Pendidikan dan Kualitas Hidup

0
989

Pendidikan dan Kualitas Hidup

 

Oleh: M. Badrut Tamam

Disampaikan pada perkulihan Filsafat Pendidikan Program Doktor (S3) UIN Raden Fatah Palembang

 

 

DAFTAR ISI

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

BAB II

ILMU PENGETAHUAN DALAM ISLAM

  1. Kedudukan Ilmu dalam Islam
  1. Proses Belajar dalam Islam

 

 

BAB III

PENDIDIKAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL

  1. Pengertian Stratifikasi Sosial
  2. Stratifikasi Sosial Menurut Islam
  3. Pendidikan dan Stratifikasi Sosial

 

BAB IV

PENDIDIKAN DAN KUALITAS HIDUP

(Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi pula kualitas hidup seseorang)

 

  1. Ilmu dan Pendidikan
  2. Pendidikan dan Kualitas Hidup (Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi kualitas hidup seseorang)

 

BAB V

KESIMPULAN

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Diskursus tentang ilmu pengetahuan, pendidikan dan status sosial menjadi menjadi bahasan wajib dalam ilmu sosiologi. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan tingkat pendidikan seseorang terhadap status sosial dalam stratifikasi menjadi demikian erat. Pendidikan dalam ilmu sosiologi dipandang sebagai salah satu factor yang berpengaruh terhadap status sosial di masyarakat. Hal ini berarti semakin orang berilmu yang berarti memiliki tingkat pendidikan tinggi, maka akan mendapatkan status sosial tinggi pula.

Islam memberikan penegasan tentang ilmu pengetahuan. Ayat pertama turun bahkan merupakan perintah untuk membaca, yang berarti dipahami sebagai perintah untuk belajar dan memaknai fenomena ciptaan-Nya. Bahasan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan kemudian sampai pada hubungan orang berilmu dengan status sosial:

 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah, 58:11)

 

Secara tegas ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa Allah Swt mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Menurut Quraish Shihab ketika menafsirkan ayat ini, orang yang beriman dan berilmu pengetahuan akan menunjukkan sikap yang arif dan bijaksana. Iman dan ilmu tersebut akan membuat orang mantap dan agung. Tentu saja yang dimaksud dengan yang berilmu itu artinya yang diberi pengetahuan. Ini berarti pada ayat tersebut membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain baik secara lisan, tulisan maupun dengan keteladanan. (Quraish Shihab 2002:79-80). Menurutnya orang-orang yang dapat menguasai dunia ini adalah orang-orang yang berilmu, mereka dengan mudah mengumpulkan harta benda, mempunyai kedudukan dan dihormati orang. Ini merupakan suatu pertanda bahwa Allah mengangkat derajatnya.

Berdasarkan ayat tersebut, dapat dilihat hubungan kuat antara ilmu pengetahuan dengan derajat sosial seseorang. Derajat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tingkatan, martabat, pangkat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Martabat dan pangkat dalam kajian sosiologis berhubungan kuat dengan status sosial yang kemudian sangat menentukan tingkat stratifikasi sosial seseorang.

Kajian ini berusaha mendeskripsikan tentang hubungan ilmu pengetahuan, pembelajaran dan pendidikan, tingkat pendidikan terhadap status sosial seseorang dalam masyarakat, dan kemudian dianalisa mengenai hubungannya dengan kualitas hidup manusia, untuk menghasilkan kemungkinan sebuah teori; semakin tinggi ilmu pengetahuan dan tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas hidupnya.

 

 

BAB II

ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

 

  1. Kedudukan Ilmu dalam Islam

Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam Islam dapat dikethaui pada ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad saw.

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ , خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ , اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ , الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq, 96:1-5)

 

Menurut Quraish Shihab (2007: 433), kata iqra’ terambil dari akar kata  yang berarti menghimpun. Dari makna menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, membaca yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ayat pertama turun di atas mengandung makna bahwa objek yang harus dibaca tidak dibatasi. Semuanya diperintah untuk dibaca selama bacaan tersebut memberikan mamfaat untuk kemanusiaa. Pada ayat di atas juga terkandung makna bahwa membaca dianjurkan dilakukan secara berulang-ulang sebagaimana terdapat pengulangan pada perintah membaca pada suart tersebut. Pada surat tersebut juga terisyarat bahwa terdapat dua cara perolehan dan pengembangan ilmu. Pertama, yaitu Allah mengajar dengan pena (perolehan ilmu melalui alat-alat dan usaha manusia). Kedua, perolehan ilmu pengetahuan tanpa alat dan usaha manusia (ilham, intuisi, wahyu dan lain-lain).

Ilmu dengan berbagai gubahan bentuknya dalam al-Quran terulang sebanyak 854 kali pengulangan. Secara bahasa ilmu berarti kejelasan. Dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, maka objek ilmu dalam Islam terbagi kepada dua yaitu objek materi dan objek non materi (Quraish Shihab, 2007:436).

Islam sangat mementingkan ilmu dan pengetahuan. Bahkan al-Quran menggambarkan bahwa Allah memberikan ketinggian derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Allah juga menggambarkan bahwa hanya orang-orang yang berilmu yang memiliki rasa kekaguman kepada kebesaran dan keagungan Allah:

 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mijadilah, 58:11)

 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir, 35:28)

 

Islam mendorong umatnya untuk selalu mencari ilmu pengetahuan dan kemudian mengembangkannya. Di dalam al-Quran sangat sangat banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk menghidupkan budaya ilmiyah karena kebahagiaan serta kebaikan hidup di dunia dan akhirat sangat bergantung kepada kehidupan budaya ilmiah ini.

