KISAH SEBUAH KALUNG PERMATA

0
302

KISAH SEBUAH KALUNG PERMATA

 

 

Al-Qadhi Abu Bakar adalah penduduk kota Mekkah yang menjadi seorang hakim, sebagaimana tampak pada gelar di depan namanya. Pekerjaan hakim pada waktu itu tidak menjamin seseorang menjadi kaya seperti pada zaman sekarang.

Pada suatu ketika Sang Hakim ini merasakan sangat lapar. Ia tidak dapat memiliki makanan sedikitpun, sehingga ia merasa sangat tersiksa oleh rasa lapar itu.

Ketika ia sedang berjalan, secara tidak sengaja ia menemukan sebuah kantong dari sutra yang diikat dengan kaus kaki. Kaus kaki inipun terbuat dari sutra. Al-Qadhi termangu melihat kantong yang tergeletak itu. Ia menimbang-nimbang antara mengambil kantong itu atau tidak. Jika ia mengmbilnya, ia takut akan dituduh orang yang telah mencuri kalung tersebut. Namun jika tidak diambil, dapat saja kantong itu akan diambil orang yang tidak bertanggung jawab.

Akhirnya iapun mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah, dibukanya kantong itu. Betapa terpananya ia ketika melihat di dalam kantong itu ternyata berisi sebuah kalung permata yang indah dan tentu mahal harganya. Ia sendiri belum pernah melihat kalung seindah itu.

Al-Qadhi Abu Bakar kemudian keluar rumah. Pada saat itulah ia melihat seoran bapak tua yang berteriak-teriak mencari-cari kantongnya. Bapak tua itu menenteng sebuah kantong berisi uang lima ratus dinar yang akan diberikan kepada orang yang menemukan kantong permatanya itu dan memberikan kepadanya. Ia berseru,

“Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutra yang berisi permata.”

Al-Qadhi Abu Bakar berkata pada dirinya sendiri,

“Aku sedang membutuhkan uang, aku sedang lapar. Aku bisa menerima uang dinar emas itu sebagai imbalan aku mengembalikan kantong sutra ini padanya.”

Maka Al-Qadhi Abu Bakar berkata kepada bapak tua itu,

“Hai kemarilah.”

Lalu Al-Qadhi mengajak bapak tua itu masuk ke rumahnya. Setibanya di rumah, bapak tua itu menceritakan pada Al-Qadhi tentang ciri-ciri kantong sutra itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlah berikut benang yang mengikatnya.

Maka Al-Qadhi tahu bahwa semua ciri-ciri yang disebutkan bapak tua itu sama dengan kantong yang ditemukannya. Karena itu Al-Qadhi mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan diapun memberikan uang lima ratus dinar kepada Al-Qadhi.

Namun Al-Qadhi yang semula memang mengharapkan uang itu, ternyata justru tidak mau mengambilnya. Pada waktu itu Al-Qadhi berkata padanya,

“Memang seharusnya aku mengembalikannya padamu tanpa upah untuk itu.”

Bapak tua itu bersikeras, “Kau harus menerimanya.” Sambil memaksa.

Al-Qadhi tetap tidak mau menerima. Akhirnya bapak tua itupun pergi meninggalkan Al-Qadhi.

Beberapa setelah kejadian itu Al-Qadhi keluar dari kota Mekkah dan berlayar dengan perahu. Di tengahlaut, perahu tumpangan itu pecah, semua penumpang tenggelam dengan harta benda mereka.

Tetapi Al-Qadhi selamat dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu ia tetap berada di laut, tak tahu ke mana akan pergi. Ia terombang-ambing di tengah laut yang bagai tak berujung itu dan hanya dapat mengikuti di mana arus membawanya pergi.

Akhirnya Al-Qadhi terdampar di sebuah pulau yang berpenduduk. Ia kemudian menuju sebuah masjid yang terdapat di pemukiman penduduk itu. Ia duduk di masjid itu sambil membaca ayat-ayat al-Qur’an.

Ketika tahu bagaimana Al-Qadhi membaca al-Qur’an, seluruh penduduk pulau tersebut datang menemuinya seraya mengatakan,

“Ajarilah al-Qur’an kepada kami.”

Al-Qadhi pun memenuhi permintaan mereka. Setiap hari ia mengajari penduduk pulau itu membaca Al-Qur’an dengan baik, dari anak-anak hingga orang tua.

Mereka memberikan uang kepada Al-Qadhi hingga Al-Qadhi dapat mengumpulkan harta yang banyak.

Di dalam masjid, Al-Qadhi menemukan beberapa lembar kertas dan ia menulis sesuatu. Mereka melihat dan bertanya,

“Kau bisa menulis?”

Al-Qadhi menjawab, “Ya.”

Mereka berkata, “Kalau begitu, ajarilah kami menulis.”

Mereka pun datang dengan anak-anak mereka. Oleh Al-Qadhi diajari mereka tulis menulis. Dari situ Al-Qadhi juga memperoleh banyak uang. Setelah itu mereka berkata,

“Kami memiliki seorang putri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?”

Al-Qadhi menolak. Tetapi mereka terus mendesak dengan berkata,

“Tidak bisa, kau harus mau.”

Akhirnya Al-Qadhi menuruti keinginan mereka. Ketika mereka membawa anak yatim dimaksud ke hadapan Al-Qadhi, Al-Qadhi memandanginya. Tiba-tiba Al-Qadhi melihat kalung permata yang dulu pernah ia temukan di Mekkah melingkar di lehernya. Tak ada yang ia lakukan kecuali hanya memperhatikan kalung permata itu. Mereka bertanya,

“Sungguh kau telah menghancurkan hati putri yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya.”

Tentu saja Al-Qadhi merasa tidak enak dikatakan hanya menginginkan kalung itu. Meka ia pun menceritakan kepada mereka kisahnya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan takbir.

Al-Qadhi bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, “tahukah engkau, orang tua yang mengambil kalung darimu itu adalah ayah anak perempuan ini. Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim sebaik orang yang mengembalikan kalung ini kepadaku.’ Dia juga berdoa, ‘ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat meikahkannya dengan putriku.’ Dan sekarang keinginan ayah gadis ini sudah menjadi kenyataan.”

Al-Qadhi kemudian mulai mengarungi hidupnya dengan gadis itu. Mereka hidup bahagia hingga dikaruniai dua orang anak. Kemudian istrinya meninggal dan kalung permata itu menjadi harta warisan untuk Al-Qadhi dan kedua anaknya.

Tetapi kedua anaknya itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tangan Al-Qadhi. Lalu Al-Qadhi menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dengan uang itu, Al-Qadhi menjadi kaya raya.

LEAVE A REPLY