ISLAM, PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN

0
1111

ISLAM, PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN

Oleh: M. Badrut Tamam, disampaikan pada perkuliahan Kajian Islam Komprehensif, Program S3 UIN Raden Fatah Palembang, 2015

BAB I

PENDAHULUAN

M. Quraish dalam Wawasan Al-Qur’an (2007:162) mengutip pendapat DR. A. Carel dalam bukunya Man the Unknown menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tentang dirinya sangat terbatas, hal itu disebabkan oleh: pertama, pada mulanya perhatian manusia tertuju pada penyelidikan tentang materi dan terlambat melakukan penelitian tentang diri manusia. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menjinakkan dan menundukkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata untuk mempertahankan diri dan melawan binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan dan sebagainya, sehingga mereka tidak menyempatkan waktu untuk memikirkan tentang dirinya. Begitupun halnya pada masa renaisans (zaman pembaharuan), para ahli di era itu hanya disibukkan untuk melakukan penelitian dan penemuan-penemuan baru yang berorientasi profit material dan menyenangkan publik, karena hal-hal yang baru tersebut mempermudah kehidupan mereka.

Kedua, sifat akal kita, seperti yang dinyatakan oleh Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup, karena ciri khas akal manusia kecenderungannya memikir-kan hal-hal yang sederhana dan tidak rumit. Ketiga, kehidupan perilaku manusia sangat multikomplek, tidak hanya didekati lewat penelitian-penelitian yang nampak saja, hanya dipengaruhi oleh faktor fisik-biologis, psiko-edukasi, maupun sosio-kultur, tetapi ada dimensi lain sebagai sumber kehidupan manusia, yaitu dimensi spiritual, yang akhir-akhir diakui oleh dunia psikologi modern, seperti apa yang dikemukakan oleh Viktor Frankl, bahwa kehidupan manusia tidak hanya didominasi oleh dimensi ragawi (somatis), kejiwaan (psikis), dan lingkungan sosial budaya. Frankl menyebutkan corak pandangan psikologinya ini dalam teori logoterapinya dengan neotic. Neotic Sering disebut dimensi keruhanian (spiritual), menurut Victor Frankl, pengertian ruhani di sini sama sekali tidak mengandung konotasi agamis, tetapi dimensi ini dianggap sebagai inti kemanusiaan dan merupakan sumber makna hidup, potensi dari berbagai kemampuan dan sifat luhur manusia yang luar biasa yang sejauh ini terabaikan dari telaah psikologi sebelumnya. Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan fisik-psikis-ruhani yang tak terpisahkan. Teori ini juga menganggap bahwa hasrat untuk hidup bermakna adalah motivasi utama manusia. Sedangkan Islam semenjak awal telah menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi (Q.S. Al-Isra:85)

Jika apa yang dikemukakan Viktor Frankl dan A. Carrel itu diterima, maka jalan untuk mengenal dan menemukan jawaban tentang hakikat manusia adalah merujuk kepada wahyu Ilahi. Usaha tersebut tentu tidak cukup hanya dengan mengambil satu atau dua ayat, tetapi seharusnya merujuk pada semua ayat al-Qur’an atau paling tidak ayat-ayat pokok yang berbicara tentang masalah yang dibahas, dengan mempelajari konteksnya masing-masing, dan diperkuat dengan penjelasan sunnah Rasul maupun penemuan-penemuan ilmiah yang telah mapan. Cara ini dalam disiplin ilmu al-Qur’an dikenal dengan metode tematis (maudhu’i).

Kajian tentang psikologi berdasarkan Islam menjadi penting karena dalam prakteknya banyak disiplin kelimuan Islam yang mendasarkan pada teori-psikologi. Dalam kajian pendidikan Islam misalnya, selama ini merujuk pada teori dan konsep psikologi perkembangan dan psikologi belajar dari psikologi konvensional (Barat). Sudah seharusnya teori-teori psikologi pendidikan Islam didasarkan pada psikologi Islam, karena terdapat perbedaan fundamental di antara keduanya. Di sinilah di antaranya, peran penting psikologi Islam.

BAB II

ISLAM, PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN

A. Pengertian Psikologi

Secara etimologi, psikologi memiliki arti ilmu-ilmu tentang jiwa. Dalam Islam, istilah jiwa memiliki padanan dengan kata nafs, meski ada juga yang menyamakan dengan istilah ruh. Namun begitu, istilah nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah ruh. Dan dengan demikian, psikologi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al nafs atau ilmu al ruh (Abdul Mujib, 2001 : 3)

Selanjutnya, istilah ilmu al nafs banyak dipakai dalam literatur psikologi Islam, meskipun sebenarnya term al nafs tidak dapat disamakan dengan istilah-istilah psikologi kontemporer seperti soul atau psyche. Hal demikian dikarenakan al nafs merupakan gabungan substansi jasmani dan ruhani, sedangkan soul dan psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia (Abdul Mujib: 5).