 

Menurut ‘Abd al-Hamid Hakim (tt: 7) sebagaimana dikutip Ahmad Rivauzi (2015: 308) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah “Ilmu adalah suatu sifat yang yang mengungkapkan tentang suatu objek dengan pengungkapan yang sempurna.”

Dalam bahasa Indonesia, “‘ilmu” diartikan dengan pengetahuan atau kepandaian (baik yang berkenaan dengan segala jenis pengetahuan kebatinan maupun yang berkenaan dengan alam dan sebagainya. Sedangkan pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui (W.J.S. Poerwadarminta, 1991: 373 dan 731)

Al-Raghib al-Asfahani (tt: 355) menjelaskan bahwa yang dikatakan ilmu adalah “Ilmu adalah mengetahui sesuatu sampai kepada hakikatnya, dan ia terbagi kepada dua. Pertama, mengetahui sesuatu, dan yang kedua mengetahui sesuatu dengan kepastian ada dan tiadanya.”

Abuddin Nata (2011: 365) mengutip pendapat Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani yang mengatakan bahwa ilmu atau pengetahuan adalah segala sesuatu yang dicapai atau didapatkan lewat panca indera, akal manusia, atau diperoleh melalui intuisi dan ilham.

Dalam perspektif Islam, semua jenis ilmu pengetahuan diyakini sebagai anugerah dan berasal dari Allah. Tidak ada manusia yang membuat ilmu. Manusia hanya menemukan atau memperoleh. Jenis ilmu science, mengkaji alam semesta yang kemudian dikelompokkan kepada ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat kauniyah. Sementara ilmu al-diniyyah (ilmu agama) yang sumbernya al-Qur’an dan Sunnah Nabi, disebut sebagai kelompok ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat qauliyah yang diperoleh melalui pengindraan terhadap ayat qauliyah, olah akal, dan olah hati dan intusi (Ahmad Rivauzi, 2015: 310)

Al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyah juga memotivasi umat Islam untuk memahami ayat-ayat kauniyah tersebut. Hal itu dapat dilihat dari besarnya perhatian al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, kata ilmu dalam berbagai bentuknya tidak kurang dari 854 kali disebut dalam al-Quran Al-Quran memuat ayat yang berbicara tentang ilmu atau keharusan mencari ilmu, termasuk ilmu-ilmu sience tersebut.  Sehingga pakar-pakar ke-Islaman berpendapat bahwa ilmu menurut al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika (Abuddin Nata, 2011: 367).

Ayat-ayat al-Quran memuat perintah yang terkait dengan perintah menggunakan akal (la’allakum ta’qilun) dan perintah merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah (yatadabbarun)  yang melahirkan ilmu filsafat dan ilmu hikmah bahkan ilmu ruhaniah (spiritual), perintah memperhatikan jagad raya (afala yanzhurun) melahirkan ilmu science, perintah mendalami dan memahami ajaran agama (yatafaqqahun) melahirkan ilmi agama atau ilmu al-diniyyah, yang semuanya merupakan kegiatan dari aktivitas ilmiyah  (iqra’) yang  secara keseluruhan berkaitan dengan aktivitas mengembangkan ilmu pengetahuan. Seluruh istilah tersebut dapat dipergunakan sesuai dengan bidang ilmu yang akan dikembangkannya. Dengan demikian munculnya berbagai istilah yang amat beragam dalam al-Qur’an menunjukkan adanya keragaman dalam ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa al-Qur’an mengakui eksistensi fan fungsi dari berbagai macam ilmu pengetahuan tersebut dalam kehidupan umat manusia (Abuddin Nata, 2005: 81-82).

 

  1. Proses Belajar dalam Islam

Menurut Hilgard yang dikutip Wina Sanjaya, belajar adalah proses perubahan prilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental ini dianggap terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari (Wina Sanjaya, 2010: 112). Sedangkan dalam pandangan Islam, belajar adalah perubahan al-Nafs dari ammarah dan lawwamah  menjadi nafs al-mutmainnah.

Proses belajar atau pembelajaran, menurut Wina Sanjaya (2010:107-108) memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:           

Pertama, pembelajaran adalah proses berpikir. Menurut Wina Sanjaya, belajar adalah proses berpikir dengan menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran tidak hannya menekankan kepada menekankan akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang harus diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (self regulated). Asumsi ini didasarkan kepada bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognisi yang dimilikinya. Sehingga atas asumsi ini, pembelajaran bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri.

La Costa (1985) dikutip Wina Sanjaya (2010: 107) mengklasifikasikan pembelajaran berpikir kepada tiga hal yang tidak bisa terpisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking. Pertama, Teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu. Misalnya, berpikir kritis, kreatif, dan lain sebagainya. Teaching of thinking pembelajaran yang menekankan kepada aspek tujuan pembelajaran. Teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognisi. Misalnya, menciptakan lingkungan belajar yang demokratis, iklim yang menyenangkan dan lain sebagainya. Sedangkan teaching about thinking adalah pembelajaran yang menekankan kepada upaya membantu murid agar lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis ini lebih menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Kedua, pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak. Pembelajaran menurut Wina Sanjaya adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Potensi otak yang dimaksudkan di sini adalah kiri yang bersifat logis, linear, dan rasional, dan otak kanan yang bersifat acak, intuitif, dan holistik (Wina Sanjaya, 2010: 108).

