar dengan mengambil upah. Ketiga: mengajar tanpa syarat, dan jika ia diberikan hadiah ia menerimanya.

Menurut Qardhawi, yang pertama mengajar dengan tujuan ibadah saja tanpa mengabil upah, mendapatkan pahala dari Allah SWT, karena itu adalah amal para Nabi a.s. Yang kedua, mengajar dengan mengambil upah masih diperselisihkan. Sebagian ulama mengatakan: tidak boleh, dengan dalil sabda Rasulullah SAW: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” 48. Sementara sebagian ulama lain berkata boleh. Mereka beralasan, yang paling utama bagi seorang pengajar adalah tidak menentukan bayaran untuk menghapal dan mengajarkan baca tulis, dan jikapun ia menentukan bayaran itu maka agar tidak dilarang, karena ia membutuhkannya. Sedangkan yang ketiga, mengajar tanpa sayarat, jika ia diberikan hadiah ia menerimanya, dibolehkan oleh seluruh ulama.[29]

Terdapat sebuah hadits yang berkaitan dengan upah, walaupun tidak secara langsung berkaitan dengan pengajaran agama, bahwa disebutkan dalam suatu riwayat, sekelompok sahabat singgah di suatu suku Arab yang saat itu pemimpin mereka tersengat binatang berbisa. Mereka telah berusaha mengobatinya dengan berbagai cara tapi tidak berhasil, lalu mereka meminta kepada para sahabat itu untuk meruqyah, kemudian salah seorang sahabat meruqyahnya dengan surat Al-Fatihah, dan Allah menyembuhkan dan menyehatkannya. Sebelumnya, para sahabat itu telah mensyaratkan pada mereka untuk dibayar dengan daging domba. Maka setelah itu mereka pun memenuhinya. Namun para sahabat tidak langsung membagikannya di antara mereka sebelum bertanya kepada Nabi Saw, maka Nabi Saw bersabda. “Kalian benar. Bagikanlah dan berikan pula bagian untukku” (HR. Bukhari) Beliau tidak mengingkari perbuatan mereka. Dalam hadits lain disebutkan, bahwa beliau bersabda.“Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah Kitabullah” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW membolehkan pengajaran itu dijadikan sebagai mas kawin bagi seorang wanita. Yaitu saat Nabi Muhammad Saw memerintahkan sahabat itu untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan mas kawin bagi sahabat itu, hingga sebentuk cincin dari besi sekalipun. Kemudian Rasulullah SAW menanyakan surah apa yang ia bisa. Ia memberitahukan beberapa surah yang ia hapal. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat itu: “Pergilah, aku telah sahkan perkawinanmu dengan mas kawin mengajarkan Al Quran yang engkau hapal.” ( HR.Muttafaq Alaih) Artinya dengan pengajaran Al Quran yang dia lakukan kepada wanita itu. Ini semua adalah dalam masalah pengajaran Al Quran.

Hadits tersebut walaupun tidak secara langsung menyatakan tentang kebolehan mengambil upah dari mengajar al-Qur’an, namun di situ dapat dilihat adanya kebolehan mengambil upah atas sesuatu yang berhubungan dengan al-Qur’an. Ruqyah yang dibacakan oleh sahabat tersebut adalah bacaan al-Qur’an. Demikian juga dengan sabda Nabi di bagian terakhir, sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil upahnya adalah kitabullah.

 

  1. Penutup

Menyembunyikan kebenaran yang telah diturunkan Allah adalah dilarang secara tegas. Barangsiapa sengaja menyembunyikan kebenaran, ia diancam Allah dengan siksa yang pedih. Terlebih jika kebenaran itu disembunyikan, untuk kemudian diputerbalikkan demi kepentingan pribadi untuk memperoleh imbalan berupa harta.