Sebagai sebuah disiplin ilmu yang relatif baru, psikologi baru dikenal pada akhir abad ke-18 M, meskipun akarnya telah menghujam jauh ke dalam kehidupan primitive umat manusia sejak zaman dahulu kala. Plato sudah mengatakan bahwa manusia adalah jiwanya, sedangkan badannya hanyalah sekedar alat saja. Aristoteles, berbeda dengan Plato, juga pernah mengatakan bahwa jiwa adalah fungsi dari badan seperti halnya penglihatan adalah fungsi dari mata (Ahmad Mubarok, 2000: 261).

Meskipun kajian tentang jiwa sudah ada sejak zaman Plato di Yunani, namun kajian tentang jiwa tersebut selanjutnya “menghilang” bersama dengan runtuhnya peradaban Yunani. Kemudian ketika pemikir-pemikir Islam mengisi panggung sejarah melalui gerakan penterjemahan dan kemudian komentar serta karya orisinil yang dilakukan pada masa Daulah Abbasysyiyah, esensi dari pemikiran Yunani diangkat dan diperkaya (Ahmad Mubarok: 262).

Namun begitu, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa pemahaman jiwa (nafs) oleh Islam para Ulama’ generasi pertama tidaklah diilhami dari pemikiran Yunani, tetapi dari al Qur’an dan Hadits. Hal ini bisa kita lihat dalam al Qur’an yang menyebut kata nafs tidak kurang dari 300 kali. Demikian pula dalam hadits, kata nafs banyak sekali di sebut.

Dalam perkembangannya, kaitannya dengan upaya membangun kesehatan mental manusia, kajian nafs ternyata bukan psikologi seperti yang kita kenal saat ini, tetapi tasawuf dan akhlak, yakni ilmu yang menekankan nafs sebagai sifat yang tercela yang perlu disucikan (tazkiyah al nafs) agar menjadi nafs yang sehat (nafs al muthma’innah) (Ahmad Mubarok: 262).

B. Dasar-dasar Psikologi dalam Islam

Ayat-ayat rabbani menjadi wawasan dan landasan Psikologi dalam Islam. Dalam QS. al-Fushshilat :53 Allah Swt berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-atanda (kekuasaan) Kami disegenap upuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelalah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa Dia menyakskan segala sesutu?”.

Dari ayat ini tersirat tiga ragam ayat Tuhan sebagai tanda keagungan-Nya: pertama, Firman Kitabi, diwahyukan dalam bahasa manusia melalui para Rasul (cq. Muhammad Saw). kemudian ditulis dan dikodifikasi dalam sebuah mushaf berupa kitab suci (al-Quran al-Karim). Kedua, firman Afaqi, yaitu ketentuan Tuhan yang eksis dan bekerja pada semesta alam, khususunya alam materi. Ketiga, firman nafsani ketentuan Tuhan yang ada dan bekerja pada diri manusia, temasuk kejiwaannya.

Ayat-ayat afaqi dan ayat-ayat nafsani lazim disebut sunnatullah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terlukis dalam semesta ciptaan-Nya dan sering berproses di dalamnya menjadi hukum alam (the law of nature).

Pendekatan psikologi dalam hal ini dapat digunakan untuk membuka rahasia sunnatullah yang bekerja pada diri manusia (ayat nafsani), dalam pengertian menemukan berbagai asas, unsur, proses, fungsi dan humum-hukum mengenai kejiwaan manusia (Hannna Djumhana Bastaman, 1997: 4).

Psikologi konvensional berpandangan bahwa perilaku kehidupan manusia sangat dipenga-ruhi oleh tri-dimensi: dimensi fisik-biologis, psiko-edukasi, dan sosio-kultural, sedang dimensi spiritual tidak mendapatkan tempat dalam ruang kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa hanya dengan menggunakan kemampuan intelektual semata dapat ditemukan dan diungkapkan asas-asas kejiwaan.

Psikologi konvensional berasumsi bahwa alam semesta secara keseluruhan bersifat materi, tanpa makna dan tujuan. Menurut psikologi sekuler, manusia tidak lebih dari organisme tubuh, pikiran manusia berkembang berasal dari sistem syaraf tubuh semata dan tidak mengakui adanya dimensi spiritual.

Menurut Islam, alam semesta diciptakan berdasarkan kehendak Tuhan, dan mencerminkan eksistensi-Nya. Al-Qur’an berkata: “bahwa milik Allah-lah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhan berada” (QS. al-Baqarah: 115)

Pendekatan psikologi dalam Islam memfungsikan akal dan keimanan, yakni dengan cara mengoptimalkan daya nalar yang obyektif-ilmiah dengan metodoginya yang tepat. Psikologi Islami mencoba memahami manusia dalam kerangka Islam. Pada dasarnya upaya yang dilakukan untuk mengembangkan psikologi yang bermuataan nilai-nilai ke-Islaman yang didasarkan pada tiga asumsi: pertama, para ahli mensinyalir bahwa abad ini adalah zamannya kecemasan (anxiety) dan kegelisahan (restlessness).