Ketiga, pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Belajar adalah siklus dan proses tampa henti di sepanjang kehidupan dan tidak dibatasi oleh dinding ruang kelas. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa sepanjang hidupnya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapainya. Dalam proses mencapai tujn itu tidak jarang manusia akan dihadapkan kepada berbagai tantangan. Untuk itulah manusia selalu membutuhkan proses belajar untuk bisa menghadapi berbagai masalah dan tantangan tersebut.

Di samping konsep karakteristik pembelajaran yang ditawarkan Wina Sanjaya di atas, dalam perspektif Islam, jelas bahwa pembelajaran tidak hannya proses berfikir, memanfatkan dan memaksimalkan potensi otak, dan berlansung sepanjang hayat, namun jauh lebih luas dan dalam dari pada itu. Di dalam pandangan Islam, pembelajaran adalah pengembangan semua potensi diri, jasmani dan rohani (al-Nafs).

Di dalam al-Quran dijelaskan bahwa pembelajaran dalam Islam disebut sebagai proses mengembangkan fithrah manusia dan menapak tilasi perjanjian yang telah terikrar di alam ruh dengan Allah. Dalam konteks ini, pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses pengembangan dimensi qalbu atau olah qalbu. Tanpa proses ini, maka dapat dipastikan pendidikan dan pembelajaran akan gagal membentuk pribadi yang utuh dan kedewasaan serta pematangan mental manusia akan gagal (Ahmad Rivauzi, 2015: 181-182).

Kata fitrah itu sendiri berulang sebanyak 20 kali di dalam al-Qur’an dalam berbagai bentuknya. Kata fitrah merupakan bentuk masdar dari fathara dengan segala perubahannya. Semuanya diturunkan dan digolongkan kepada surat Makiyyah dengan ciri-ciri:

  • Ditujukan kepada manusia secara umum
  • Berisi tentang keimanan bukan mu’amalah
  • Setiap penciptaan yang digambarkan Allah dengan menggunakan kata fitrah selalu dikaitkan dengan keimanan (Abd Mujib, 1997:23-25.

 

Abd Mujib mengatakan bahwa kata fitrah dapat dibagi kepada tiga katergori; Pertama, kata fitrah menunjukkan objek kepada manusia; Kedua,  jika kata fitrah menunjukkan kepada kondisi, maka fitrah bersifat psikis, namun jika ayat yang mengandung kata fitrah menunjukkan dan menggambarkan aktualisasi fitrah, maka dipahami bahwa struktur fitrah adalah psiko-pisik; Ketiga, fitrah merupakan suatu wujud yang abstrak yang membutuhkan pengaktulisasian melalui ibadah  Dalam hal ini, aktivitas dipahami sebagai aktualisasi fitrah, karena ibadah merupakan ekspresi suci, sehingga ibadah merupakan aktualisasi fitrah manusia yang sehat bahkan dipahami sebagai aktualisasi diri yang tertinggi.

Fitrah, secara etimologi berarti: Pertama, fitrah berarti al-insyqaq (pecah belah), objeknya adalah langit, kedua, al-khilqat, al-ījād, al-ibda’  (penciptaan), objeknya adalah manusia dan alam semesta yang meliputi psiko-pisik (Mujib, 1997:  34-35).

Penting ditegaskan di sini, makna nasabi  kata fitrah adalah, suci (ath-thahr), potensi ber-Islam, mengakui keesaan Allah atau tauhid dalam bentuk perjanjian pertama ( mitsaq awwal) dan perjanjian terakhir di alam materi (mitsaq al-ākhir), kontiniu (al-istiqamat) dan keselamatan (as-salamat), perasaan tulus, kesanggupan menerima kebenaran (isti’dad li qubūli al-Haqq), potensi dasar untuk mengabdi (syu’ur al-ubūdiyyah), ketetapan atau kejadian (as-sa’adah, asy-syaqawah), tabiat atau watak asli manusia, sifat-sifat Allah.

Sedangkan secara istilah, fithrah  adalah wujud organisasi dinamis yang terdapat pada diri manusia dan terdiri atas sistem psiko-pisik yang dapat menimbulkan tingkah laku (Abdul Mujib, 1997:   55).

Dengan demikian,  fitrah merupakan citra potensi penciptaan alam raya yang tidak bisa dilepaskan dengan citra Allah yang maha suci sebagai subjeknya. Dalam artian, dengan citra potensi penciptaan ini pada tahap berikutnya, Allah menciptakan citra penciptaan ruh dan jasad. Pada ruh ini terdapat qalbu dengan segala potensi yang dimilikinya.; fu’ad, shard, dan hawa,  seperti layaknya pada jasad yang memiliki organ-organ yang memiliki fungsi masing-masing.

Qalbu, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, bisa dipandang sebagai wujud materi organik yang terdapat pada jasad manusia, dan dapat dipandang sebagai sistem kognisi yang berdaya emosi (Mujib, 1997:  96). Sebagai sebuah citra penciptaan, maka fitrah secara umum dapat diartikan sebagi citra potensi dasar, dan citra energi mengaktual. Untuk memudahkan pemahaman, untuk membedakan antara fitrah yang masih bersifat potensial dengan yang sudah berkembang menjadi sebuah kemampuan, maka fitrah yang sudah berkembang dapat diistilahkan dengan “fitrah yang menjadi” (Ahmad Rivauzi, 2013: 109).