Ayat ini juga berimplikasi pada kewajiban untuk menyebarkan kebenaran dalam al-Qur’an (ajaran agama), kepada sesame muslim. Mengajarkan agama adalah kewajiban, sesuai dengan teks ayat di atas. Namun demikian, kewajiban yang dimaksud tidak berarti menghalangi seorang muslim untuk mengambil upah dari kegiatannya mengajar. Para ulama mutaqaddimin memang berpendapat haram mengambil upah, namun tetap mereka diperbolehkan menerima dari baitul mal.

Para ulama mutaakhirin berpendapat bahwa mengambil upah diperbolehkan dengan beberapa pertimbangan. Saat ini tidak seluruh pengajar ditanggung oleh Baitul Mal, sehingga berakibat pada tiadanya imbalan yang diperoleh dari seorang pengajar dari manapun. Dalam kondisi demikian, seorang pengajar berhak mengambil upah dari penajarannya tersebut.

Secara umum, ayat-ayat di atas, menunjukkan perhatian Islam yang begitu besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu ini, menurut Qurais Sihab, bukan hanya ilmu agama, namun juga segala jenis ilmu pengetahuan, sebagaimana yang diindikasikan Rasulullah Saw dalam hadits Ibnu Majah, “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka di hari Kemudian, diletakkan di mulutnya kendali dari api neraka.”


DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir, dalam www.eramuslim.com

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, Tafsir Al-Maraghi,. Terj. PT. Toha Putra, Semarang 1983

Al-Qardhawi, Yusuf, Menghafal Al-Qur’an, dalam www.dakwah.info

As-Ashabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat Ahkan as-Shabuni, terj. PT. Bina Ilmu, Surabaya, 2003

As-Rifai, Muhammad Nasib, Ringkasa Tafsir Kastir, terj. Gema Insani Press, Jakarta, 1999

Dahlan, Abdul Azis [ed.] Ensiklopedi Hukum Islam Jilid VI, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya

HAMKA, Tafsir al-Azhar, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1994

Hasan, Abdul Halim Tafsir al-Ahkam, Jakarta: Kencan, 2006

Sihab, Quraish, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Lentera, Jakarta, 2003

Zuhaily, Wahbah, Subul al-Istifadah, Damascus, Darul Maktabi, 2001

[1] Muhammad Ali As-Ashabuni, Tafsir Ayat Ahkan as-Shabuni, terj. PT. Bina Ilmu, Surabaya, 2003, hlm. 101-102

[2] Muhammad Nasib As-Rifai, Ringkasa Tafsir Kastir, terj. Gema Insani Press, Jakarta, 1999, hlm. 273

[3] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,. Terj. PT. Toha Putra, Semarang, 1983, hlm. 50

[4]Ibid.

[5] Muhammad Ali As-Shabuni, Op. Cit., hlm. 102

[6] HAMKA, Tafsir al-Azhar, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1994, hlm. 31-32

[7] Ibid.

[8] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op.Cit., hlm. 52

[9]  Muhammad Ali As-Sabuni, Op.Cit., hm. 102-103

[10] Qurais Sihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Lentera, Jakarta, 2003, hlm. 370

[11] Ibid.

[12] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op. Cit., 53

[13] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op. Cit. hlm. 51

[14] Ibid, hlm. 54

[15] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op. Cit, hlm. 54

[16] Quraish Sihab, Op.Cit., hlm. 371

[17] HAMKA, Op.Cit., hlm. 60

[18] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op. Cit., hlm. 92

[19] Qurais Sihab, Op.Cit., hlm. 386-387

[20] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Op. Cit., hlm. 93

[21] Muhammad Ali As-Shabuni, Op.Cit., hlm. 104

[22]Ibid., hlm. 104

[23]Ibid.

[24]Ibid., hlm. 105

[25] Wahbah Zuhaily, Subul al-Istifadah, Damascus, Darul Maktabi, 2001, hlm. 22-23

[26] Ibid.

[27] Muhammad Ali As-Shabuni, Op. Cit., hlm. 104

[28] Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq, Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsier, sebagaimana dalam www.eramuslim.com

 

 

[29] Yusuf Al-Qardhawi, Menghafal Al-Qur’an, dalam www.dakwah.info

LEAVE A REPLY