B. Perkembangan Psikologi Islam

Sejarah psikologi Islam berawal dari sejarah manusia itu sendiri. Hanya pada masa itu belum dinamai psikologi, walaupun pada prakteknya telah nampak nilai-nilai psikologis. Psikologi saat itu hanya masuk dalam piranti etika dan filsafat. Untuk fakta ini kita dapati beberapa referensi Qur’ani yang relevan, misalnya kita dapati relevansi psikologis dalam narasi al-Qur’an tentang kisah dua putera Adam. Salah seorang dari mereka (Qabil) melakukan pembunuhan atas saudaranya (Habil). Tuhan menceritakan:

”Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang merugi” (QS. Al-Maidah:30-31)

Pertumpahan darah yang pertama dalam sejarah kehidupan manusia karena dorongan nafsu ghadhab (instink tanathos=naluri kematian) dan kecemburuan yang berlebihan dari gejolak jiwa tak terkendali adalah realita tak terbantahkan dari perilaku psikologis umat manusia.

Kisah ini menjelaskan tentang motivasi psikologis yang menyimpang (kecemburuan yang berlebihan) dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia. Satu pelajaran lainnya dalam episode ini ialah bahwa manusia pun bisa belajar melalui proses imitasi (Qabil meniru burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan jasad saudaranya). Proses peniruan ini dalam psikologi dikenal sebagai asas perilaku (behavioristik) dari teori modelling (percontohan) Albert Bandura.

Selanjutnya perkembangan psikologi ilmiah di dunia Islam terjadi pada paruh abad pertengahan. Para sarjana Islam melakukan kajian-kajian tentang psikologi diilhami oleh ide-ide al-Qur’an. Al-Kindi (185-260H/801-873M) misalnya, dipandang sebagai filosof muslim pertama yang membahas tentang psikologi mengenai “Tidur dan mimpi”. Dalam “Filsafat Pertama”, ia membahas berbagai fungsi jiwa, dan tentang cara kerja pikiran manusia (Karsidi Diningrat, 1996: 16).

Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M), seorang filosof dan ahli kedokteran yang banyak memberikan sumbangan terhadap Psikologi Islami. Dalam bukunya yang termashur, al-Syifa, membahas tentang jiwa, eksistensinya, hubungan jasmani-ruhani, sensasi, persepsi dan aspek-aspek terkait lainnya. Dia membedakan antara persepsi internal dan persepsi eksternal. Dia juga menjelaskan beberapa emosi manusia yang tidak dimiliki binatang, seperti heran, senyum, tangis dan sebagainya. Di samping itu, dia juga mencoba menerangkan beberapa penyakit somatik. Al-Ghazali (450-505 H/1043-111M) hujjatul Islam, memainkan peranan penting dalam sejarah perkembangan semua cabang ilmu yang ada kaitannya dengan psikologi. Abdul Hamid al-Hasyimi, seorang Profesor psikologi di Universitas Raja Abdul Aziz menyatakan bahwa orang pertama yang menamai cabang ilmu psikologi sebagai ilmu yang mengkaji jiwa dan behavior (perilaku) manusia adalah al-Ghazali ((Karsidi Diningrat, 1996: 16).

Kitabnya yang sangat penomenal “Ihya ‘Ulumuddin” banyak membahas tentang jiwa dan perilaku manusia. Al-Ghazali juga yang membagi struktur keruhanian manusia ke dalam empat dimensi, yakni Kalbu (al-Qalb), Ruh (al-Ruh), Akal (al-Aql), dan Nafsu (al-Nafs). Menurutnya ke empat unsur itu masing-masing memiliki dua arti, yaitu arti jasmaniyah dan arti ruhaniyah (lathifah-ruhaniyyah-rabbaniyyah).

Fase selanjutnya, sangat banyak para pemikir Islam memberikan kontribusi penting bagi perkembangan psikologi Islam. Pada dekade ini kegandrungan pada wacana islamisasi sains semakin meningkat, tak terkecuali bidang ilmu psikologi.

Diawali symposium internasional Psikologi di Riyadh (1978). Symposium ini dilatar-belakangi ditutupnya sebuah fakultas psikologi sebuah perguruan tinggi di Saudi Arabia, kegiatan ini berusaha untuk mengkritisi teori-teori psikologi yang dipandang cendekiawan muslim banyak menyesatkan umat Islam dan aqidahnya. Salah seorang yang tampil pada acara tersebut adalah Malik B. Badri. Ia menghadirkan pemikiran yang kritis atas aliran-aliran psikologi Barat, terutama psikoanalisa dan psikologi behavioristik. Pemikiran yang sangat kritis ini mendapat perhatian dari banyak kalangan, maka diterbitkanlah buku, The Dilemma of Muslim Psychologists (1979), sebuah buku yang banyak menggairahkan diskusi di kalangan mahasiswa, aktivis dan intelektual muslim. Setelah terbitnya tulisan Badri, di Timur Tengah terbit pula buku Nahw ‘Ilm al-Nafs al-Islamy karya Hasan Muhammad Syarqawi (1979), ‘Ilm al-Nafs al-Ma’ashir fi al-Islam (1983) karangan Muhammad Mahmud (Dadan Jamaluddin, 2006: 3).