 

BAB III

PENDIDIKAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL

 

 

Kajian tentang stratifikasi sosial ini diperlukan untuk memperjelas makna “derajat” sebagaimana yang dimaksud dalam Qur’an surat al-mujadalah tersebut. Derajat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tingkatan, martabat, pangkat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991). Status sosial memiliki makna lebih dekat dengan derajat sebagaimana dimaksud al-Qur’an. Kajian ini akan menjelaskan mengenai derajat atau status sosial dalam konsep stratifikasi sosial secara sosiologis, stratifikasi sosial dalam Islam, dan pendidikan Islam.

Masyarakat manusia terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kenyataan itu adalah ketidaksamaan. Pembedaan atau ketidaksamaan anggota masyarakat ini dalam sosiologi dinamakan startifikasi sosial. Seringkali dalam pengalaman sehari-hari kita melihat fenomena sosial seperti seseorang yang tadinya mempunyai status tertentu di kemudian hari memperoleh status yang lebih tinggi dari pada status sebelumnya. Hal demikian disebut mobilitas sosial. Sistem Stratifikasi menurut sifatnya dapat digolongkan menjadi straifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup, contoh yang disebutkan di atas tadi merupakan contoh dari stratifikasi terbuka dimana mobilitas sosial dimungkinkan.

 

  1. Pengertian Stratifikasi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, stratifikasi adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal (Soerjono Soekanto, 2001: 252)

Menurut Pitrim A Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat  ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis), yang perwujudanya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas rendah yang didalamnya tidak ada keseimbangan  dalam pembagian hak, kwajiban, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat (dalam Soerjono Soekanto, 2001: 252)

Dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat berdasarkan status sosial secara vertikal, yang berbentuk kelas-kelas dengan status sosial tinggi dan rendah.

 

  1. Stratifikasi Sosial Menurut Islam

Walaupun al-Qur’an bukan kitab ilmiah -dalam pengertian umum-namun kitab suci ini banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan karena fungsi utama kitab suci al-Qur’an adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat, atau dalam bahasa al-Qur’an: litukhrija an-nas mina al-dzulumati ila al-nur, (mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang) (M. Quraish Shihab, 2007: 319)

Ada beberapa kata yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia antara lain; Qoum, Ummah, Syu’ub dan Qabail. Di samping itu, al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu seperti; al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh afun, dan lain-lain. (M. Quraish Shihab, 2007: 319)

Setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidupnya. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut, inilah yang melahirkan watak dan kepribadiannya yang khas. Dalam hal ini al-Qur’an menjelaskan: “Demikianlah kami menjadikan indah (di mata) setiap masyarakat perbuatan mereka”. ( QS. Al-An’am [6]: 108)

Suasana kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat itu, demikian juga ukuran-ukuran hal/sesuatu yang dianggap penting dan memiliki nilai lebih akan dianggap sebagai sesuatu yang berharga, dan kemudian melahirkan stratifikasi di dalam masyarakat tersebut.

Al-Qur’an sebagai kitab suci, juga berfungsi sebagai petunjuk untuk menata kehidupan umat manusia (Islam), sekaligus merupakan ajaran wahyu dari Tuhan yang memiliki pandangan sendiri tentang masyarakat, dan tentang nilai-nilai sosial sebagai sebuah sistem aturan (nilai) yang dianutnya. Sistem nilai itulah pada gilirannya menjadikan sesuatu hal/barang menjadi dihargai oleh masyarakt (Islam) dan kemudian melahirkan stratifikasi sosial dalam kehidupannya. Nilai-nilai sosial dari ajaran wahyu itu tentunya harus digali terus menerus—- dari beberapa ayat yang terkandung di dalamnya— untuk dijadikan pijakan dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini. Adapun nilai-nilai itu di antara adalah;

 

  1. Iman dan Ilmu

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah [58):11)

 

Dalam realitas di masyarakat pada umumnya, orang-orang yang berilmu senantiasa dihormati dan menempati posisi tinggi dibanding orang – orang yang tidak berilmu. Hal ini mendapat legitimasi dari al-Qur’an, bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu diangkat derajatnya oleh Allah baik di dunia maupun di akherat. Juga pada kenyataannya di masyarakat dapat

dilihat, bagi orang yang memiliki iman dan ilmu akan lebih sejahtera hidupnya di dunia ini bila dibandingkan dengan orang-orang/masyarakat lain yang tidak memiliki iman dan ilmu.

 

  1. Amal Perbuatan

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu

kerjakan.”(QS. Al-Taubah [9]: 105)

 

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasulnya, agar beliau mengatakan kepada kaum muslimin yang mau bertaubat dan membersihkan diri dari dosa-dosa dengan cara bersedekah dan mengeluarkan zakat dan melakukan amal shaleh sebanyak mungkin (Abdullah Bin Muhammad Alu Syaikh, 2012). Di samping itu, Allah juga memerintahkan kepada rasul-Nya agar menyampaikan kepada umatnya, bahwa apabila mereka telah melakukan amal-amal shaleh tersebut maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin lainnya akan melihat dan menilai amal-amal tersebut. Pada akhirnya mereka akan dikembalikan ke alam akhirat, dan akan diberikan ganjaran/pahala yang baik di surga-Nya kelak. Ini berarti bahwa, manusia akan dinilai dari seberapa jauh amal perbuatan baik atau buruk yang dilakukanya di masyaraakat.