Buku Malik B. Badri pada tahun 1986 melalui penerbit Pustaka Firdaus diterjemah-kan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Dilema Psikologi Muslim, kemudian bermun-culan buku-buku karangan para penulis di luar bidang psikologi, seperti Sukanto M.M penulis buku Nafsiologi (1986), Zuardin Azzaino, seorang ahli ekonomi menulis Asas-asas Psikologi Ilahiyah (1990), Lukman Saksono dan Anharuddin menulis Pengantar Psikologi al-Qur’an (1992).

Momentum psikologi Islami di Indonesia diawali dengan terbitnya sebuah buku hasil karya Djamaluddin Ancok & Fuad Nasahari Suroso dengan judul Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (1994). Kemunculan buku ini berbarengan dengan berlangsungnya kegiatan Simposium Nasional Psikologi Islam I (UMS). Kehadiran buku-buku ini menjadi menjadi bahan diskusi untuk mengkritisi psikologi Barat juga menjadi alasan untuk lebih jauh menggali psikologi perspektif Islam tentang jiwa dan perilaku manusia. pada tahun 1995, seorang ilmuan psikologi yang sampai saat ini menggeluti wacana Psikologi Islami menerbitkan sebuah buku Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami adalah Hanna Djumhana Bastaman (]Dadan Jamaluddin: 3).

Karya-karya tersebut bisa menjadi kerangka rujukan untuk menambah khazanah dalam pengembangan teori-teori psikologi yang diharapkan secara langsung menggambarkan karakteristik dan identitas yang semuanya bernuara pada nilai-nilai Islami.

BAB III

PENDIDIKAN DALAM ISLAM

A. Kedudukan Ilmu dalam Islam

Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam Islam dapat dikethaui pada ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad saw.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ , خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ , اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ , الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq, 96:1-5)

Menurut Quraish Shihab (2007: 433), kata iqra’ terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari makna menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, membaca yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ayat pertama turun di atas mengandung makna bahwa objek yang harus dibaca tidak dibatasi. Semuanya diperintah untuk dibaca selama bacaan tersebut memberikan mamfaat untuk kemanusiaa. Pada ayat di atas juga terkandung makna bahwa membaca dianjurkan dilakukan secara berulang-ulang sebagaimana terdapat pengulangan pada perintah membaca pada suart tersebut. Pada surat tersebut juga terisyarat bahwa terdapat dua cara perolehan dan pengembangan ilmu. Pertama, yaitu Allah mengajar dengan pena (perolehan ilmu melalui alat-alat dan usaha manusia). Kedua, perolehan ilmu pengetahuan tanpa alat dan usaha manusia (ilham, intuisi, wahyu dan lain-lain).

Ilmu dengan berbagai gubahan bentuknya dalam al-Quran terulang sebanyak 854 kali pengulangan. Secara bahasa ilmu berarti kejelasan. Dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, maka objek ilmu dalam Islam terbagi kepada dua yaitu objek materi dan objek non materi (Quraish Shihab, 2007:436).

Islam sangat mementingkan ilmu dan pengetahuan. Bahkan al-Quran menggambarkan bahwa Allah memberikan ketinggian derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Allah juga menggambarkan bahwa hanya orang-orang yang berilmu yang memiliki rasa kekaguman kepada kebesaran dan keagungan Allah:

…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mijadilah, 58:11)

… إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir, 35:28)

Islam mendorong umatnya untuk selalu mencari ilmu pengetahuan dan kemudian mengembangkannya. Di dalam al-Quran sangat sangat banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk menghidupkan budaya ilmiyah karena kebahagiaan serta kebaikan hidup di dunia dan akhirat sangat bergantung kepada kehidupan budaya ilmiah ini.

Menurut ‘Abd al-Hamid Hakim (tt: 7) sebagaimana dikutip Ahmad Rivauzi (2015: 308) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah “Ilmu adalah suatu sifat yang yang mengungkapkan tentang suatu objek dengan pengungkapan yang sempurna.”

Dalam bahasa Indonesia, “‘ilmu” diartikan dengan pengetahuan atau kepandaian (baik yang berkenaan dengan segala jenis pengetahuan kebatinan maupun yang berkenaan dengan alam dan sebagainya. Sedangkan pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui (W.J.S. Poerwadarminta, 1991: 373 dan 731)

Abuddin Nata (2011: 365) mengutip pendapat Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani yang mengatakan bahwa ilmu atau pengetahuan adalah segala sesuatu yang dicapai atau didapatkan lewat panca indera, akal manusia, atau diperoleh melalui intuisi dan ilham.

Dalam perspektif Islam, semua jenis ilmu pengetahuan diyakini sebagai anugerah dan berasal dari Allah. Tidak ada manusia yang membuat ilmu. Manusia hanya menemukan atau memperoleh. Jenis ilmu science, mengkaji alam semesta yang kemudian dikelompokkan kepada ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat kauniyah. Sementara ilmu al-diniyyah (ilmu agama) yang sumbernya al-Qur’an dan Sunnah Nabi, disebut sebagai kelompok ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat qauliyah yang diperoleh melalui pengindraan terhadap ayat qauliyah, olah akal, dan olah hati dan intusi (Ahmad Rivauzi, 2015: 310)

Al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyah juga memotivasi umat Islam untuk memahami ayat-ayat kauniyah tersebut. Hal itu dapat dilihat dari besarnya perhatian al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, kata ilmu dalam berbagai bentuknya tidak kurang dari 854 kali disebut dalam al-Quran Al-Quran memuat ayat yang berbicara tentang ilmu atau keharusan mencari ilmu, termasuk ilmu-ilmu sience tersebut. Sehingga pakar-pakar ke-Islaman berpendapat bahwa ilmu menurut al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika (Abuddin Nata, 2011: 367).

Ayat-ayat al-Quran memuat perintah yang terkait dengan perintah menggunakan akal (la’allakum ta’qilun) dan perintah merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah (yatadabbarun) yang melahirkan ilmu filsafat dan ilmu hikmah bahkan ilmu ruhaniah (spiritual), perintah memperhatikan jagad raya (afala yanzhurun) melahirkan ilmu science, perintah mendalami dan memahami ajaran agama (yatafaqqahun) melahirkan ilmi agama atau ilmu al-diniyyah, yang semuanya merupakan kegiatan dari aktivitas ilmiyah (iqra’) yang secara keseluruhan berkaitan dengan aktivitas mengembangkan ilmu pengetahuan. Seluruh istilah tersebut dapat dipergunakan sesuai dengan bidang ilmu yang akan dikembangkannya. Dengan demikian munculnya berbagai istilah yang amat beragam dalam al-Qur’an menunjukkan adanya keragaman dalam ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa al-Qur’an mengakui eksistensi fan fungsi dari berbagai macam ilmu pengetahuan tersebut dalam kehidupan umat manusia (Abuddin Nata, 2005: 81-82).

B. Proses Belajar dalam Islam

Menurut Hilgard yang dikutip Wina Sanjaya, belajar adalah proses perubahan prilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan, tetapi belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental ini dianggap terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari (Wina Sanjaya, 2010: 112). Sedangkan dalam pandangan Islam, belajar adalah perubahan al-Nafs dari ammarah dan lawwamah menjadi nafs al-mutmainnah.

Proses belajar atau pembelajaran, menurut Wina Sanjaya (2010:107-108) memiliki tiga karakteristik sebagai berikut:

Pertama, pembelajaran adalah proses berpikir. Menurut Wina Sanjaya, belajar adalah proses berpikir dengan menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungan. Dalam pembelajaran tidak hannya menekankan kepada menekankan akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang harus diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (self regulated). Asumsi ini didasarkan kepada bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognisi yang dimilikinya. Sehingga atas asumsi ini, pembelajaran bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri.

La Costa (1985) dikutip Wina Sanjaya (2010: 107) mengklasifikasikan pembelajaran berpikir kepada tiga hal yang tidak bisa terpisahkan, yaitu teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking. Pertama, Teaching of thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu. Misalnya, berpikir kritis, kreatif, dan lain sebagainya. Teaching of thinking pembelajaran yang menekankan kepada aspek tujuan pembelajaran. Teaching for thinking adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap pengembangan kognisi. Misalnya, menciptakan lingkungan belajar yang demokratis, iklim yang menyenangkan dan lain sebagainya. Sedangkan teaching about thinking adalah pembelajaran yang menekankan kepada upaya membantu murid agar lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Jenis ini lebih menekankan kepada metodologi yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Kedua, pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak. Pembelajaran menurut Wina Sanjaya adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Potensi otak yang dimaksudkan di sini adalah kiri yang bersifat logis, linear, dan rasional, dan otak kanan yang bersifat acak, intuitif, dan holistik (Wina Sanjaya, 2010: 108).

Ketiga, pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Belajar adalah siklus dan proses tampa henti di sepanjang kehidupan dan tidak dibatasi oleh dinding ruang kelas. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa sepanjang hidupnya manusia akan selalu dihadapkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapainya. Dalam proses mencapai tujn itu tidak jarang manusia akan dihadapkan kepada berbagai tantangan. Untuk itulah manusia selalu membutuhkan proses belajar untuk bisa menghadapi berbagai masalah dan tantangan tersebut.

Di samping konsep karakteristik pembelajaran yang ditawarkan Wina Sanjaya di atas, dalam perspektif Islam, jelas bahwa pembelajaran tidak hannya proses berfikir, memanfatkan dan memaksimalkan potensi otak, dan berlansung sepanjang hayat, namun jauh lebih luas dan dalam dari pada itu. Di dalam pandangan Islam, pembelajaran adalah pengembangan semua potensi diri, jasmani dan rohani (al-Nafs).