Dalam kajian sosiologi manusia akan dinilai oleh kelompok masyarakat lainnya dari seberapa jauh mereka memiliki peran yang telah dilakukan di dalam lingkungannya. Setiap peran sosial adalah serangkaian hak, kewajiban, harapan, norma, dan perilaku seseorang yang harus dihadapi dan dipenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang-orang bertindak dengan cara yang dapat diprediksikan, dan bahwa kelakuan seseorang bergantung pada konteksnya, berdasarkan posisi sosial dan faktor-faktor lainnya (http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_peran).

Sosiolog Robert Park dari Universitas Chicago memandang bahwa masyarakat mengorganisasikan, mengintegrasikan, dan mengarahkan kekuatan-kekuatan individu-individu ke dalam berbagai macam peran (roles). Melalui peran inilah kita menjadi tahu siapa diri kita. Kita adalah seorang anak, orang tua, guru, mahasiswa, laki-laki, perempuan, Islam, Kristen. Konsep kita tentang diri kita tergantung pada peran yang kita lakukan dalam masyarakat. (http://rinawahyu42.wordpress.com/2011/06/07/teori-peran-rhole-theory/)

 

 

 

  1. Kekuasaan

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkaukehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imron, [3]: 26)

 

Menurut ayat di atas, timbulnya kekuasaan pada diri manusia adalah semata-mata pinjaman dari Allah SWT,37 “Dan Engkau muliakan barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan barang siapa yang kehendaki” Seluruh kekuasaan di langit dan di bumi semuanya adalah miliknya Allah SWT (Hamka, 1983: 142). Ayat ini sesunggunya memiliki arti bahwa kekuasaan yang diberikan kepada manusia di dunia ini adalah bersifat sementara dan merupakan pinjaman.

Dalam konteks sosiologi, Menurut Max Weber, kekuasaan adalah kesempatan (change probability) yang ada pada seseorang/sejumlah orang untuk melaksanakan kemauannya sendiri dalam suatu tindak sosial, meskipun mendapat tantangan dari orang lain yang terlibat dalam tindakan itu. Kesempatan merupakan suatu konsep yang sangat inti dalam sosiologi.

Lebih lanjut menurut Max Weber kekuasaan/otoritas merupakan legitimasi sosial. Weber menyebutkan tiga jenis otoritas, yaitu otoritas tradisional, kharismatik, dan legal rasional/birokratis. (Surjono Sukanto, 1990: 296-297)

Pelapisan-pelapisan yang terjadi di masyarakat adalah merupakan sebuah keniscayaan keberadannya. Hal ini termasuk masyarakat –ideal—dalam pandangan al-Qur’an. Setiap kelompok masyarakat memiliki sesuatu hal yang mengandung nilai-nilai yang dianut dan diagungkannya sesuai dengan falsafah hidupnya masing-masing.

Dalam masyarakat Islam pelapisan-pelapisan itu dianut berdasarkan nilai-nilai yang tercantum dalam kitab sucinya yaitu al-Qur’an dan ajaran rasul Muhammad SAW.

Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan di atas bahwa pelapisan masyarakat menurut al-Qur’an itu didasarkan pada beberpa hal diantaranya:

  1. Keiman seseorang
  2. Keilmuan yang dimiliki oleh sesorang
  3. Amal perbuatan (peran sesorang di masyarakat)
  4. Kekuasaan

 

  1. Pendidikan dan Stratifikasi Sosial

 

  1. Nasution (1994) menguraikan bahwa dalam berbagai studi, tingkat pendidikan tertinggi yang diperoleh seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya… Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi sebab anak golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Orang yang termasuk golongan sosial atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebaliknya anak yang orangtuanya buta huruf (kalangan miskin) tidak dapat diharapkan akan berusaha agar anaknya menikmati pendidikan tinggi (Nasution,1994: 30).

Sementara Soerjono Soekanto mengemukakan, ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang (Soerjono Soekanto, 1990: 296-297).

Pendidikan yang baik dipercaya dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi individu atau keluarga, pendidikan dipercaya sebagai jalan yang paling relevan untuk meningkatkan derajat kehidupan keluarga sehingga berlaku common sense  bahwa pendidikan dapat mempercepat terjadinya vertical sosial movement, yaitu perpindahan seseorang dari strata sosial yang lebih rendah ke strata yang lebih tinggi.

Status sosial memang sesuatu yang sangat penting. Berbagai cara dilakukan manusia untuk meningkatkan status sosial mereka. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Dari tiga jalur pendidikan yaitu mulai dari pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal,yang lebih menjanjikan dalam meningkatkan status sosial adalah jalur pendidikan formal dan nonformal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu.

Margaret Hewitt, sebagaimana dikutip Soekanto mengemukakan bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang didapat seseorang melalui pendidikan di sekolah dapat mempertinggi kemampuan (kesanggupan) pemasaran di dunia ekonomi, yang akan mengantarkannya pada posisi kelas tinggi. Sehingga, untuk mencapai posisi – posisi tertentu, diperlukan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, maka dasar dari kelompok status tersebut adalah faktor ekonomi dan pendidikan (Soerjono Soekanto, 1983: 252).