Di dalam al-Quran dijelaskan bahwa pembelajaran dalam Islam disebut sebagai proses mengembangkan fithrah manusia dan menapak tilasi perjanjian yang telah terikrar di alam ruh dengan Allah. Dalam konteks ini, pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses pengembangan dimensi qalbu atau olah qalbu. Tanpa proses ini, maka dapat dipastikan pendidikan dan pembelajaran akan gagal membentuk pribadi yang utuh dan kedewasaan serta pematangan mental manusia akan gagal (Ahmad Rivauzi, 2015: 181-182).

Fitrah, secara etimologi berarti: Pertama, fitrah berarti al-insyqaq (pecah belah), objeknya adalah langit, kedua, al-khilqat, al-ījād, al-ibda’ (penciptaan), objeknya adalah manusia dan alam semesta yang meliputi psiko-pisik (Mujib, 1997: 34-35).

Sedangkan secara istilah, fithrah adalah wujud organisasi dinamis yang terdapat pada diri manusia dan terdiri atas sistem psiko-pisik yang dapat menimbulkan tingkah laku (Abdul Mujib, 1997: 55).

Dengan demikian, fitrah merupakan citra potensi penciptaan alam raya yang tidak bisa dilepaskan dengan citra Allah yang maha suci sebagai subjeknya. Dalam artian, dengan citra potensi penciptaan ini pada tahap berikutnya, Allah menciptakan citra penciptaan ruh dan jasad. Pada ruh ini terdapat qalbu dengan segala potensi yang dimilikinya.; fu’ad, shard, dan hawa, seperti layaknya pada jasad yang memiliki organ-organ yang memiliki fungsi masing-masing.

Qalbu, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, bisa dipandang sebagai wujud materi organik yang terdapat pada jasad manusia, dan dapat dipandang sebagai sistem kognisi yang berdaya emosi (Mujib, 1997: 96). Sebagai sebuah citra penciptaan, maka fitrah secara umum dapat diartikan sebagi citra potensi dasar, dan citra energi mengaktual. Untuk memudahkan pemahaman, untuk membedakan antara fitrah yang masih bersifat potensial dengan yang sudah berkembang menjadi sebuah kemampuan, maka fitrah yang sudah berkembang dapat diistilahkan dengan “fitrah yang menjadi”.

BAB IV

ISLAM, PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN

A. Menuju Psikologi Islam

Empat aliran psikologi yang sudah berdiri saat ini adalah psikoanalisis, behavioristik, humanistic dan psikologi transpersonal. Keempat pendekatan ini belum mampu menjawab secara integral tentang karakteristik dan essensi perilaku manusia. Maka disepakati bahwa salah satu visi psikologi Islami adalah sebagai mazhab kelima, menjadi aliran yang independen, yang diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dan memililki pandangan-pandangan yang khas.

Protes kalangan Islam terhadap konsep psikologi Barat terutama terletak pada nilai spiritualitas yang sama sekali tidak menjadi dasar dan konsep dari psikologi konvensional tersebut (Barat) tersebut. Hal ini dipandang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Para pakar psikologi dari kalangan umat Islam kemudian berusaha untuk merumuskan konsep mengenai psikologi Islam atau Islami.

Psikologi konvensional berpandangan bahwa perilaku kehidupan manusia sangat dipenga-ruhi oleh tri-dimensi: dimensi fisik-biologis, psiko-edukasi, dan sosio-kultural, sedang dimensi spiritual tidak mendapatkan tempat dalam ruang kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa hanya dengan menggunakan kemam-puan intelektual semata dapat ditemukan dan diungkapkan asas-asas kejiwaan.

Psikologi tradisional (konvensional) berasumsi bahwa alam semesta secara keseluruhan bersifat materi, tanpa makna dan tujuan. Menurut psikologi sekuler, manusia tidak lebih dari organisme tubuh, pikiran manusia berkembang berasal dari sistem syaraf tubuh semata dan tidak mengakui adanya dimensi spiritual.

Menurut psikologi Islami, alam semesta diciptakan berdasarkan kehendak Tuhan, dan mencerminkan eksistensi-Nya. Al-Qur’an berkata: “bahwa milik Allah-lah Timur dan Barat, kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhan berada” (QS. al-Baqarah: 115)

Psikologi Islami mendekatinya dengan memfungsikan akal dan keimanan, yakni dengan cara mengoptimalkan daya nalar yang obyektif-ilmiah dengan metodoginya yang tepat. Psikologi Islami mencoba memahami manusia dalam kerangka Islam. Pada dasarnya upaya yang dilakukan untuk mengembangkan psikologi yang bermuataan nilai-nilai ke-Islaman yang didasarkan pada tiga asumsi: pertama, para ahli mensinyalir bahwa abad ini adalah zamannya kecemasan (anxiety) dan kegelisahan (restlessness). Dunia mengalami krisis moral dan kepercayaan, sehingga kondisi kejiwaan seseorang mulai membutuhkan suasana yang menyejukkan. Salah satu solusi yang dipandang cukup signifikan dalam menyelesaikan problem kejiwaan tersebut adalah dengan menghadirkan diskursus psikologi. Kedua, psikologi kontemporer sekuler yang hanya semata-mata menggunakan kemampuan intelektual belum mampu memecahkan problem kejiwaan manusia, dan memang sesuai dengan cirinya yang netral-etik-antrophosentris, psikologi ini memaksakan diri hanya pada pendekatan empiris. Akibatnya, psikologi tercerabut dari akar pengertiannya yang semula bermaksud membahas tentang jiwa manusia dialihkan pada pembahasan “gejala jiwa”. Perubahan ini memunculkan kritik terhadap keberadaan psikologi, yang didefinisikan sebagai “ilmu jiwa yang tidak mempelajari jiwa, atau ilmu jiwa yang mempelajari manusia tidak berjiwa”.

Pengertian model psikologi seperti ini mengakibatkan distorsi fungsi hakikat psikologi. Agar psikologi tetap pada fungsinya, diperlukan pendekatan baru dalam pengem-bangannya. Salah satunya adalah dengan menghadirkan nilai-nilai Islam. Hal ini ternyata banyak menginspirasi para ilmuan Barat akan kebekuan dan kekeringan teori-teori Barat dalam menganalisa kejiwaan manusia, sehingga memunculkan teori-teori baru dan menggulirkan mazhab baru dalam perkembangan psikologi yang dimulai dengan penemuan Viktor Frankl dengan “logoterapi”-nya. Teori ini meretas jalan berdirinya satu aliran baru yang menjadi trend wacana psikologi di dunia Barat kini (khususnya Amerika), yaitu “psikologi Transpersonal”. Diakui atau tidak pendekatan ini diilhami oleh dunia sufisme yang berakar kuat dari sumber Islam (Hanna Djumhana Bastaman, 1997: 53).

Mempelajari paradigma psikologi Islam sebgaimana dalam Bab II, paling tidak, psikologi Islam di antaranya memuat hal-hal sebagai berikut:

Pertama, mempercayai bahwa hakikat manusia adalah fitrah, baik secara jasadi, nafsani (kognitif dan afektif), maupun ruhani (spiritual).

Kedua, mempercayai bahwa salah satu komponen terpenting manusia adalah qalb (hati nurani). Perilaku manusia tergantung kepada qalbunya yang secara fisik disebut mudghah. Pandangan psikologi Islami tentang kalbu berbeda dengan psikologi Barat yang dalam menjelaskan sesuatu selalu menggunakan pendekatan rasional (otak). Otak manusia menurut psikologi Barat adalah pusat kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Padahal sebenarnya manusia memiliki unsur-unsur psiko-spiritual meliputi al-‘aql, al-qalb, dan al-nafs. Unsur pembentukannya (elemen asalnya) adalah al-jism dan al-ruh.

Ketiga, psikologi Islami dibangun berdasarkan nilai tertentu, bukan netral etik. Kita percaya bahwa setiap aliran pasti dipengaruhi nilai tertentu. Psikoanalisis Freud banyak menggunakan pemikiran Darwin (misalnya manusia tidak lebih dari binatang). Behaviorisme Watson menggunakan rujukan filsafat empirisme (misalnya manusia semata-mata dipengaruhi oleh lingkungannya). Psikologi islami berangkat dari nilai-nilai Islam. Gagasan tentang ilmu yang netral etik, sebagaimana diungkapkan Gunnar Myrdal adalah khayalan belaka. Setiap ilmu berangkat dari nilai-nilai-nilai dan mengembangkan nilai-nilai.

B. Urgensi Psikologi Islam dalam Pendidikan Islam

Dari berbagai macam pengertian tentang pendidikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan di antaranya adalah proses belajar. Dalam perkembangan proses belajar, akan banyak hal yang melingkupinya. Seorang pendidik diharuskan untuk mengetahui kondisi batin dan kejiwaan anak didik. Mengabaikan aspek-aspek kejiwaan anak didik, maka dapat mengakibatkan kegagalan proses pendidikan. Dalam proses belajar ini, banyak hal yang berhubungan dengan aspek, jiwa, mental dan perlaku. Kesemuanya itu sebenarnya adalah bagian penting dari psikologi dalam pendidikan.

Psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sedangkan menurut ensiklopedia amerika, Pengertian psikologi pendidikan adalah ilmu yang lebih berprinsip dalam proses pengajaran yang terlibat dengan penemuan – penemuan dan menerapkan prinsip – prinsip dan cara untuk meningkatkan keefisien di dalam pendidikan (Muhibbin Syah, 2003: 7)

Objek kajian psikologi pendidikan tanpa mengabaikan persoalan psikologi guru terletak pada peserta didik. Karena hakikat pendidikan adalah pelayanan khusus diperuntukkan bagi peserta didik. Oleh karena itu objek kajian psikologi pendidikan, selain teori-teori psikologi pendidikan sebagai ilmu, tetapi lebih condong pada aspek psikologis peserta didik, khususnya ketika mereka terlibat dalam proses pembelajaran.