Kriteria utama dari status pribadi seseorang adalah pekerjaan atau mata pencaharian yang bersangkutan.  Stratifikasi yang didasarkan pada pekerjaan atau mata pencaharian, terutama berasal dari kemajuan yang dicapai secara pribadi. Tetapi Parsons mengakui, bahwa status yang tinggi itu juga bisa didasarkan pada warisan atau kelahiran (Farida Hanum, 2011: 29-31).

Bagaimanapun anak yang di didik di lembaga persekolahan, pada akhirnya akan kembali dan menjadi warga masyarakat. Berkenaan dengan ini mereka memerlukan pekerjaan untuk menopang kehidupannya. Untuk terjun kedunia kerja, seseorang dituntut memerlukan kesiapan tertentu yang diperlukan oleh lapangan kerja bersangkutan. Kesiapan tersebut meliputi pengetahuan, skill dan sikap. Fungsi penyiapan bagi kepentingan dunia kerja, dalam kenyataannya tidak terlepas dari perhatian lembaga pendidikan persekolahan.

Dalam kenyataannya di masyarakat, orang yang memiliki pendidikan tinggi kedudukannya dalam masyarakat selalu diperhitungkan. Orang yang memiliki gelar akademik baik langsung maupun tidak langsung dipercayainya akan dapat menduduki status sosial tertentu di lingkungan masyarakatnya. Ia akan mendapatkan hak-hak istimewa karena gelarnya, baik secara ekonomis, sosial, budaya, dan hak-hak ikutan lainnya. Ijazah dan gelar dianggap akan merupakan “tiket” untuk meningkatkan status sosial,  jabatan dan lain-lain di tempat ia berada. Akibatnya banyak orang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang S3 hanya untuk menggapai jabatan, golongan, dan status sosial yang lebih tinggi. Bukan karena mencintai pengetahuan.

Pendidikan, secara sosiologis, akan melahirkan suatu lapisan masyarakat terpelajar, yang menjadi fundamen bagi pembentukan formasi sosial baru, yaitu kelas menengah. Dengan pendidikan yang baik, kelas menengah terpelajar ini akan lebih mudah menyuarakan aspirasi publik, bersikap kritis, dan artikulatif. Dimensi sosial pendidikan menegaskan bahwa pendidikan akan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat, dengan indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Pendidikan akan meningkatkan status sosial individu atau kelompok masyarakat, yang kemudian menjadi instrumen dan kekuatan pendorong proses mobilitas vertikal.
  2. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan individu atau kelompok masyarakat untuk mendapatkan atau memilih jenis-jenis pekerjaan yang lebih baik. Yang akan berimplikasi pada perbaikan dan peningkatan penghasilan sehingga berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan derajat kesejahteraan dan kesehatan.
  3. Pendidikan akan membawa dampak langsung terhadap pengurangan kemiskinan apabila derajat kesejahteraan masyarakat kian membaik dan populasi penduduk miskin semakin berkurang.
  4. Pendidikan akan membekali individu dengan sejumlah keterampilan sosial seperti kemampuan berkomunikasi, menjalin interaksi sosial, dan membangun relasi harmonis di dalam kehidupan bermasyarakat. Bekal keterampilan sosial akan membuka akses ke dalam pergaulan hidup di masyarakat sehingga memungkinkan bagi individu untuk mengembangkan segenap potensi diri.
  5. Pendidikan akan membuka berbagai peluang untuk melakukan inovasi dan menyediakan sejumlah pilihan alternatif untuk mengembangkan kreativitas sosial di berbagai bidang kehidupan (Media Indonesia, 2010, “Dimensi Sosial-ekonomi Pendidikan, Senin  6 September,  27 Mei 2011).

Pendidikan tidak saja membuat seseorang menjadi atau memperoleh kedudukan dalam lapisan yang lebih tinggi, akan tetapi juga akan memberikan kemungkinan untuk memperoleh pendapatan yang tinggi pula. (Soerdjono Soekanto, 1984: 103.) Kesejahteraan, dalam hal ini dapat memberikan paling sedikit kemungkinan memperoleh kedudukan yang lebih baik, juga mungkin akan memperoleh fasilitas berkawan atau bergaul dengan mereka yang tergolong anggota lapisan yang tinggi.

Clark (1944) dalam bukunya yang berjudul, An Investment in People, menyatakan bahwa, “experiments in law-income communities show cleary that education can be used to help people obtain a higher standard of living through their own efforts”. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri.  Signifikansi antara tingkat pendidikan dengan tingkat keadaan ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi seseorang oleh Clark (1944) tersebut bisa diutarakan sebagai berikut (dalam Kelompok Kerja Pengkajian dan perumusan: 1999. Rangkuman Filosofi, Kebijaksanaan dan Strategi Pendidikan Nasional, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI) :

  1. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi pula tingkat penghasilannya (tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolah menengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruan tinggi maksimal antara delapan dan sembilan ribu dolar setahun).
  2. Tamatan sekolah dasar (atau sekolah menengah pertama) akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-34 tahun; tamatan sekolah menengah atas akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun dan tamatan perguruan tinggi akan mendapat hasil maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.
  3. Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapat hasil yang lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia tua mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja. Walau demikian tentulah dimaklumi bahwa tidak semua orang mengalami atau memiliki korelasi antara tingkat pendidikan dan penghasilan seperti di atas, penyimpangan tentu ada sebagaimana dalam masalah sosial lainnya.