Menurut Glover dan Ronning bahwa objek kajian psikologi pendidikan mencakup topik-topik tentang pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, hereditas dan lingkungan, perbedaan individual peserta didik, potensi dan karakteristik tingkah laku peserta didik, pengukuran proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran, kesehatan mental, motivasi dan minat, serta disiplin lain yang relean (Danim dan Khairil, 2010).

Tujuan Pendidikan Islam, sebagaimana dijelaskan Jalaluddin (2003: 182) adalah sejalan dengan tujuan ajaran Islam yaitu membentuk akhlak yang mulia dalam kaitannya dengan hakikat penciptaan manusia. Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah budi pekerti. Dijelaskan bahwa budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam.

Sementara lebih luas lagi, Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menuju kesempurnaan manusia yang tujuannya adalah mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (Jalaluddin: 182).

Memperhatikan berbagai tujuan pendidikan Islam yang disampaikan tersebut, maka pendidikan Islam, sebagaimana juga konsep pendidikan secara umum, seluruhnya menempatkan aspek mental, jiwa dan spiritual sebagai bagian penting dalam pendidikan. Kesempurnaan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat menguatkan posisi aspek psikologi dalam pendidikan.

Psikologi pendidikan Islam dapat dipahami sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji atau mempelajari tingkahlaku individu, di dalam usaha mengubah tingkahlakunya yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.

Psikologi pendidikan Islam mencurahkan perhatian pada perilaku ataupun tindak tanduk orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dan mengajar atau orang yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Psikologi pendidikan Islam mempunyai dua objek, yaitu: Pertama, Peserta didik, yaitu orang-orang (individu) yang sedang belajar, termasuk pendekatan, strategi, faktor mempengaruhi dan prestasi yang dicapai. Kedua, guru (pendidik), yaitu orang-orang yang berkewajiban atau melakukan tanggung jawab mengajar, termasuk metode, model, strategi, dan lain-lain yang berkaitan dengan aktivitas penyajian pendidikan Islam (Tohirin, 2008: 11).

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik dalam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menetapkan metode pembelajaran serta tekni-teknik penilaian (Nana Syaodih, 1997: 46).

Dari sini dilihat urgensi pendidikan Islam dan Psikologi. Dalam kajian psikologi pendidikan selama ini, dasar-dasar psikologi yang dijadikan landasan tentu psikologi konvensional. Dalam pendidikan Islam, perlu dirumuskan tentang dasar-dasar psikologi yang nantinya dijadikan landasan berpikir bagi psikologi pendidikan Islam. Landasan psikologi yang dipergunakan oleh pendidikan Islam akan mengacu pada rumusan psikologi yang sesuai dengan teologi Islam.

Sebagaimana dijelaskan oleh Nana Syaodih di atas, terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pendidikan selama ini, yakni psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Dalam Islam perkembangan dan tahap-tahap pertumbuhan manusia telah dijelaskan secara detil, termasuk bagaimana, secara normatif, dijelaskan juga tentang proses pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap perkembangan tersebut. Misalnya tentang proses kelahiran anak, yang perlu diazani, tentang bagaimana pembelajaran shalat ketika anak belum dan telah baligh, bagaimana pergaulan ketika anak telah baligh, termasuk perlu dan tidaknya wali dalam pernikahan bagi anak perempuan gadis dan janda. Semua itu merupakan contoh kecil dari proses perkembangan yang akan memberikan kontribusi penting dalam psikologi perkembangan dan psikologi belajar dalam pendidikan Islam.

Daftar Pustaka

Abdul Mujib, et.al., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001)

Abdul Mujib, Konsep Fitrah; Tela’ah atas Struktur Kepribadian dalam Perspektif Islam, (Padang: PPs. IAIN IB Padang, 1997)

Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif al-Quran, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005)

Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011)

Achmad Mubarok, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern; Jiwa dalam Al Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2000)

Ahmad Rivauzi, Wawasan Studi KeIslaman; Memahami Universalitas Islam untuk Mendidik Pribadi dan Masyarakat yang Berkarakter Rahmatan li al-‘Alamin, (Ciputat: Sakata Cendikia, 2015)

Danim dan Khairil, Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru (Bandung Alfabeta, 2010).

Diningrat, Psikologi dan Masyarakat dalam Perspektif Islam, Terj. M.G. Husain, Psychology and Society in Islamic Perspective, (Karsidi Pustaka, 1996)

Hannna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami, Jogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997)

Muhibbin Syah, Psikologi Psikologi Pendidikan Dengen Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003)

Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997)

Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2007)

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008)

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2010)

LEAVE A REPLY