 

 

 

BAB IV

PENDIDIKAN DAN KUALITAS HIDUP

(Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi pula kualitas hidup seseorang)

 

 

Ayat al-Qur’an, Al-Mujadalah 58:11 telah memberikan pemahaman bahwa Allah SWT memberikan penekanan terhadap pentingnya ilmu pengetahuan. Dalam Islam, ilmu pengetahuan bersifat universal, tidak terbatas pada ilmu yang bersifat ibadah, namun mencakup seluruh jenis keilmuan yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Dalam Surat Al-Mujadalah 58:11 ditegaskan lmu pengetahuan bukan hanya penting, tetapi berhubungan kuat dengan derajat seseorang di mata Allah SWT. Allah SWT menjanjikan peningkatan derajat bagi orang yang berilmu. Dalam kajian sosiologis, derajat dapat dipersepsikan sebagai status sosial seseorang, di mana status sosial merupakan unsure penting dalam sistem stratifikasi sosial.

Sebagaimana telah dijelaskan, Islam mengakui sistem stratifikasi sosial sebagai bentuk penghargaan terhadap usaha-usaha yang dilakukan manusia. Perintah-perintah terhadap kebaikan, perintah mencari rizki, pengakuan Islam terhadap kepemilikian, dan bahkan perintah taqwa yang kemudian Allah SWT membedakan status orang yang bertaqwa dengan yang tidak, telah menunjukkan indikasi kuat adanya pengakuan terhadap stratifikasi sosial.

Dari pembahasan tentang sratifikasi sosial, derajat atau status sosial memiliki korelasi kuat dengan penghargaan terhadap seseorang. Penghargaan diberikan hanya kepada orang-orang yang memiliki criteria-kriteria yang berhubungan dengan kualitas hidup seseorang. Dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki status sosial tinggi adalah mereka yang memiliki kualitas hidup tinggi juga. Sementara orang yang berstatus sosial tinggi di ataranya karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Orang yang berilmu pengetahuan, yang kemudian memiliki status sosial tinggi, pada umumnya telah menjalani proses pendidikan.

 

 

Ilmu dan Pendidikan

Mengenai hubungan ilmu yang diungkapkan al-Qur’an sebagaimana dalam surat al-Mujadalah tersebut, dengan pendidikan, menurut Hasan Langgulung, sebagaimana dikutip Jalaluddin (2003: 85) terdapat lima prinsip dasar yang menjadi acuan dalam penyusunan dasar pendidikan Islam, yakni pandangan terhadap manusia, alam, masyarakat pengetahuan dan akhlak.

Dalam pendidikan Islam, terdapat konsep tarbiyah dan ta’dib. Selain itu terdapat pula konsep ta’lim. Secara etimologi, ta’lim berkonotasi kepada pembelajaran atau transfer of knowledge. Dalam kaitan ini ta’lim cenderung dipahami sebagai proses bimbingan yang menitikberatkan pada peningkatan intelektualitas (Jalaluddin: 133).

Sebagaimana dalam bahasan sebelumnya, dalam konsep pembelajaran terdapat paling tidak tiga karateristik pembelajaran yakni proses berfikir, memanfatkan dan memaksimalkan potensi otak, dan berlansung sepanjang hayat. Di samping konsep karakteristik pembelajaran di atas, dalam perspektif Islam, jelas bahwa pembelajaran tidak hannya proses berfikir, memanfatkan dan memaksimalkan potensi otak, dan berlansung sepanjang hayat, namun jauh lebih luas dan dalam dari pada itu. Di dalam pandangan Islam, pembelajaran adalah pengembangan semua potensi diri, jasmani dan rohani (al-Nafs).

Pendidikan termasuk di dalamnya proses pembelajaran, di antara fungsi utamanya adalah selain transfer of knowledge juga merupakan proses berpikir, memaksimalkan potensi otak dan pengembangan seluruh potensi diri.

 

Pendidikan dan Kualitas Hidup (Semakin tinggi pendidikan, maka semakin tinggi kualitas hidup seseorang)

Kajian tentang kualitas hidup atau quality of life dan berbagai turunannya saat ini menjadi salah satu kecenderungan dalam bidang ilmu sosial, psikologi, budaya, ekonomi, politik, pemerintahan dan juga agama. Hal ini antara lain dapat dirujuk pada jumlah kata kunci yang akan muncul jika dilakukan pencarian pada database penelitian yang ada. Sejumlah kata kunci seperti well-being, satsifaction, human development, happiness, dan sebagainya dapat dijumpai dengan mudah dalam kajian ilmiah baik dalam orientasi individual maupun komunitas bahkan sampai level bangsa. Selain itu, sejumlah jurnal ilmiah yang secara khusus mengkaji topik berkaitan dengan kualitas hidup pun banyak bermunculan.

Dalam Islam, kualitas hidup berhubungan dengan beberapa aspek kehidupan. Sebagaimana dijelaskan El-Muhammady (2004) kualitas hidup dalam Islam memang selayaknya berhubungan dengan fisik, jiwa, dan pikiran mengingat Islam menjaga pemenuhan kebutuhan dasar berupa agama, kehidupan, pikiran, kesejahteraan, dan kemuliaan. Hal ini juga diperluas dengan fasilitas yang berkaitan dengan kebutuhan dasar tersebut. Disebutkan pula bahwa penggunaan Al-Baqarah (sapi) dan Al-Hadîd (besi) untuk nama surah dalam Al-Qur’an dan sejumlah istilah berkaitan dengan industri lain menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mencapai tahapan kehidupan ekonomi yang baik. Tahapan kehidupan ekonomi yang baik inilah yang kemudian menjadi salah satu pendorong capaian di berbagai bidang oleh umat Islam di masa kejayaannya.

Untuk menuju pada kesimpulan bahwa orang yang berpendidikan akan memiliki kualitas hidup yang baik, maka perlu dianalisa hubungan antara pendidikan dan kualitas hidup.

Jalaluddin (2003: 80) menjelaskan, merupakan fitrah manusia untuk menginginkan hidupnya bermakna, untuk diri maupun lingkungannya. Kehidupan yang bermakna akan membawa kesadaran pada diri manusia, bahwa eksistensinya dihargai dan tidak sia-sia dan bukan merupakan kehidupan yang sia-sia.

Masih menurut Jalaluddin (2003: 81), di sinilah pendidikan berperan. Menurutnya pendidikan adalah juga merupakan bagian dari upaya untuk membantu manusia memperoleh kehidupan yang bermakna hingga diperoleh suatu kebahagiaan hidup.

Clark (1944) sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya mengungkapkan bahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri.  Dalam hal ini Clark melakakukan studi dari sisi peningkatan taraf ekonomi. Signifikansi antara tingkat pendidikan dengan tingkat keadaan ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi seseorang oleh Clark (1944) tersebut bisa diutarakan sebagai berikut: makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi pula tingkat penghasilannya (tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolah menengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruan tinggi maksimal antara delapan dan sembilan ribu dolar setahun).

Apa yang diungkapkan Jalaluddin semakin mempertegas kesimpulan Clark mengenai hubungan pendidikan dan kualitas hidup. Kehidupan bermakna merupakan hal penting dalam criteria kualitas hidup manusia. Penghargaan yang diinginkan manusia, sebagaimana diungkapkan Jalaluddin, merupakan keinginan manusia untuk memiliki status sosial yang layak yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas hidupnya.

Di sinilah peran pendidikan, sebagai upaya untuk membantu manusia agar dapat hidup berkualitas, memiliki kualitas hidup yang baik. Kenyataan di masyarakat, hal ini bukan sekedar asumsi. Mereka yang memiliki pendidikan akan lebih bermakna hidupnya, memiliki status sosial lebih tinggi yang secara keseluruhan menjadikan hidupnya berkualitas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin membuka kemungkinan hidupnya lebih berkualitas.

Dalam Islam, kualitas hidup bukanlah sekedar peningkatan taraf ekonomi sebagaimana yang diungkapkan Clark. Kualitas hidup paling tidak, merujuk pada apa yang diungkapkan El-Muhammady, selayaknya berhubungan dengan fisik, jiwa, dan pikiran mengingat Islam menjaga pemenuhan kebutuhan dasar berupa agama, kehidupan, pikiran, kesejahteraan, dan kemuliaan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdul Mujib,  Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006

Abdul Mujib, Konsep Fitrah; Tela’ah atas Struktur Kepribadian dalam Perspektif Islam, (Padang: PPs. IAIN IB Padang, 1997

Abdullah Bin Muhammad Alu Syaikh, Lubab al-Tafsir min Ibn Kathir., Terjemah (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2012)

Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif al-Quran, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005) cet. I

Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Hadits, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005) cet. I

Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, Cet I.

Ahmad Rivauzi, Pendidikan Berbasis Spiritual; Pemikiran Pendidikan Abdurrauf Singkel dalam Kitab Tanbih al-Masyi, (Padang: Jasa Surya, 2013) Cet. 1

Ahmad Rivauzi, Wawasan Studi KeIslaman; Memahami Universalitas Islam untuk Mendidik Pribadi dan Masyarakat yang Berkarakter Rahmatan li al-‘Alamin, (Ciputat: Sakata Cendikia, 2015) Cet I

El-Muhammady, Muhammad ‘Uthman. 2004. Knowledge Society and Quality of Life – An Islamic Perspective. Makalah dipresentasikan pada 11th Leadership Seminar of the Southeast Asian Centre of Environmental and Urban Management (SEACEUM), diselenggarakan oleh Sultan Iskandar Institute of Johor, di Kuala Lumpur pada 19 Mei 2004.

Farida Hanum, Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta : Kanwa Publisher, 2011

Hamka, Tafsir al-Azhar, Jilid 3 ( Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1983)

http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_peran

http://rinawahyu42.wordpress.com/2011/06/07/teori-peran-rhole-theory/

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003)

  1. Quraish Shihab, Lentera al-Quran, Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung:Mizan, 2013 Edisi II, Cet. 1.,
  2. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 2006, Cet. XXIX
  3. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 2007, cet. XVIII

Media Indonesia, Dimensi Sosial-ekonomi Pendidikan, Senin  6 September,  27 Mei 2011).

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran , (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1991), Cet. III

  1. Nasution. M.A. Sosiologi Pendidikan, Edisi 2, Cetakan 1 (Jakarta: Bumi Aksara, 1994)

Soerdjono Soekanto, Struktur dan Proses Sosial : Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan, (Jakarta : Rajawali, 1984)

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001)

Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat, (Jakarta: Rajawali, 1983)

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)

Wina Sanjaya,  Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2010) Cet. VII

 

LEAVE A REPLY